
“Adam ada apa didalam coba kamu masuk” Titah Rara dia khawatir karena tidak mendengar suara apapun lagi dari dalam
Akhirnya Adam, Rara dan Aryo pamannya Adam masuk kedalam kamar, mereka melihat Mariam yang sudah tidak bisa bergerak sama sekali dan Alisa pingsan karena sudah terlalu lama menangis.
Adam ya hari ini adalah hari pertama kalinya menangis dalam seumur hidupnya, bibi sekaligus ibu yang menemani waktunya dimasa kecil dan di masa-masa kuliah sekarang ini menghembuskan nafas terakhirnya, Adam sangat terpukul namun takdir berkata lain. Sedangkan Aryo terus menenangkan Adam dan memerintahkannya untuk membantu Alisa.
Malam itupun Mariam langsung dimakamkan di TPU terdekat karena Aryo sudah tidak kuat lagi melihat istrinya menderita.
Sedangkan Alisa masih saja belum bisa dibangunkan, Rara terus setia disampingnya dan membantu menyadarkan sahabatnya.
“Nona apakah tidak sebaiknya dibawa kerumah sakit saja dia tidak sadar-sadar dari tadi” Saran salah seorang ibu.
“Sahabat saya kuat bu, dia sebentar lagi siuman” Sergah Rara dia yakin Alisa bisa cepat bangun.
Setelah pemakaman Mariam selesai Aryo langsung melakukan tahlilan dikediamannya.
“Bagaimana?” Tanya Adam pada Rara
“Masih belum sadar, dia memang seperti itukan gue yakin dia kuat Dam” Jelas Rara
“Tapi setau gue hanya orang-orang terdekatnya saja yang bisa membuatnya se-drop ini, tetapi kenapa dia bisa begitu sama bibi gue dan diakan gak tau bibi gue karena semenjak gue kecil juga dia sering pergi ke kota” Jelas Adam
“Penjelasan lo absurd banget deh Dam, ya gue ngerti pasti lo cape mending lo istirahat dulu dan gue juga mau keluar biarkan dia istirahat” Rara mendorong Adam untuk keluar dari kamar tamu itu.
“Alisa kamu kuat nak, tolong cari keadilan untuk kami” Seseorang sedang mampir di mimpi Alisa
“Bu, apakah itu kau?” Tanya Alisa dalam mimpimya
“Jangan nangis bangunlah kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat tolong ayahmu, ayahmu sangat menderita” Jelas seseorang yang menurut Alisa adalah Ibunya.
“IBUUU” Alisa terbangun dari tidur panjangnya dan mentari memaksa masuk kedalam kamarnya.
“Piuuuh mimpi ternyata, apa gue dimana?” Tanya Alisa heran
“Nak Alisa sudah bangun?” Tanya Aryo
“Paman?” Tanya Alisa kebingungan
“Makanlah, dari kemarin kamu pasti belum makan” Tawar Aryo
Alisa langsung meng-iyakan tawaran paman Adam itu karena memang dari kepulangannya dari New York dia belum makan nasi sedikitpun.
“Paman kenapa Alisa ada disini?” Alisa merasa ada yang terlupakan
“Kamu lupa nak?” Aryo langsung mengubah letak duduknya dengan menyamping
“Kamu memenuhi permintaan terakhir Mariam” Jelas Aryo
“Permintaan?” Sedetik kemudian Alisa mengingat kejadian semalam, nafsu makannya langsung hilang seketika.
“Paman apakah bibi?” Tanya Alisa ragu
“Iya nak, kami sangat berterima kasih kamu sudah datang disaat-saat terakhirnya, paman..-“ Aryo belum sempat melanjutkan kalimatnya ada satu titik air yang lolos dari matanya namun dia buru-buru menhapusnya dengan membenarkan kacamata tebalnya.
Begitupun Alisa airmatanya meleleh kembali rasanya baru kemarin dia bercengkrama dengan Mariam namun kenyataan pahit yang mengharuskannya menerima keyataan itu dengan lapang.
“Paman maaf apakah Alisa bisa bertanya sesuatu?” Tanya Alisa
“Tanyakanlah nak” Aryo merubah kembali duduknya dengan mengahadap Alisa.
