
Tidak terasa Alisa sudah enam bulan lamanya menetap dikota A dan selama itu pula ia kuliah disana, dia sangat merindukan ibunya dan ia merasa sudah bertahun-tahun tidak mengunjunginya karena terkendala biaya.
Tuuutt Alisa menelepon seseorang disebrang sana dan akhirnya berhasil tersambung.
“Halo bu, ibu apa kabar?” Tanya Alisa
“Ibu baik-baik aja nak, kamu bagaimana? Sudah makan? Tugasnya sudah dikerjakan?” rentetan pertanyaan dari sang ibu membuat Alisa sangat merindukannya
“Ibu ini sudah malam, Alisa tidak pernah begadang, Alisa juga selalu mengerjakan tugas setelah pulang dari kampus, itukan perintah ibu” Jelas Alisa
Ibunya merasakan bahwa Alisa sangat kesal jika sudah disuruh-suruh seperti anak kecil
“Itu jugakan untuk kebaikan kamu nak, jaga diri baik-baik, duniamu akan semakin keras sayang, ibu sudah tua, ibu yakin kamu sudah dewasa Alisa, bukan anak kecil yang harus ibu suruh-suruh lagi” Jelas sang Ibu
“Ibu kok ngomongnya gitu sih, memang Alisa sudah besar bu, tapi Alisa tetap anak kecil ibu yang kadang harus disuruh-suruh dan harus dinasehati Alisa masih butuh itu semua bu, dan apa maksud ibu duniaku makin keras?” Tanya Alisa
“Nak suatu hari kamu akan mengerti, dengerin ibu kamu janjikan akan bahagia?, kamu juga janjkan tidak akan pernah menyerah, seperih apapun kamu kedepannya jangan pernah menangis nak, kamu harus janji sama ibu dan ayah, Oh ya kotak yang berisi kalung dan uang masih kamu simpan kan nak?” Tanya sang ibu
“Bu ibu apa-apan sih kaya yang mau pergi jauh aja, Alisa akan selalu mendengarkan perkataan ibu, Alisa akan penuhi janji Alisa kepada ibu dan ayah, kotak itu belum pernah Alisa sentuh kok bu, Alisa gak akan pernah menggunkannnya”Ujar Alisa
“Nak ibu harap kamu pakai ya, itu pemberian terakhir ibu, nak ini sudah malam ibu istirahat dulan kamu jangan malam-malam” ujar ibunya
“Bu inikan masih jam 21.00 belum terlalu malam, lagian Alisa masih kangen sama ibu” Rengek Alisa
“Alisa ini sudah malam besok kamu ada kelas pagi kan, jadi harus bangun pagi-pagi awas jangan sampai terlambat” titah ibunya
Benar apa yang dikatakan ibunya besok dia ada kelas pagi dan mungkin ibunya perlu istirahat dia gak boleh egois hanya karena dia sangat merindukannya, dia juga bisa menelepon ibunya lain waktu.
“Iya-iya Alisa juga mau tidur sekarang kok takut besok Alisa terlambat, ibu sehat selalu” ujar Alisa
“Ibu akan selalu sehat nak, sudah ya”
Sambungan terputus, Alisa langsung tidur tidak lupa untuk berdoa.
Sang surya telah terbit menunjukan kehebatanya untuk menerangi alam, Alisa belum juga terbangun, dan tersadar setelah mendengar gedoran keras dari sahabatnya Rara.
“Alisaa cepetan bangun lokan ada kelas pagi” Teriak Rara
Alisa menggeliat dan langsung melihat jam
“Aduuh gue telat niii” Alisa langsung lari kekamar mandi
“Pasti kesiangan nih anak, kebiasaan banget sih lo Al kalau udah telopnan sama ibu lo aja suka kesiangan” ujar Rara
Rara kembali kekamarnya, karena memang kelasnya kelas sore untuk hari ini
(Aduuh semoga belum ada dosen yang masuk) pikir Alisa, Dan benar saja untung dosennya belum masuk Alisa bisa bernafas lega.
Kelas Alisa berakhir dia segera pulang untuk mengerjakan tugas-tugasnya kembali.
