
“Nona bagaimana ini keadaan tuan Tyo sepertinya memburuk” Jelas Parjo
Mereka masih berada didalam Jet pribadi.
“Sebentar paman Alisa akan mengecek ayah dulu”
Alisa berusaha melakukan pertolongan pertama pada ayahnya dengan alat yang seadanya.
“Bagaimana nona?” Parjo sangat menghawatirkan tuannya.
“Jangan terlalu khawatir paman, beristirahatlah biar Alisa yang merawat ayah untuk sementara ini ayah hanya kelelahan saja mungkin karena kita membawanya terlalu jauh” Jelas Alisa
“Kenapa bisa sampai begini nona? Paman sangat sedih melihat keadaan tuan Tyo sekarang”
“Bibi rumini yang melakukan ini paman” Pandangannya menerawang dia menceritakan apa yang dijelasakan oleh dokter Jorg dia merawat pasien yang banyak kejanggalan dan menceritakan apa yang dijelaskan oleh paman Adam bahwa Rumini sering memberikan obat berkadaluarsa, ataupun dosis yang berlebihan dan kadang tidak diberi obat sama sekali.
“Dasar wanita biad*b”
“Paman sudah tidak mengerti lagi dengan pola pikir wanita itu selicik dan sejahat itu” Parjo mengusap wajahnya gusar ada rasa dendam yang masih bersarang dalam dirinya.
“Sebentar paman Alisa akan menelepon seseorang”
“Maaf dok apakah pagi ini bisa terbang ke New York?” Tanya Alisa
“Maaf dokter Alisa, saya masih di Malaysia apakah ada keadaan yang mendesak oh ya bagaimana keadaan tuan Tyo saya butuh perkembangannya malam ini juga” Jelas disebrang sana
“Maaf dok saya akan menjelaskan ini semua tetapi tuan Tyo berada bersama saya beliau harus mendapatkan perawatan secepatnya”
“Baiklah saya akan usahakan untuk kesana hubungi lagi saya dan sebutkan rumah sakitnya”
Jauh sebelum Alisa ke Indonesia dan berniat bekerja di RS Permata dia sudah lebih dulu mendaftar di RS New York dan setelah beberapa hari kebelakang dia mendapat informasi bahwasanya dia diterima dan membawa ayahnya ke New York itu salah satu rencananya dan bekerja samapun dengan RS New Yorkpun sudah dari awal ia rencanakan.
Fajar telah tiba Alisa langsung memesan satu Ambulan untuk menuju RS yang akan ditujunya.
Dokter Jorg sudah ada di RS yang Alisa sebutkan mereka berada diruangan dokter khusus bedah.
“Sebenernya apa yang terjadi pada tuan Tyo?” Tanya Jorg
“Panjang dok, ini laporan perkembangan dari hasil kemarin, semakin hari keadaannya semakin memburuk, istrinya yang bernama Rumini selalu memberikan obat yang kadaluwarsa, dosis berlebih bahkan tidak memberikan tuan Tyo obat” Jelas Alisa
“Tahu dari mana anda dokter Alisa? anda jangan menuduh seseorang tanpa bukti anda bisa terkena pasal berlapis dan waktu pagi ini saya mendengar dari pihak keluarga bahwa tuan Tyo sudah tiada” Selidik Jorg
“Dan kenyataannya beliau ada disini maksud dokter apa?” Tanya Jorg
“Dokter waktunya sudah sangat sedikit telat beberaapa menit ayah saya tidak akan tertolong hanya anda yang bisa membantunya saat ini karena telah merawat pasien ini bertahun-tahun”
Jorg mengerti dia, Alisa dan beberapa dokter Ahli bedah lainnya memasuki ruang oprasi. Parjo masih setia diluar sampai 10 jam lamanya.
**
Pemakaman Tyo palsu sedang berlangsung kedua security yang berjaga waktu itu tidak menceritakan apapun karena mereka juga tidak ingat apa-apa namun mereka hanya mengingat ada yang memukulnya dari belakang.
Bela tidak bisa berhenti menangis walaupun ayahnya tidak pernah menyayanginya sejak dulu namun Bela sangat menyayangi ayahnya ya walapun sebenarnya ayah tiri. Berbeda dengan Rumini dia sudah mendapatkan apa yang ia mau gelimang harta, tubuh seksi.
