
Alisa terus memandangi pemandangan dari kaca kereta yang sedang ditumpanginya, entahlah memang dia sedang menikmati perjalanan atau melamunkan suatu hal.
( Aduh gue baru inget gue kan harus cari kerja buat biaya kuliah gue ) Alisa menepuk jidatnya yang datar
Dalam beberapa Jam Alisa sudah sampai di alamat yang dituju.
( Hmm kaya di kampung gue ) Pikirnya, Alisa menghirup udara yang masih segar dan bersih jauh dari polusi kendaraan.
Alisa terus menanyakan alamat pada penduduk disana, dan dia menemukan rumah seperti punya Alisa sederhana tapi dia bisa melihat kehangatan didalamnya.
Tok-tok-tok
“Permisi pak” Ujar Alisa
Parjo membukakan pintu dan terkejut siapa yang bertamu dirumahnya itu, dia langsung menutup pintu tetapi Alisa bisa menahannya karena walpun parjo laki-laki apa daya tenaganya sudah lemah karena sudah lumayan sepuh.
“Pak sebenarnya saya cuman mau nanya sesuatu tunggu sebentar saya tidak akan melukai bapak” Ujar Alisa
“Mending nona pulang sekrang takut ada korban selanjutnya” Ujar Parjo
“Apa korban?” Alisa bisa membuka pintu dengan lebar
“Maaf pak tolong jelasin semuanya setelah itu saya tidak akan pernah kesini lagi” Ujar Alisa
“Baik lah masuk waktumu tidak lama” Akhirnya Parjo mengijinkan Alisa masuk dan Parjo buru-buru menutupkan pintunya kembali
Alisa heran dengan gerak-gerik Pak Parjo seperti orang yang ketakutan.
“Sebenarnya nona mau apa jauh-jauh kesini?” Tanya Parjo
“Ini pak maaf” Alisa memberikan secarik kertas dari mendiang ibu angkatnya
“Sudah saya duga” Parjo memandang kosong kedepan
“Apa maksud bapak?” Tanya Alisa
“Nona memang anak dari tuan Tyo dan Nyonya Lia” Ujar Parjo
“Jadi benar yang dikatakan teman saya pak” Air mata Alisa sudah menggenang ia tidak habis pikir kenapa ayahnya tidak mencarinya selama ini
“Mungkin, bapak tidak bisa menjelaskan semuanya” Parjo langsung beranjak dari kursinya tetapi Alisa memegangi tangannya.
“Pak apa bapa tega sama saya? Ibu dan ayah saya di kampung sudah meninggal” Ujar Alisa, sedikit terisak itulah yang didengar Parjo
“Ayahmu belum meninggal non” Ujar Parjo tanpa memandang kearah Alisa
Alisa bangkit da nada sedikit amarah yang bergejolak dihatinya
“Ayah saya sudah meninggal dan gak akan pernah hidup lagi” Alisa langsung keluar rumah Parjo, tetapi Parjo menanhannya dan memberikan sebuah alamat.
“Datangilah alamat ini nona dia akan akan memberi jawaban atas pertanyaanmu, dan sampaikanlah salam bapak pada ayahmu” Jelas Parjo
“Baiklah” Alisa langsung pergi.
Alisa terus menangis dan mengerutuki nasibnya kenapa dia lahir dari orang tua yang tidak bertanggung jawab apalagi ayahnya yang masih hidup tidak berusaha untuk mencarinya.
Sampai dia menyadari dia berada di sekitar pemakaman.
( Loh loh gue dimana ) benak Alisa, dia seperti linglung tidak tau arah jalan pulang
Dan dia melihat seseorang yang tertidur di atas pemakaman, Alisa menghampirinya mungkin dia bisa membantunya pikir Alisa
“Mbak maaf mbak” Alisa menggoyang-goyangkan tubuh orang tersebut, tetapi tidak ada reaksi
Alisa membalikan badannya dan ternyata itu Zen, ya Zenia sahabatnya Alisa
“Iya ampun ini si Zen kan?” Dia sangat panic kenapa sahabatnya itu ada ditangh-tengah TPU
“tapi kenapa dia ada disini bukannya dirumah sakit?”Ujarnya kembali
Alisa memapah Zen yang pingsan unstuk segera mencari pertolongan, beruntungnya ditengah perjalanan ada yang menolong mereka orang itu adalah Rani anak pembantu dirumah tuan Sanjaya.
