My Struggle

My Struggle
Rahasia Zen



Alisa, Rara dan Zen, mereka pulang bersama setelah selesai bubar dari kampusanya.Waktu menunjukan pukul 11.00 siang, sudah waktunya bagi mereka mengisi perut yang sudah memanggil-manggilnya sejak tadi.


“Zen bareng kita yah hari ini kita masak lagi” ajak Alisa


“Gakpapa al gue gak mau ngerepotin kalian, gue beli aja kan deket ada warteg disebrang sana” elak zen


“Ya elah zenia lo kaya sama orang lain aja, kan lo yang ngomong jangan sungkan-sungkan apalagikan kita udah jadi sahabat ya akan al?”ujar rara


“Iya zen anggap aja kita udah sahabatan sejak lama oke, buruan sekalian lo juga bantuin kita gimana? Tawar alisa


“Hm” Zen sebenernya gak mau ngerepotin siapapun dia sudah terbiasa mandiri dan selalu melakukan apapun dengan sendiri.


“Udah ayo ah kebanyakan mikir” kesal rara dan menarik tangan zen


“Eh iya-iya” ucap zen gugup


(Gue baru ngerasain lagi punya teman) pikir zen


“Kok gugup sih zen, lo gakpapa kan?” tanya al


“Gue baik-baik aja al, jangan terlalu khawatir” senyum simpul terluski di wajah zen


( Gue sangat beruntung punya temen kaya mereka) pikir Zen


Mereka telah sampai dikosan dan alisa langsung menyimpan tasnya dan kembali ke dapur diikuti rara dan zen. Hari ini mereka memasak ayaam, jengkol, sayur asam, dan alisa tidak lupa yang mengulek sambalnya menurutnya tanpa samabal makanannya terasa hambar.


“Al lo gak masak rendang? Tanya rara


“Ngga rara kemarin gue beli bahannya cuman sedikit jadi kita ganti sama ayam aja gimana? Kan sama aja” tanya alisa, padahal alisa tidak memasak rendang karena takut terjadi sesuatu pada zen setelah apa yang terjadi pada hari kemarin zen terus murung sampai alisa dan rara pulang dari kosannya.


“Oh oke al gakpapa gue mah apa aja juga dimakan” cengir rara


(Gue tau al padahal bumbu dan bahannya juga masih ada, lo sangat pengertian al) dalam benak zen


“Oh iya al sayuran ini dicuci semua?”tanya zen


“Iya ampuun zeen ya iya lah semua bahan kalau mau di masak tuh harus dicuci dulu” jelas rara


“Heheh iya iya ra, soalnya gue baru masak lagi setelah 12 tahun kebelakang dan gue gak pernah masak lagi deh” zen menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Alisa hanya geleng-geleng melihat kedua sahabatnya itu ia bersyukur sosok dini tidak akan pernah pudar karena ada zen yang selalu mengingatkannya pada sosok dini.


“Emang ibu lo kemana zen?, gak pernah masak bareng ya?” Tanya asal rara


Seketika air muka zen langsung sendu dan sedih, alisa melihat semua gerak-gerik yang dilakukan zen


“heh kalian sudah ayo cepetan memotong dan dan mencuci sayurannya gue udah laper ni” alisa menengahi


“Eh sabar kenapa sih lo al, nih gue udah selesai dan gue mau meriksa dulu nasinya udah mateng apa belum” rara langsung ngeloyor


Semua telah matang dan untuk kedua kalinya mereka makan bersama, alisa terus memeperhatikan gerak-gerik zen yang sangat alisa yakini mempunyai rahasia besar, sampai zeb pulangpun alisa bisa menangkap raut kesedihan dimatanya.