**
Aditya masih saja terus sibuk dengan pekerjaannya Ken sudah pasrah untuk apa yang akan terjadi nantinya.
Sementara Zen terus-terusan memikirkan bagaimana cara agar sahabatnya keluar dari RS Permata RS milik ayahnya.
**
Dua hari berselang Alisa, Parjo dan Jorg masih setia menunggu Tyo siuman.
Mereka sedang berada di taman RS yang sangat luas dan Rindang
“Maaf sebelumnya Dokter Alisa kenapa tuan Tyo anda sebut dengan ayah?” Tanya Jorg karena dia sudah lama ingin menayakan hal itu.
“Saya sangat kagum denganmu dokter Alisa, dokter masih muda, pintar dan lulusan univ terkenal di New York tapi saya juga turut berduka atas kejadian buruk yang menimpa dokter semua sudah kehendaknya” Seru Jorg
“Ya begitulah kehidupan saya dok, selanjutnya saya hanya ingin saya dan ayah saya bahagia itu saja” Alisa menerawang namun dia dikagetkan dengan suara sirine ambulan yang menandakan darurat dia melihat sekilas wajah pasien itu, Alisa tahu betul siapa itu dan langsung berlari menuju pasien namun orang itu langsung masuk ruangan UGD.
“Nona ada apa?” tanya Parjo
“Apakah saudara dokter?” Tanya Jorg
“Bukan itu ayah angkat saya semasa saya sekolah disini, sudahlah nanti saya akan kesini lagi”
Alisa dan Jorg langsung keruangan khusus dokter sementara Parjo meuju ruang rawat Tyo.
“Dokter apakah tidak sebaikannya ke Indonesia?” Tanya Alisa
“Doker sendiri?” Tanya Jorg
“Saya sudah melakukan resign dari sehari sebelum saya kesini” Jelas Alisa tersenyum
“Benarkah? Sayapun begitu istri saya orang Inggris beliau meminta saya untuk bekerja saja disana” Jelas Jorg
Padahal Jorg adalah salah satu orang yang berjasa di RS Permata.
“Dokter yakin? Menurut saya kesempatan kedua itu jarang ada loh”
“Saya malahan bersyukur banyak kesempatan-kesempatan yang selalu berpihak pada saya”
“Sebentar lagi saya harus kebandara, saya tunggu kabar baik dari ayahmu, oh iya ini alamat baru saya mungkin anda bisa berkunjung suatu saat nanti” Jorg membawa jasnya dan langsung meninggalkan Alisa.
“Cstle Combe?” Alisa melihat sekilas alamat itu dan langsung menyimpannya disaku jasnya dia bergegas untuk ke ruangan ayahnya namun langkahnya terhenti dia melihat seseorang yang ia hafal.
“Maaf sus pasien yang baru saja tadi masuk UGD bolehkah saya melihat biodatanya?” Tanya Alisa dalam bahasa Inggris
“Apakah dokter ini keluarganya?” Tanyanya
“Ya”
Perawat itu langsung memberikan sebuah berkas yang dimiliki ayah angkat Alisa
“Tidak salah lagi ini aya Jordan” Batinnya bergema
“Jantung?” Alisa heran selama ia tinggal bersama Jordan dan Cristy ayah angkatnya itu tidak pernah menceritakan perihal penyakit yang dideritanya
“Iya menurut riwayatnya tuan ini memiliki penyakit jantung akut” Jelas suster
“Apa akut? Suster kemana dipindahknnya pasien ini?” Tanya Alisa
“Pasien ini sudah dipindahkan ke ruang 234”
“Baiklah saya akan kesana”
Bimbang, ragu, sedih, cemas selalu menyelimuti dirinya namun entah kenapa untuk sekarang ini air matanya tidak turun, dia terlalu lelah, dan selalu begitu.
Kedua ayahnya sekarang sedang sekarat, jiwanya entah kemana Alisa terduduk dibanggu tunggu pasien raganya sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.
Tidak ada sandaran baginya, sahabat-sahabatnya entah kemana tidak ada yang peduli.
“Al-Alisaa" Teriak seseorang
-
-
-
-Salam❤