Rani menawarkan Alisa bantuan agar temannya diistirahatkan dirumahnya saja, Rani belum menyadari Zen adalah cucu dari tuannya.
“Ayo nona silahkan masuk” Ajak Rani
“Terima Kasih mbak” Ujar Alisa
Dari dalam rumah datanglah seorang nenek yang sudah tua renta dan langsung menanyakan masalah yang terjadi kepada Rani. Alisa berfikir mungkin itu adalah ibunya karena Ranipun sudah berusia paruh baya.
“Nona Zenia benarkah itu non?” Tanya sang nenek sambil mengelus pipi Zen
“Nenek tau sahabat saya?” Tanya Alisa
“Lebih baik nona antar dulu nona Zenia ke kamarnya nenek akan jelaskan semuanya nanti” Ujar sang nenek
“Ran siapkan makanan dan air hangat nona ini juga butuh istirahat dan makan” Ujarnya kembali
“Baik bu” Ujar Rani
“Terima kasih nek” Ujar Alisa
“Jangan sungkan-sungkan” Ujar nenek
Alisa membaringkan Zen diatas kasurnya yang empuk, kamar yang bernuansa pink tidak mencerminkan kepribadian seorang Zenia yang tomboy.
Alisa melihat-lihat foto jadul, dia berfikir itu mungkin foto Zen dan kakaknya Adit.
Tok-tok-tok
“Maaf nona maknnya sudah siap” Ujar Rani
“Terima kasih mbak” Ujar Alisa
“Ayo nona silahkan makan maknannya nenek tau kamu lapar” Ujar nenek
“Loh nenek ayo, mbak ayo duduk bareng saya” Ujar Alisa
Nenek dan anaknya itu malah tertunduk, seperti ada sesuatu yang mengganjal
“Sudah lah nek, mbak ayo duduk saya gak bisa makan kalau begini” Alisa bangkit dan menarik dua kursi untuk mereka
“Baik lah non terima kasih sebelumnya” Ujar Rani
“Loh inikan rumah kalian masa saya yang seperti ratu, eh dan saya Alisa” Alisa lupa memperkenalkan dirinya
“Bukan nak ini bukan rumah kami, ini rumah nona Zenia” Jelas sang nenek sementara Rani terus menunduk
“maksud nenek apa? kenapa ini bisa begini” Ujar Alisa dengan terus mengunyah maknannya
“Sebenarnya nenek hanya pembantu disini dan ini anak nenek satu-satunya, nenek hanya menjaga dan merawat rumah ini atas perintah tuan sepuh” Jelas nenek
“Tuan sepuh?” Tanya Alisa
“Tuan sepuh adalah kakenya Zen beliau sudah meninggal 25 tahun yang lalu, dan nenek sudah bekerja disini selama 30 tahun” Jelasnya
Uhukuhukuhuk
“30 tahun nek?” Tanya Alisa dia sudah tidak selera untuk menghabiskan makannanya karena penasaran dengan cerita sang nenek.
“Iya selama itu pula nenek menyaksikan berbagai drama yang bermunculan dirumah ini, tuan sepuh sebenarnya meninggal karena sakit-sakitan setelah mendengar tuan Pramana ayahnya Zen meninggal”
“Tapi yang saya tau mereka tinggal dikota A kan nek” Ujar Alia
“Itu semua memang benar nak, memang tuan sepuh mempunyai perusahaan di kota A dan dilanjutkan oleh anaknya, setelah 2 tahun kepergian tuan permana tuan sepuh mulai sakit-sakitan dan meninggal setelah mendengar anaknya juga meninggal yang tak wajar” Jelasnya
“Bukannya ayahnya zen meninggal karena depresi nek?” Tanya Alisa
“Nenek kurang yakin nak, tetapi setelah polisi menyelidikinya, ini seperti kasus pembunuhan berencana dan pelakunya sampai saat ini tidak bisa ditemukan makannya penyelidikannya terpaksa dihentikan” Jelasnya
Nenek terus menjelaskan semuanya kepada Alisa, dan Alisa juga baru mengetahui sekarang bahwa Zen tidak setomboy sekarang sang kakak pun sama dia berubah setelah kepergian orang tuanya, yang bersikap seperti iblis berdarah es
-
-
-
-
-Salam hangat ❤