“Sebenarnya paman bertemu dengan bibi dimana?” Tanya Alisa sedikit ragu
“Apakah ada yang mau kamu ceritakan nak?” Tanya Aryo kembali karena ia sedikit heran apa perlunya dia menceritakan kisah masa lalunya.
“Tidak paman Alisa hanya ingin tahu saja” Alisa terpaksa berbohong
Aryo menceritakan awal mula pertemuan mereka dengan singkat.
“Iya dulu paman seorang security di rumah tuan Tyo, nah Mariam seorang kepala pelayan dirumah itu, entah darimana awalnya cinta tumbuh diantara kami berdua dan akhirnya paman memberanikan diri untuk melamarnya” Aryo tersenyum jika mengenang masa lalunya.
“Apakah paman dan bibi sudah tidak bekerja lagi disana?” Tanya Alisa yang lebih antusias
“Sebelum menikah dan sebelum perasaan ini tumbuh memang kami masih bekerja disana karena memang tuan Tyo sangat ramah apalagi setelah mempersunting Nyonya besar, dia selalu memberikan gajih tambahan pada setiap bulannya”
“Namun suatu ketika ada peristiwa nyonya besar kami nyonya Lia meninggal dengan secara tidak wajar dan apalagi anaknya sampai sekarang ini paman tidak tau dia dimana, kejadian itu membuat tuan Tyo sangat terpukul dan menyalahkan Mariam karena pada waktu yang bersamaan Mariam berada bersama nyonya besar membuat tuan Tyo sangat murka”
“Maksud paman tidak wajar?” Tanya Alisa
“Menurut informasi dari Mariam nyonya besar memang meninggal karena pendarahan hebat, tetapi ada sesuatu yang menurut paman janggal entahlah paman tidak mau ikut campur” Jelasnya.
“Jadi memang semenjak itu bibi tidak bekerja lagi?” Alisa berusaha mendapatkan informasi
“ Tidak juga memang sebelumnya Mariam sudah tidak bekerja lagi disana namun nyonya jahat yang baru memerintahkannya untuk kembali kerumah itu”
“Nyonya jahat?”
“Iya dia Rumini sesuatu yang ia mau harus ia dapat, memang paman belum lama bekerja di keluarga Tyo namun setelah Mariam menceritakan semuanya paman langsung percaya”
“Setelah itu selang beberapa tahun kamipun akhirnya menikah dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi disana, Karena suasana rumah yang selalu ramai damai dan ceriapun berubah menjadi rumah terkutuk yang banyak penderitaan didalamnya”
“Kenapa sampai begitu paman?”
“Rumini yang membuat itu semua menjadi berantakan, paman dan bibi bukan siapa-siapanya mereka jadi paman bukannya tidak mau membantu tuan Tyo paman hanya takut Rumini akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan semuanya”
“Oh iya kira-kira anak itu kemana apakah tuan Tyo tidak mencarinya?” Batin Alisa menjerit kenapa sampai sekarang ayahnya tidak mencarinya.
“Dugaan kamu salah Alisa, semenjak tuan Tyo mendengar anaknya diculik mungkin pribahasanya dia mencari sampai ke negeri China untuk menemukannya kembali anaknya, siang malam dia terus mencari bayi itu tanpa kenal lelah bukan satu tahun ataupun dua tahun nak dia mencari anaknya sampai 5 tahun berlalu sampai kami berdua mengundurkan diri untuk tidak bekerja lagi disana”
Hati Alisa bergetar, batinnya bergejolak mendengar kenyataan yang sesuangguhnya dia selalu menyalahkan ayahnya karena ayahnya tidak mencari nya.
“Apakah tuan Tyo baik-baik saja?” Tanya Alisa suaranya bergetar
“Kami mendengar informasi terakhir bahwa tuan tyo sudah sakit-sakitan dan Rumini malah memperkeruh kondisi tuan Tyo dengan memberikan obat-obatan dengan dosis yang tidak tepat”
“Kenapa? bukannya nyonya Rumini mencintai tuan Tyo?”
“Paman Kurang tahu nak, tetapi setahu paman Rumini memiliki riwayat kejiwaan yang membuatnya selalu terobsesi berlebihan dan jika dia sudah bosan dia akan membuangnya”
“Apa?” Hatinya menangis lagi, lagi dan lagi kebahagiannya selalu tidak berpihak padanya.