My Struggle

My Struggle
Raka Dimas Pramana



Seperti biasanya mereka berempat melakukan aktivitasnya masing-masing.


“Ra, lo udah bangun belum?” Alisa mengetok-ngetok pintu kamar Rara


“Iya udah bawel sih lo, apaan hooaaam?” Rara baru saja bangun dari tidurnya


“Itu lo anter gue kepasar yu, ikut gak mungpung kelas kita kan nanti sore bareng juga sama si Zen?” Ajak Alisa


“Iya udah tunggu gue mau cuci muka dulu” Ujar Rara


Mereka berdua pergi kepasar dan seperti biasanya langsung memilih bahan makanan yang akan mereka beli.


“Eh tau gak ibu-ibu kafe yang suka buat nongkrong anak-anak sekarang tutup loh” ucap seorang ibu-ibu rempong


“Ah masa sih? Kemarin kan masih rame” timpal seseorang


“Tempat itukan bagus buat remaja masa kini, kenapa bisa tutup ya” tambah seseorang


Rara tidak sengaja mendengar semua pembicaraan ibu-ibu yang sedang bergosip tadi yang tidak jauh dari tempat Rara dan Alisa berbelanja. ( Biasa dong ibu-ibu kalo kepasar kebanyakan gossip, bukannya belanaj hehe becanda deng 😂 ) pikir author.


“Al lo denger gak tadi ibu-ibu lagi gosipin sesuatu” Ujar Rara


“Huusst Rara gak baik ngedengerin pembicaraan orang lain, lagian lo kaya orang yang gak ada kerjaan aja, mending bantuin gue” Titah Alisa


“Ini ceritanya lain Al, kafe yang buat kita nongrong sekarang ditutup” Jelas Rara


“Iya terus apa masalahnya sama kita Rara?” tanya Alisa


“Aduh Alisa kadang gue mikir kok lo bisa kadang pintar dan kadang ****, ini ya dengerin gue, kafe itukan tempat Pak Parjo bekerja nah kalau ditutup terus lo mau nyari dia kemana?” Tanya Rara kesal


“Bener yang lo bilang Ra terus gue harus gimana?” Tanya Alisa


“Muncul lagi nih ****, Alisa cepetan deh belanjanya kita harus mastiin kafe itu bener ditutup atau ngganya?” Jelas Rara


“Gue suka nih Rara yang pintar” Ujar Alisa


Mereka sudah selesai belanja dan menunggu angkutan umum untuk mereka kembali pulang.


“Eh bentar deh Al itu kayanya si Zen bener gak sih?” Mata Rara menyipit


“Kaya itu memang Zen deh Ra tapi dia mau kemana rapih banget kayanya” Timpal Alisa


Yang mereka lihat memang benar seorang Zenia yang akan pergi menemui seseorang dengan menggunakan taksi.


POV Zen


“Ka lo ada waktu gak sekarang?” Tanya Zen disebrang sana


“Ada apa? gue akan datang, lo sebutin aja tempatnya dimana gue kesana” Ujar seseorang


“Oke makasih” Zen menutup telponnya


“Duduk, kebiasaan banget sih lo telat Zen” kesal seseorang


“Iya maaf ka macet soalnya” Ujar Zen


“Lo kan bisa aja beli mobil berapapun yang lo mau secara penghasilan lo dari gamers dan penulis juga kan lumayan besar” Ujar seseorang kembali


Raka Dimas Pramana adalah sepupunya Zen dan seorang laki-laki yang tidak beda jauh umurnya dengan kakaknya itu. Zen selalu menumpahkan keluh kesahnya pada sepupunya dan Raka selalu siap menerima cerita-cerita Zen yang menurutnya sangat-sangat miris untuk didengar, setelah orang tuanya bercerai Zen memang sering mengunjungi sepupunya karena tidak ada lagi orang yang mau menegrti dirinya, hanya Raka yang mampu mengerti keadaan Zen bahkan kakaknya Aditya sudah tidak peduli dengan keadaan Zen pada waktu itu.


“Ada masalah apa?” Tanya Raka langsung


“Iya elah gak pesen makan dulu atau minum gitu?” tanua Zen balik


“Iya udah gue pesen minuman vanilla aja” ujar Raka


Zen memangil seorang pelayan


“Mbak tolong saya pesan dua minuman rasa vanilla” Ujar Zen


“Baik tunggu sebentar Mbak” Ujar sang pelayan


Setelah beberapa menit akhirnya minuman yang mereka pesan sudah sampai.


