
Adam sudah mengantarkan mereka bertiga dan berpamitan pada Alisa bahwa dia harus segera pulang karena bibinya sedang sakit.
“Al gue duluan ya” ujar Adam
“Kok duluan Dam gak mampir dulu?” ajak Alisa
“Iya elah lo masih kangen aja, ngga ah ini udah sore dan bibi gue lagi sakit jadi gue harus buru-buru oke bye” Adam langsung ngloyor
(Dasar tuh anak masih sempat-sempatnya gombalin orang) pikir Alisa
“Rara lo ngapain dikamar gue?” tanya Alisa, Rara merebahkan badannya diatas kasur Alisa
“Alisa lo gak liat ya gue lagi istitahat nih jangan ganggu gue” ujar Rara
“Istirahat ya istirahat jangan dikamar gue juga kali” kesal Alisa, sebenarnya dia juga sangat lelah karena harus berurusan kembali dengan nenek lampir seperti Bela tadi siang, tapi apa daya Rara sudah tertidur pulas di atas kasurnya.
Alisa memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan kampusnya supaya cepat selesai.
“Baru satu hari kuliah udah banyak tugas nih, apalagi kalau semester akhir” keluh Alisa
“Iya ampun Alisa kamu harus semangat, harus jadi anak yang kuat, kamu sudah berjanji pada ayah dan ibumu, kamu bisa Al” Alisa terus menyemangati dirinya sendiri
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam Rara belum juga bangun, untungnya tugas Alisa sudah selesai dan Alisa malah ketiduran dimeja belajarnya.
“Hoooaaamm”Rara terbangun
“Aduh gue dimana nih, kok kayanya bukan kamar gue deh”ucap Rara pada diri sendiri
“Lah itu siapa lagi, ini baru jam 19.00 tapi gue udah ketiduran yak ok gue jadi linglusng sih”
Rara mengambil segelas air dan diminumnya sampai habis.
“Aha gue baru inget ini kan kamarnya si Alisa” tawa Rara menggelegar dia baru menyadarinya dan melihat sangpunya kamar malah tidur di meja belajarnya
“Al Alisaaaa banguuuun” Rara meneriaki Alisa agar cepet bangun
“Apa-apan sih lo emang gue budeg? Jangan keras-keras kosan kita sekarang kan sudah ada penghuninya jadi lo jangan keras-keras nanti mengganggu mereka” Jelas Alisa
“Lagian lo dibangunin susah amat, ya gue teriak-teriak lah” Ucap asal Rara
“Eh Rara gak kebalik lo, lo dibangunin dari tadi juga di kasur gue lagi lo tidur kaya latihan aja tau gak sih”
“Latihan mati maksud lo? ya maaf gue capek marah-marah mulu tadi siang" Cengir Rara
“Ya gak gitu juga Rara, lo sih susah dibilangin” jelas Alisa
“Oh yah Ra lo ikut gue gak jenguk bibinya Adam katanya sakit” tanya Alisa
“Hm gue banyak tugas Al, gue bingung baru pertama kuliah kok banyak tugas sih” omel Rara
“Iya sih gue juga gitu kiranya gue aja eh lo juga, tapi kita jangan ngeluh inget tujuan awal kita yakan” jelas Alisa
“Oh ya gimana? lo ikut dong sama gue kita bareng ke rumah bibinya Adam besok kebetulan kan kita juga besok kelasnya kelas siang jadi kita bisa bareng Adam, lagian kan Adam juga sahabat kita masa lo gak kasian” jelas Alisa
“Hm gue usahain ya Al soalnya tugasnya banyak belum ditambah besok” Ujar Rara
“Nah gitu dong, sana ke kamar lo gue ngantuk” Usir Alisa
“Iya-iya gue kekamar ” Ucap Rara
Alisa bangun lebih awal untuk beres-beres kamarnya terlebih dahulu dan tidak lupa selalu menelepon ibunya diwaktu senggangnya.
“Rara lo udah bangun belum” Alisa setengah berteriak dan terus mengetok-ngetok pintu kamarya Rara
“Alisa ini masih pagi gue masih ngantuk” Rara keluar dengan penampilan yang acak-acakan
“Iya ampun Rara lo kenapa, rambut lo mata lo?” Alisa melihat dengan jelas mata panda Rara
“Gue tidur jam 01.00 dini hari Al, gue harus nyelesain tuas kampus gue” ujar Rara
“Ada apa?”tanya nya lagi
Alisa tidak tega mengajak Rara dengan keadaannya yang seperti itu, awalnya Alisa ingin mengajaknya ke pasar tradisional untuk membeli buah-buahan untuk bibinya Adam nanti.
“Ngga kok gue cuman mau ngajak lo beli bubur aja dan sarapan bareng” Alisa terpaksa berbohog
“Oh kirain apa, lo aja duluan ya Al gue masih ngantuk mau tidur lagi” tolak halus Rara karena memang ia masih sangat mengantuk
“Oke” ujar Alisa
Setelah itu ia langsung bergegas pergi kepasar untuk membeli buah-buahan.
Alisa langsung memilah dan memilih buah yang ia inginkan dan ada seorang laki-laki paruh baya yang menyapanya.
