My Struggle

My Struggle
Semakin Rumit



Tyo POV Of


“Mau apa lagi wanita jal*ng itu kembali lagi” Tyo memukul stir kemudi ia takut Lia mengetahui itu semua pikirannya terus melayang kemana-mana.


***


“Ibu jangan dulu kemana-mana” Titah Mariam dia sangat khawatir majikannya kenapa-napa Mariam masuk ke ruang rawat Lia bersama Parjo.


“Bapak kemana Iam?” Tanya Lia


“Bapak pulang bu, beliau ada urusan mendadak” Jelas Iam berbohong karena memang sebelumnya Tyo memberikan perintah untuk tidak memberitahu Lia terlebih dahulu.


“Pulang? Sepenting itu kah?, oh iya Parjo kenapa kamu disini bukannya nganterin bapak?” Tanya Lia dia sangat heran momen yang Tyo nanti-nantikan dia malah pergi


“Anu nyonya tuan meminta saya untuk menjaga nyonya disini” Parjo tertunduk


Lia semakin heran pasti Tyo sedang menyembunyikan sesuatu, entah kenapa baru kali ini hati dan fikirannya berkata begitu.


“Iam aku mau pulang sekarang!!” Lia berniat untuk turun dari ranjang rumah sakit namun dihentikan Parjo.


“Maaf nyonya tapi keadaan nyonya belum stabil, mohon untuk tunggu dokter terlebih dahulu” Sergah Parjo


“Iya bu Parjo benar, ayo Parjo kamu panggil dulu dokternya” Titah Mariam


“Baik Iam, kamu dan nyonya tunggu disini” Parjo secepatnya memanggil dokter.


“Mana Iam aku juga ingin menggendongnya” Lia menjulurkan tangannya


Mariam memberikan Alisa pada Lia dengan sangat hati-hati.


“Kamu akan menjadi anak yang kuat sayang, kamu cantik seperti ibu” Lia terkekeh pelan dia mencoba mengajak Alisa kecil berbicara, Hati Mariam menghangat melihat moment yang mengharukan itu.


“Iam tolong jaga anakku dia permata kecilku jangan sampai dia kenapa” Entah kenapa naluri ke Ibuan Lia mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu padanya.


“Bu apa maksud ibu?” Tanya Mariam heran


“Maaf adakah yang bisa saya bantu” Dokter dan Parjo tiba-tiba datang dari belakang Mariam


“Maafkan saya nyonya bila pelayanan disini kurang memuaskan” Ucap kembali sang dokter


Padahal Rumah sakit itu sangat terkenal pada Jamannya, Tyo sudah memesan ruangan bahkan sampai rumah sakitnyapun dia pesan, jadi hari itu yang dirumah sakit hanya Lia dan tenaga medis lainnya yang siap membantu jika ada masalah.


“Pelayanan kalian sangat memuaskan terima kasih sudah menyelamatkan saya dan anak saya” Jelas Lia


“Saya mau pulang malam ini sekarang juga dokter apakah bisa?” Tanya Lia


“Baiklah nyoya karena keadaan nyonya sudah membaik dan anaknyapun sehat kalian bisa pulang, satu minggu lagi Nyonya harus balik lagi kesini untuk melihat perkembangannya atau bisa juga Nyonya meghubungi saya” Jelas dokter


“Dan jangan lupa selalu meminum obat dan makan makanan bergizi supaya cepat pulih”


“Baik dokter saya akan melakukannya demi anak saya” Lia memamerkan gigi rapihnya


Akhirnya mereka pulang dengan diantar Parjo, Lia selalu mendekap Alisa kecil dengan kehangatan dan kasih sayang yang ia berikan, dia belum menyangka bahwa hari ini dia sudah resmi menjadi seorang ibu.


**


“Rumini sudah kuduga kau ada disini? Kau mau apalagi? Belum puas kau meneror keluargaku selama ini” Tyo langsung memarahi Rumini tanpa ampun


Rumini berpura-pura sedih.


“Sayang apakah kamu tidak Ingat? Ini anak kita! Dia mau ayahnya sekarang” Ucap Rumini yang tidak tahu diri.


“Cuiih jangan pernah panggil aku seperti ini, mual aku mendengarnya dan apa tadi anaku?”


Jdeeeerrrr


Lia mendengar itu semuanya, seperti ada petir yang menyambarnya tas yang ia bawa langsung jatuh seketika untung Alisa kecil dibawa Mariam.


