My Struggle

My Struggle
Beasiswa Luar Negeri



Satu tahun berlalu.


Alisa tidak pernah mencari ayahnya lagi menurutnya dia harus mengikuti alurnya tanpa berniat mengubahnya, dia juga masih bekerja di restaurant ibunya Raka.


Alisa dia juga kehilangan satu sahabatnya, setelah pertemuan terakhirnya waktu direstauran Zen menghilang tanpa jejak, sudah beribu kali Alisa menghubungi sahabatnya itu tapi tidak berhasil.


Rara sangat menyesal dan dihantui dengan rasa bersalahnya karena telah berbicara yang tidak-tidak pada Zen dan telah menuduh kakanya yang mencabut beasiswa Alisa.


Kelas Alisa sudah berakhir dan dia akan langsung menuju restaurant tempat dimana ia bekerja, ibunya Raka mengerti bahwa Alisa masih kuliah.


“Alisa, kamu dipanggil rektor sekarang juga” Ucap dosen ramah


“Baik bu, segera saya kesana terima kasih bu” Ujar Alisa dan langsung menuju ruang rektor


Alisa sangat gelisah sudah kedua kalinya dia dipanggil rektor


“Saudari Alisa?” Tanya Pak Rendy


“Iya pak dengan saya, ada perlu apa ya pak?” Tanya Alisa


“Begini saudari Alisa setelah saya mencari informasi tentang anda, saya sangat kagum dengan prestasi yang sudah ditorehkan dikampus ini kenapa anda tidak mengambil beasiswa saja?” Tanya Pak Rendy


“Dulu saya kekampus ini dengan jalur beasiswa pak tapi saya juga tidak tahu masalahnya bagaimana tapi beasiswa saya dicabut begitu saja dari pihak kampus” Jelas Alisa


“Sangat disayangkan padahal kamu sangat pintar dan juga cekatan” Puji Rektor


“Iya sudah singkat saja saya hanya memberi tahu anda, bahwa ada program beasiswa di Amerika apakah kamu mau?” Tanya Rektor


Alisa sangat tercengang dengan tawaran sang rektor dia seperti bermimpi di siang bolong.


“Gimana kamu mau?” Tanya rektor kembali


“Saya mau banget pak, tapi…” Ucap Alisa Ragu


“Pihak kampus yang akan mempersiapkan semuanya anda tidak usah khawatir” Seakan sang rektor sudah mengetahui isi pikiran Alisa


“Kamu tinggal selesaikan dua semester lagi dan ngelanjutin S2 mu disana” Ujar kembali sang rektor


“Baik pak, terima kasih” Ucap Alisa sumringah


( Kenyataanya tidak semudah itu ya wkwkwk) Batin Author


“Woy lo dari tadi gue perhatiin kaya orang gila tau gak senyum-senyum sendiri” Ujar Rara


“Yee lo siriik banget sih liat orang bahagia dikit” Alisa mendelik kesal


“Iya deh iya maaf ada ap sih?” tanya Rara


“Gue dapet biasiswa ke Amerika Raraaa” Ucap Alisa riang


“Apa Ameeerikaaa aaaa gue pengen ikuuut” Ujar Rara


“Gak, sekarang biar gue sendiri kesana gue gak mau bawa-bawa sahabat tengil kaya lo” Ejek Alisa


“Alisaa awas lo ya” Rara mengejar-ngejar Alisa


“Eh tunggu deh Ra”


“Apa lo mau kabur dari gue”


“Ngga gue mau tanya perasaan gue gak pernah liat si Bela and the gang bener gak sih?”


“Iya gak tau gue dari semester kemarin katanya dia udah pindah, emang kenapa lo nanyain si nenek lampir?


“hm jangan gitu loh Rara dia juga kan kakak gue”


“Iya tapi masa sih kakak ngebully adik sendiri”


“Iya kan dia gak tau sebelumnya,”


( Gue penasaran lagi apa, seperti apa ayah gue dan gimana keadaannya ) Alisa gusar dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya tetapi dia lebih mementingkan egonya sendiri.


Hari ini sudah tidak terasa dua semester telah Alisa lalui dengan mudah.


“Alisa lo harus inget gue ya” Ujar Rara


“Iya ampun Rara lo lebay banget sih ini kan masih satu bulan lagi” Alisa mengerti Rara akan kehilangan sahabtnya lagi padahal untuk sementara juga hehe


“Iya udah gue mau ke kampus untuk ngurus dokumen dan acara wisuda gue” Ucap Alisa


“Gue temenin ya Al”


“Gakpapa lagian lo kan gak ada mata kuliah sekarang”


“Gakpapa Alisa gue bosen di kosan terus”


“Oke deh”


Alisa sudah mengurus semuanya dibantu dari pihak kampus, dia memutuskan ke restauran untuk meminta resign karena kurang dari satu bulan lagi Alisa akan pergi.


