My Struggle

My Struggle
Ayah Kaukah itu?



Sekitar pukul 17.00 sore Alisa masih berada diapartemennya hatinya gusar tidak tahu kenapa tetapi itu yang dirasakannya waktu itu.


“Nona belum berangkat?” Parjo mendatangi apartemen Alisa


“Belum paman, kenapa ya kok Alisa gak enak hati gini” Alisa meneguk tehnya sebelum ia berangkat ke kediaman Tyo Adiguna


“Paman mengerti, seumur hidup nona kan belum pernah ketemu dengan ayah nona, pasti ada perasaan grogi, wajarlah nona”


“Oh iya paman hanya menginformasikan rencana kita sudah siap semua nona”


“Maafkan Alisa paman, Alisa hanya merepotkan paman saja dan Alisa juga gak sopan sudah meminta bantuan paman yang notabennya sudah sepuh” Alisa meletakan cangkirnya


“Nona biarkan saya mengabdi pada tuan Tyo dan untuk membalas perlakuan wanita itu pada keluarga paman”


“Baiklah, Alisa tidak bisa membalas kebaikan paman tetaplah bersama kami”


“Sudahlah nona, ini sudah sore paman menyarankan kamu harus lebih dulu sampai ke kediaman tua Tyo”


“Tunggu nona” Parjo meraih tangan kanan Alisa


“Lepaskan dulu, Rumini akan mencurigai cincin yang ada di jari nona” Parjo melepas Cincin dari Jari Alisa


“Ah iya paman terima kasih”


“Alisa berangkat”


Alisa telah sampai dikediaman ayahnya rumah megah nan mewah tidak kalah dengan kemegahan rumah Aditya. Rasa sedih, kecewa, grogi campur aduk yang menyelimuti diri Alisa Prasetyo Putra.


Alisa menekan-nekan Bell yang terletak disamping pintu.


Dan seseorang membukakan pintu yang tak lain adalah pelayan dirumah itu.


“Maaf nona ada yang bisa saya bantu?” Bik Sumi ya itu namanya melihat Alisa dari atas sampai bawah


“Saya dokter dari rumah sakit Permata” Jelas Alisa


“Oh iya-iya masuk non ibu sudah menunggu” Bi sumi mengajak Alisa ke dalam.


Baru saja Alisa masuk hawa yang ia rasakan begitu berbeda, kebusukan dan kebohongan bertebaran dimana-mana.


“Maaf nyonya besar ini ada dokter dari RS Permata, saya pamit kebelakang” Bi Sumi meninggalkan mereka berdua.


“Oh jadi ini yang merusak keluargaku, kau juga perempuan apakah kau tidak kasihan padaku dan keluarga yang telah kau hancurkan, bila ibuku masih ada pasti seumuran denganmu bibi” Batin Alisa berteriak emosinya meluap namun ia sadar ia berada dimana.


Rumini membenarkan kacamatanya, dia tidak terlihat seperti nenek-nenek malahan terlihat seperti ABG gayanya yang berlebihan dimata remaja mungkin sedikit norak. Ya dia selalu perawatan dan tidak-tanggung-tanggung dia merawat tubuhnya sampai ke Paris.


“Apakah kamu suruhan dokter Jorg?” Tanya Rumini dengan gaya sombongnya.


“Iya nyonya saya yang akan memeriksa keadaan bapak karena dokter Jorg ada keperluan mendadak” Jelas Alisa


“Mah siapa?” Tanya Bela yang menuruni anak tangga


“Ini dokter Sheila yang akan memeriksa ayahmu nak” Rumini beranjak dari kursinya dan meletakan majalah yang telah ia baca


“Memeriksa ayah?” Tanya Bela kembali dia merasa hafal orang yang didepannya itu


Alisa buru-buru membenarkan kacamata besarnya walapun sebenarnya tidak minus itu hanya alat untuk samara saja.