“Al lo mau kemana? Tanya rara


“Ini gue mau nganterin ponselnya si zen, ketinggalan deh nih kayanya” jawab alisa


“Oh gede banget yah gak kaya yang punya kita kecil, dekil lagi” kesel rara


“Eh iya iya bener juga diakan kaya jadi bisa buat beli apapun” keluh rara


“Jangan suka ngeluh kejar dulu cita-cita lo ra supaya lo juga bisa beli apapun yang lo mau, udah ya gue duluan takut kesorean” jelas alisa


Alisa sudah sampai di kosan zen, dan lagi, tidak ada yang menyahut mungkin zen tidur pikir alisa


Alisa sekali lagi mengetok-ngetok pintu zen dan zen keluar dengan mata yang merah.


“Iya ampuun zen lo kenapa? tanya alisa


“ Gu gue gakpapa al, oh ya lo mau apa kesini, mau nganterin ponsel gue ya? maaf ya duh gue lupa” zen mengalihkan pemibicaraan


“ Lo jangan bohong zen gue juga tau lo punya masalah kalo lo nganggap gue sahabat cerita sekarang sama gue, atau lo jangan temuin gue lagi” ancam alisa


Zen melongo tidak percaya seorang alisa yang menurutnya kalem daripada rara bisa mengancam dirinya seorang cewek tomboy dan bodo amatan.


“Masuk dulu al” pinta zen


Zenia tidak bisa lagi menutup-nutupi rahasianya kepada sahabatnya itu karena sebelumya zen bersyukur dan beruntung mempunyai sahabat seperti mereka.


“ Gue sebatang kara al” zen tidak bisa membendung air matanya lagi


Alisa terkejut kenapa dia tiba-tiba ngomong begitu dan alisa langsung memeluk sahabatnya itu


“Maksud lo apa zen” tanya alisa


“Ayah sama ibu gue cerai, ayah gue meninggal karena depresi dan ibu gue gak tau pergi kemana” ucap zen, sebuah kalimat yang mampu membuat hati alisa sakit mendengarnya dan ikut merasakan sedih atas peristiwa yang menimpa sahabatnya itu


“Gue hidup sama kakak gue sekarang, tapi setelah kematian ayah kita, kakak gue berubah jadi orang yang sangat dingin dan pemarah sebelumnya dia orang yang sangat penyayang dan sangat perhatian sama gue al, gue putusin dari SMP untuk hidup mandiri dengan meninggalkan rumah dan memilih untuk mencari kontrakan seperti sekarang ini” jelas zen


Zen terus menangis dipelukan alisa dan alisa terus menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, zen merasakan kehangatan dari pelukan alisa yang terus mengalir untuk menguatkan dirinya


“Maafin gue zen, gue terlalu ikut campur dalam urusan lo tapi lo sekrang sahabat gue, gak ada rahasia-rahasiaan di antara kita” ucap alisa


Zen bangit dari pelukan alisa


“Makasih ya al untuk sekarang ini lo yang paling ngertiin gue, gimana kalau lo jadi kakak gue?” tawar zen


“Terserah gimana enaknya aja” alisa tersenyum


“Oh ya emang kakak lo kemana?” tanya alisa


“ Gak tau al, tapi menurut informasi terakhir yang gue dengar sekarang kakak gue katanya seorang dokter lulusan S2 di inggris, pemilik perusahaan Sanjaya group dan salah satu orang yang berpengaruh di kampus kita” jelas zen mengusap air matanya


“Jangan bilang itu pak Dhava Aditya Pramana” ucap alisa


“Itu lo tahu al” ujar zen


“Apaa loo bilang itu kakak bener kakak lo?” tanya alisa melotot


“Iya dia pernah bilang, gue gak akan pernah mandiri dan jadi orang sukses, makannya gue mau buktiin sama kakak gue sekarang, gue tau al walau sikap dan sifat dia berubah dilubuk hatinya pasti dia sangat sayang sama gue, oh ya dan jangan panggil dia pak al dia gak bakalan jadi dose kita kok” jelas zen dengan diselingi tawanya.


“ Gue ngerti kedaan lo zen dan sekarang kita kejar cita-cita bersama” ucap alisa penuh dengan keyakinan