“Hai lo udah selesai Al” ujar seseorang dari belakang
“Adam,adam ya sudah lah lo gak liat gue udah keluar” ujar Alisa sambil mencari sesuatu di dalam tasnya
“Yee lo sinis banget sih Al kalo sama gue” Ujar Adam
“Gue bukannya gimana Adam gue sibuk, duluan ya” Alisa menepuk pundaknya Adam
“Andai lo tau Al perasaan gue” Adam langsung menuju ke kelasnya.
Alisa sudah sampai dikosnnya dan mendapat panggilan mendadak dari seseorang
( ini siapa, kayanya nomor baru gue angkat deh siapa tahu penting) pikir Alisa
“Al Alisaaa ini kamu kan?” suara khawatir terdengar jelas oleh Alisa
“Iya dengan saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya?” tanya Alisa
“Ini dengan paman nak ayah Rara, ibumu sakit dia kritis sekarang masih diperiksa dokter, sebenernya paman berat memberitahumu karena ibumu melarang paman untuk memberitahu kamu Al, dia gak mau membuatmu khawatir tapi paman juga bingung Al, paman takut telat memberi tahu mu” Jelas sang paman
“Apa paman? Ibu sakit? Tapi kemarin malam ibu sehat-sehat aja paman” Air mata Alisa berjatuhan
“Paman juga kurang tahu Al, tapi tadi pagi-pagi waktu paman kerumah mu ibumu sudah pingsan jadi paman memutusan untuk membawanya ke puskesmas terdekat makannya paman baru sekarang memberitahu mu maafkan paman nak” Jelas paman
“Ti tidak papa paman, terima kasih sudah menjaga ibu selama Alisa disini secepatnya Alisa akan pulang” Jelas Alisa
“Paman tunggu nak” ujar pamanya
Tuuuutt sambungan terputus. Alisa masuk kedalam kamarnya dan menangis tersedu-sedu disana.
“Kenapa bu kenapa ibu sakitt, ibu juga sudah berjanji kepada Alisa ibu akan selalu menjaga kesehatan ibu sendiri” Alisa terus menangis dan menangis
Matahari sudah mulai terbenam Rara dan Zenpun bahkan sudah pulang dari kampusnya.
“Rara” seseorang telah mengetuk pintu kamarnya
“Iya sebentar, eh lo Zen ada apa?” tanya Rara
“Ini Ra gue bawain nasi goreng tadi ada yang keliling jadi gue beli deh, dan gue inget pasti lo dan Alisa belum makan” Uzar Zen
“Aduuh loh kok baik banget sih makasih ya” Ujar Rara
“Eh si Alisa kemana ya tadi gue panggil-panggil gak ada yang nyahut?” tanya Zen
“Gak tau gue mungkin lagi tidur deh” Jawab asal Rara
“Masa sih tidur, kata ibu gue dulu katanya pamali tidur diwaktu petang begini” Ucap Zen
“Iya juga ya mending kita cek aja” Rara menutup pintu kamarnya dan bergegas menuju kamar Alisa
“Aaaal ini gue sama Zen” teriak Rara
“Iya iya maafin gue” cengir Rara
“Aaalllliiii” Rara membuka pintu kamar Alisa yang tidak terkunci dan melihat Alisa seperti orang gila, acak-acakan, ingus dimana-mana dan Alisa masih saja menangis dari tadi siang.