“Halo nona, nona belanja disini juga?” tanyanya
“Hm maaf pak, bapa pelayan yang dikafe kemarin ya” Alisa mengingat-ngingat seseorang
“Nah nona masih ingatkan sama saya?” tanyanya
“Jangan panggil nona pak saya agak kurang nyaman , saya Alisa” Alisa tersenyum dengan tulus
“Maafkan bapak nak, bapak kepada semua orang juga sering memanggilnya begitu kok, saya parjo panggil saja paman atau bapak juga terserah nona saja, eh Alisa maksud saya” Ragu Parjo
“Oh ya ini sudah siang Al paman duluan, paman harus ke kafe, dan satu lagi Al jangan lupa mampir selalu ya ke kafe” ajaknya
Alisa telah sampai kekosannya kembali, Alisa juga tidak hanya membeli buah-buhan untuk bibinya Adam tetapi dia juga membeli persediaan sayurannya juga.
“Rara lo udah bangun belum” Alisa mengetok-ngetok pintunya tetapi tidak ada sahutan
Ada sebuah pesan masuk diponselnya Alisa, ternyata Rara sudah duluan pergi kekampus karena ada sesuatu hal yang ia harus selesikan.
(Padahal masuknya juga masih ada waktu dua jam lagi ada keperluan apa ya si Rara) pikir Alisa
Alisa siap-siap pergi kekampusnya, dengan menenteng buku ditangannya dia juga memakai pakaian yang dibelikan Zen tidak terlalu tertutup, tidak juga terbuka pas untuk seorang perempuan masa kini.
(Itu Zen deh kayanya) pikir Alisa
“Zeeenn” panggil Alisa
“Eh lo Al kirain siapa eh btw ya ampuun baju ini pas banget buat lo”ujar Zen
“Ah biasa aja Zen lo terlalu berlebihan” Ucap Alisa
“Anak kampung, ya kampung aja” ujar Bela yang kebetulan lewat
“huuuh dasar lo awas aja” ancam Zen
“Tenang Zen tenang, oh ya lo mau ikut gak ke rumah bibinya Adam katanya sedang sakit, Adam sendiri yang bialang ke gue kemarin” Jelas Alisa
“Wah boleh tuh sekalian biar kita tau tempat tinggalnya Adam” Ujar Zen
“Wooy kalian sedang apa?” Adam mengaggetkan Alisa dan Zen
“Aduh lo apa-apaan sih kebiasaan” kesal Alisa
“Ngga gue niatnya, Zen dan Rara pengen jenguk bibi lo gimana?” tanya Alisa
“Iya sekalian kita main kesana” ucap Zen
“Iya sudah boleh-boleh” ujar Adam
“Oh ya Dam kita nebeng ya tapi sebelum itu lo anter dulu ke kosan gue” cengir Alisa
“Aduh gue jadi supir lagi” Keluh Adam
Zen dan Alisa tertawa terbahak-bahak
“Udah nasib lo Adam” Ujar Zen
Mereka sudah pulang dari kampusnya Rara dibujuk Alisa dan Zen supaya ikut dengan mereka, dan sekarang mereka sedang diperjalanan menuju rumah paman dan bibinya Adam.
“Pamaan Adam datang” panggil Adam
“Masuk Dam, eh ada teman-temannya masuk-masuk nak” Ajak paman Ramah
“Paman boleh kita mejenguk bibi?" tanya Alisa halus
“Boleh-boleh tapi jangan terlalu berisik ya nak, mungkn bibi lagi tidur”
“Siap paman” Ujar Zen dan Rara
“Bibi Adam sudah datang” ucap Adam halus dan mengelus tangan bibinya yang sedang berbaring itu
“Kamu bawa siapa Adam” Tanya bibinya
“Eh iya bibi saya temenya Adam, saya Alisa, ini Rara dan yang ini Zen” Alisa duduk ditepi ranjang dan menyalami bibi
“Nak Alisa ya saya sudah tau banyak dari Adam dia suka cerita tentang kamu” ujar bibi
“Bibi jangn bilang-bilang dong Adam kan malu” Ujar Adam
“Adam lo cerita apa tentang gue pasti yang jelek-jelek” kesal Alisa
(Aduh dasar cinta monyet) pikir Rara
“Sudah-sudah” tegur bibi dan dia membalikan tangan kanan Alisa dan kaget melihat cincin yang melingkar di jari manisnya Alisa
“Bibi kenapa, mungkin bibi butuh sesuatu?” tanya Alisa
“Tidak nak, bibi tidak kenapa-kenapa”ujarnya dengan senyum simpul menghiasi bibirnya yang pucat
Mereka mengobrol kesana-kemari hingga tak terasa waktu sudah sore dan sudah agak gelap.
“Bibi Alisa, Rara dan Zen pulang dulu ya kapan-kapan kita main lagi kesini boleh kan bi?”tanya Alisa
“Boleh banget nak kamu sering-sering kesini ya, oh ya kalian pulang naik apa?” tanya
“Kami bisa pakai angkutan umum bi” Ujar Zen
“Gak baik nak ini sudah mau gelap, Adam cepat antarkan mereka pulang ya dan kamu hati-hati jangan ngebut-ngebut” ujar bibi
“Iya-iya bi, Adam kan supirnya mana mungkin Adam gak nganterin mereka” Adam cemberut.
Mereka menertawakan Adam yang seperti anak merengek meminta peremen pada ayahnya.