“Buu permisi” Ucap Alisa pada seorang wanita paruh baya.


“Bu Alisa mau minta resign”


“Kenapa nak selama ini kamu gak ada keluhan apapun kan?”


“Iya bu sebentar lagi Alisa mau lanjutin kuliah di Amerika”


“Apa nak Amerika?”


“Iya bu Alisa dapet beasiswa kesana” Alisa tersenyum bahagia


“Ibu turut senang nak, jangan lupain ibu” Ucap Ana dia sudah menganggap Alisa seperti putrinya sendiri karena dia memang sangat menginginkan anak perempuan dan bisa memberikan adik perempuan pada Raka, tapi takdir berkata lain


“Mana mungkin Alisa begitu bu” Alisa memeluk Ana dengan erat


“Oh iya nak, Raka juga kuliah disana sayang mungkin kamu akan ketemu”


“Bener bu? Tapi Raka gak pernah cerita”


Setelah peristiwa direstauran itu juga Raka jarang pulang ke Indonesia, entah apa yang membuatnya sangat betah disana.


“Bener nak, titip salam jika kamu bertemu dengannya”


“Baik bu, oh iya Alisa permisi dulu ya bu”


“Hati-hati sayang”


Karena waktu masih sore Alisa memutuskan untuk ke taman.


( Sudah berapa lama gue gak kesini ya ) Batin Alisa menerawang.


Dia sudah sangat jarang bahkan dia hanya sekali ke taman itupun dipaksa Rara.


Alisa menerawang jauh membayangkan teman-temannya Rara dan Zen pernah bermain disana, dia merindukan Zen, Alisa menghembuskan nafas beratnya seperti banyak beban yang dibawanya.


Bruugh


Seseorang terjatuh tepat dibelakang Alisa otomatis Alisa terkejut dan langsung menoleh.


“Astaga, pak bapak banguun” Alisa mencoba membangunkan seseorang yang tergeletak telungkup


( Aduh inikan masih sore masa gak ada orang sih ) Alisa mencari pertolongan namun nihil tidak ada yang berlalu lalalng ditaman sore itu.


“Pak…” tenggorokan Alisa kering secara mendadak tubuhnya bergetar


Orang yang ditolongnya adalah Aditya kakaknya Zen


“Aduh gimana dong mana agak jauh dari jalan” Ucap Alisa


Akhirnya Alisa terpaksa membantu Aditya untuk menemukan pertolongan Alisa membawa Aditya kerumah sakit terdekat.


“Maaf suster tolong teman saya” Teriak Alisa pada suster diruma sakit itu


( Teman? mana mungkin gue temenan sama aki-aki ) Alisa merasa jijik dengan ucapannya sendiri


“Baik nona saya akan bawa tuan keruangan” Suster itu memanggil dokter dan membawa Aditya untuk melakukan pemeriksaan.


Tidak beberapa lama suster itu datang kembali dan menyerahkan jas yang dipakai Aditya


“Maaf nona ini jas pasien dan segera melakukan administrasi agar kami bisa menindak lebih lanjut lagi”


“Baik suster lakukan yang terbaik” Ucap Alisa tak sadar


( Aduh bodoh gue bodoh banget kanapa gue ngomong gitu sih biarin ma*p*s aja tuh orang yang udah cabut beasiswa gue ) Alisa terus menggerutu kesal


Drrrrtttttttt


Hp Aditya bergetar didalam saku jasnya


“Ini gimana angkatnya ya” Alisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tidak bisa mengoprasikannya karena HP nya yang jadul Alisa sangat ketinggalan.


( Ah mungin ini ) pikir Alisa


“Tuan-tuan dimana sekarang” Ucap Ken


(Dia ini siapa sih tuan-tuan, oh mungkin keluarganya ) pikir Alisa kembali


“Ma maaf tu tuan, Pak Aditya sekarang ada dirumah sakit” Ujar Alisa


“Dirumah sakit? saya segera kesana sebutkan saja lokasinya” Titah Ken


Alisa menyebutkan lokasi rumah sakit, setelah setengah jam berlalu Ken sudah berada dirumah sakit dan menanyakan beberapa pertanyan pada Alisa.


-


-


-


-Salam❤