“Mending gak pesen makan lo Zen, lo kan paling rakus” Ledek Raka


“Yeeey gue bukan Zenia yang dulu kali, badan gue juga bagus kan sekarang” Cengir Zen


“Bagus dari mana kering kerempeng gitu” Celetuk Raka


“Kok gitu sih ka kesel deh gue sama lo” Cemberut Zen


“Iya-iya gue becanda Zen, Oh ya lo mau cerita apa sih?” Ucap Raka sambil meminum minumannya


“Alah kakak lo lagi, kenapa sih?” Tanya Raka asal


“Gue serius Ka” Ujar Zen


“Iya Zenia emang kakak lo kenapa lagi?” Raka mengulangi pertanyaannya


“Gue benci sama dia” Ujar Zen


“Gue kira dia berubah Ka tapi nyatanya gak akan pernah berubah, setelah beberapa tahun gue lost contact dengannya, kemarin gue terpaksa ngehubunginya karena darurat gue minta tolong dan gue kira kakak gue yang angkat tapi si asisten berengsek itu yang angkat gue kangen Ka sama kakak gue, tapi apa daya kaka gue udah gak peduli lagi sama gue bahkan sekedar bicarapun kayanya dia udah jijik banget sebenernya gue salah apa sih Ka?” Tanya Zen frustasi


“Lo gak salah Zenia, gue udah berkali-kali bilang yang salah itu keadaan bukan lo”Ujar Raka


“Apa keadaan yang selalu salah Ka? Apa keadaan juga gak bisa balikin kakak gue kaya dulu lagi?” Tanya Zen kembali air matanya sudah menggenang


“Entahlah Zen semua sudah ada yang ngatur, kita ikutin alurnya saja” Titah Raka


“Tapi sampai kapan Ka gue udah muak sama keadaan ini” Zen menyeka air matanya


“Tenangkan dirimu Zen, ada gue disini lo gak sendirian inget perkataan gue, kalau lo ada apa-apa langsung hubungin gue apapun itu bahkan jika lo butuh bantuan gue akan usahain semua itu untuk lo Zen” Ujar Raka


Zen terharu andai kakanya seperti Raka mungkin dia akan sangat beruntung memilikinya.


“Makasih ya Ka lo selalu ada buat gue” Zen kembali tersenyum


“Santai aja Zen, oh ya memangnya lo minta bantuan apa sama kakak lo katanya penting?” tanya raka


“Ceritanya panjang Ka yang penting waktu itu gue mau nyusul sahabat gue ke sebuah daerah terpencil gitu, ibunya belum lama ini meninggal” Jelas Zen


“Oh gitu ya turut berduka cita kalo gitu, mending lo punya sahabat segala” Ledek Raka, memang dari dulu raka belum pernah melihat teman atau bahkan sahabat-sahabtanya Zen.


“Iya gue juga gak tau pokoknya gue beruntung punya mereka, oh ya gimana kuliah lo di Amerika?”


“Baik-baik aja kok Zen semuanya lancar” Ujar Raka


Mereka mengobrol cukup lama sampai akhirnya Zen pamit untuk pulang karena sebentar lagi kelasnya akan segera dimulai.


Zen sangat bersemangat pergi kekampus serasa bebannya hilang untuk sementara waktu.


“Hai kalian baru datang ya?” Tanya Zen


“Iya Zen kami baru datang” Ucap lesu Alisa


“Heh Ra kenapa lagi tuh si Alisa?” Tanya Zen kembali


“Lo tau gak kafe yang sering buat anak-anak nongkrong itu tutup?”Jelas Rara


“Apa ditutup? Terus sama Pak Parjo itu gimana dong?” Tanya Zen


“Nah itu masalahnya sekarang ya sudah mending kita ke kelas masing-masing nanti kita bicarain lagi” Jelas Rara


POV Alisa, Rara


“Ra ayo cepetan kita harus mastiin sekarang” Ujar Alisa


“Iya-iya” Ujar Rara


Dan benar saja setelah sesampainya mereka disana kafe itu ditutup.


“Al tuh kan gue bener terus kita gimana dong?” Tanya Rara


“Mending kita tanya sama orang yang punya toko itu saja” Ujar Alisa, disebrang kafe itu memang ada toko buku yang buka 24 jam


“Permisi” Ujar Alisa


“Iya nona ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang punya toko


“Maaf pak kami mau numpang tanya kalau kafe disebrang sana memang benar ditutup ya?” tany Alisa


“Benar nona dua hari kebelakang kafe itu sudah ditutup” Jelasnya


“Bapak tau pelayan yang bernama Parjo” Tanya Rara


“Yang saya tahu nama Parjo itu pemilik kafenya non ada apa ya” Tanya sang pemilik


“Begini pak kami ada perlu sama beliau apa bapa tahu tempat tinggalnya?” Tanya Alisa


“Wah saya kurang tahu non” Jelasnya


“Iya sudah terima kasih pak, kami permisi” Ujar Rara


Sepulang dari sana Alisa terus murung, harapan satu-satunya tidak ada lagi.