“Iya ampuun Alisa lo kenapa” Zen langsung memeluk Alisa
“Al lo cerita sama kita lo kenapa” ujar Rara
Alisa hanya diam dan diam, pandangannya kosong entah apa yang ia pikirkan
“Sudah Rara sana ambil air minum dulu” titah Zen
Alisa sudah terlihat tenang tetapi pandangannya tetap kosong
“Alisa lo makan dulu ya, gue bawaain nasi goring nih buat lo” ujar Zen
“Iya Al kita makan bersama lagi” Ujar Rara
Alisa masih tidak bergeming dia terus memeluk lututnya
“Ra mending kita pulang dulu biar Alisa tenang besok kita kesini lagi” ujar Zen
“Iya sudah kita pamit dulu Al makan ya nasinya takut mubazir kalo gak dimakan” Ucap Rara
Rara dan Zen sudah berada diluar kamar Alisa
“Rara tunggu dulu deh gue mau nanya, lo tau gak sih si Alisa kenapa ya? Baru ngeliat gue dia kaya gitu” ujar Zen
“Iya gue juga bingung tapi tunggu dulu deh” Rara coba mengingat-ngingat sebuah peristiwa yang membuat Alisa sehisteris seperti sekarang ini
“Oh ya gue baru inget si Alisa pernah kaya gitu waktu ayahnya meninggal” ujar Rara
“Mungkin gak ya dia inget ayahnya lagi” Tanya Zen
“Mungkin” Ujar Rara
“Iya sudah gue duluan ya, gue pulang” Ujar Zen
“Lo nginep aja disini gue khawatir sama tuh anak sejak 17 tahun kebelakang dia gak pernah kaya gitu Zen”Ujar Rara
“Ya udah gue nginep deh kalo gitu” Zen akhirnya menginap di kamarnya Rara
Pagi buta Alisa sudah beres-beres dan pergi meninggalkan kosannya dan menuju ke sebuah stasiun dengan jurusan pagi.
Kriiiing-kriiing sebuah panggilan masuk di ponsel Rara
“Iya Halo siapa” Rara masih setengah terpejam
“Ini ayah nak cepetan bangun, ibu Alisa sudah gak ada”Ujar Ayahnya
“Apaaa ayah?” Rara langsung membulatkan matanya dan langsung loncat dari atas kasurnya
“Ibunya Alisa meninggal nak, ayah sudah menghubungi Alisa tapi tidak bisa, ayah takut Alisa nekat nak” Ujar sang ayah
“Iya-iya yah Rara akan membujuknya sudah dulu ya Rara mau liat Alisa” Ucapnya dan mematikan teleponnya
“Allll, Alissa” Rara mengedor-gedor pintu dan pintunya terkunci
“Cari yang punya kamar ya? Dia sudah pergi bawa tas tadi pagi-pagi lumayan lah sudah satu jam berlalu” Ucap tetangga kamar Alisa
“Apa satu jam yang lalu? Terima kasih atas informasinya” Ujar Rara
“Zen, Zenia ayo bangun Alisa gak ada” Ujar Rara
“Paling dia kepasar Ra” Zen belum sepenuhnya sadar
“Gak lucu Zen Alisa pasti pulang kerumahnya cepet kita susul, ibunya meninggal” Ucap Rara
“ Apa lo bilang?” tanya Zen
“Sudah kagetnya nanti aja, lo sekarang telepon Adam beritahu sebenarnya, syukur-syukur dia mau nganterin kita, gue mandi dulu” ujar Rara
“Oke gue kesana” ucap Adam dari sebrang sana
“Rara lo udah selesai lagi?” tanya Zen
“Gak ada waktu Zen kadang dia suka nekat makannya gue nyuruh lo nginep takut terjadi apa-apa sama dia” jelas Rara
“Iya sudah gue juga mau mandi sambil nunggu Adam” Zen ngeloyor ke kamar mandi
Adam,Zen dan Rara mencari-cari Alisa sudah ke bandara, terminal dan pencarian mereka berakhir di stasiun.
“Maaf pak penumpang jurusan kereta api pagi ini ada yang bernama Alisa Prasetyo Putra?” tanya Adam
“Sebentar saya cari dahulu” ucap petugas
“Iya nama itu sudah berangkat dengan jurusan kereta api pagi 1 jam yang lalau dek” ucap petugas
“Terima kasih pak, apakah ada jurusan pagi lagi?” tanya Adam lagi
“Wah tidak ada dek paling nanti siang abis dzuhur” Ucap petugas
“Iya sudah ya pak terima kasih” Ujar adam
“Sudah lah Dam kita sudah terlambat”Ujar Rara
“Tidak ada yang telambat Ra, ayo kalian ikut gue” Ajak Zen
Zen menelepon seseorang dan kelihatannya sangat penting.