“Apa Pah?” Air matanya sudah menggenang


“Iya Lia dia juga anak dari Tyo, cantikan?” Rumini memamerkan anak yang sedang digendongnya


“Lia aku bisa jelasin semuanya sayang” Jelas Tyo sedikit berlri kearah Lia


Lia mundur dan memberhentikan Tyo untuk tetap disana, dia masih tidak menyangka setelah peristiwa yang menimpanya, hari kebahagiaanya digantikan dengan hari kekecewaan, Lia sangat marah, kesal, kecewa atas perbuatan Tyo selama ini dia selalu bersabar dan memepercayai suaminya namun kepercayaan itu telah membuatnya terluka cukup dalam.


“Sayang tolong dengarkan aku dulu” Ucap Tyo memohon sementara Rumini tersenyum melihat itu semua.


“Jangan pernah panggil itu lagi Tyo kau bukan suamiku lagi” Mata Lia memerah ada kekesalan yang bersarang disana


“Sayang aku mohon, aku bisa menjelaskan semuanya” Jelas Tyo kembali


Mariam ketakutan dan bingung dia terus berdiri dan mendekap Alisa kecil dibelakang Lia.


“Jangan panggil itu lagi” Bentak Lia perlahan airmatanya menetes


“Kepercayaanku selama ini sama kamu Tyo sudah gak ada gunanya lagi, kamu melukai aku dan anaku”


“Jangan pernah berharap kamu bisa menemukan aku ” Lia berlari keluar dan di ikuti Mariam


Tyo berusaha mengejar mereka namun Rumini mengancamnya jika Tyo berani mengejar mereka dia tidak segan-segan mencelakakan Lia dan Alisa kecil yaps dia bisa melakukan apapun yang dia mau, Tyo sangat prustasi dia langsung pergi kekamarnya dan menghubungi orang kepercayaannya.


**


“Nyonya Lia maafkan saya, saya harus pulang karena ibu saya sedang sakit” Ucap Parjo


“Tidakpapa Parjo pulanglah ibumu memerlukanmu, sudahlah sampai sini saja” Jelas Lia


Parjo mengantarkan mereka pulang dari rumah sakit namun ditengah jalan ada yang menghubunginya bahwa ibunya sakit, Parjo terpaksa menghantarkan majikannya hanya sampai gerbang utama.


“Tapi nyonya.._” Ragu Parjo


“Sudahlah biar tuan yang saya urus” Lia seperti orang yang sudah tahu apa yang dipikirkan Parjo.


“Mariam ayo turun disini, tolong bawa Alisa saya ingin memberikan kejutan pada Tyo” Ucap Lia berbinar


Tetapi setelah didepan pintu utama Lia mendengar percakapan yang membuat hatinya tersayat, dia buru-buru membuka pintu dan apa yang didengarnya sangat jelas, perkataan itu terus terngiang-ngiang dikepalanya.


**


“Bu, ibu tidakpapa?” Tanya Mariam, mereka sudah berada didalam taksi


Lia hanya terduduk lemas tanpa ekspresi, wajahnya sangat puccat pasi dia terlalu lemah untuk memikirkan masalah ini untuk sekarang.


“Bu, bu” Mariam terkejut dikaki Lia ada darah segar yang mengalir


Lia tersadar dan langsung melihat kebawah dia juga merasa kaget kenapa ada darah mengalir dikakinya. Lia buru-buru menggendong Alisa yang tampak tidur pulas, dari awal dia dilahirkan memang Alisa tidak banyak menangis asalkan ada yang menggendongnya pasti dia akan tenang.


“Ibu tau kamu kuat sayang, kamu akan menjadi wanita tangguh lanjutkalah perjuangan ibumu ini” Lia mencium kening Alisa dan memberikannya kembali pada Mariam karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk menggendongnya.


“Mariam kamu janji akan menjaga anakku” Nafas Lia sudah tersendat-sendat tapi ada senyum simpul terlukis dibibirnya


“Bu apa yang ibu katakan? Ibu yang harus menjaga nona Alisa” Mariam panik dan menyuruh supir taksi untuk secepatnya menuju rumah sakit.


“Tidak usah Mariam aku sudah tidak kuat lagi, berikan cincin ini pada anaku kelak siapa tahu Tyo membutuhkan bantuannya dikemudian hari Iam, bawa dia sejauh mungkin jangan sampai wanita jahat itu menemukan anakku, aku titip anakku” Lia menghembuskan nafas terakhirnya karena pendarahan hebat yang ia alami membuatnya tidak tertolong.


Mariam menangis, bingung apa yang harus ia lakukan, dia terus mendekap anak yang belum genap satu hari Alisa.


-


-


-


-


-Salam❤