“Ada apa?” Tanya Rumini


“Ah tidak aku salah orang mah, ya sudah ayo kita langsung memeriksa ayah saja” Tawar Bela


Mereka menuju kesebuah pavilion yang berada di samping rumah megah dan mewah itu. Alisa keheranan sepanjang perjalanan dia terus memikirkan sikap Bela yang berbanding terbalik ketika di luar sehingga dia tidak sadar mereka sudah sampai ditempat yang kumuh, menjijikan dan seperti yang tidak terawatt.


“Maaf nyonya kita akan kemana?” Tanya Alisa


“Katanya kamu akan memeriksa suami saya ya ini tempatnya” Rumini membuka pintu dan terlihatlah seseorang yang kehilangan jiwanya namun raganya masih utuh, seseorang yang kering kerontang hanya kulit saja yang mampu memberikan kehangatan pada tubuhnya, matanya tertutup mukanya sudah termakan usia, rambutnya putih bersih ya Orang Itu Tyo Adiguna ayahnya Alisa.


“Ayaahh” Batin Alisa bergetar


“Kaukah ini?” Tangan Alisa menelusuri setiap lekuk wajah sepuh itu


Alisa cepat-cepat mengontrol emosinya dan langsung menyuruh mereka keluar dia akan menjalankan aksinya.


“Kok keluar sih biasanya juga tidak, saya tidak mau keluar anda tidak berhak ya itu suami saya” Rumini hampir tersulut emosinya namun keburu dibujuk oleh Bela


“Mah inikan bukan dokter Jorg ya pantas saja caranya berbeda ayo keluar dulu ini sebentar kan dok?” Tanya Bela


Lagi-lagi Alisa keheranan dengan tingkah Bela.


“Benarkan dok?” Tanya Bela kembali


“Ah iya saya butuh 5-10 menit untuk memeriksa bapak mohon pengertiannya”


“Tuhkan mah ayo cepetan”


Akhirnya Rumini bisa dibujuk oleh Bela.


“Ayaahh Alisa gak tahu keadaan ayah seperti ini, Alisa akan membebaskan ayah secepatnya” Alisa langsung menghubungi Parjo


Parjo dan lima anak buahnya langsung menju lokasi dengan mudahnya karena sebelumnya 2 security yang berjaga sudah dibereskan CCTV yang terpasang sudah dirusak.


“Cepat paman bawa ayah terlebih dahulu dan mana jenazah palsunya?”


Alisa mengganti ayahnya dengan Jenazah orang lain yang tidak ada keluarganya.


Parjo dan anak buahnya langsung menuju aparteman Alisa dan Alisa tinggal selangkah lagi untuk keluar dari neraka itu.


Ckleek pintu terbuka.


Terlihat raut kecemasan yang tergambar diwajah Bela namun tidak dengan Rumini dia biasa saja bahkan mungkin menginginkan kematian untuk suaminya.


“Maaf nyonya bapak tidak bisa tertolong lagi” Alisa pura-pura menunduk menyesal


“Apa? kamu telah membunuh ayah saya kamu apakan ayah saya hah?” Bela berlari menuju kamar dia melihat ayah palsunya telah terbujur kaku dan ditutupi oleh selimut, itu sengaja Alisa yang melakukannya agar tidak terlalu ketahuan.


“Sudahlah Bela ayahmu sudah tenang disana” Rumi mencoba membujuk anaknya


“Tapi ayah mah, bela gak mau kehilangan ayah” Bela histeris


“Apa-apan ini? Kosnfirasi apa lagi drama apa ini?” Batin Alisa bertanya-tanya


“Maaf nyonya saya harus kembali kerumah sakit” Ucap Alisa berbohong


“Baiklah terima kasih atas semuanya” Rumini memberikan cek kosong pada Alisa


“Tulis saja berapa yang kamu mau” Titahnya


“Cih dasar kau yang telah membunuh ibu dan bahkan ayahkupun kau akan bunuh dasar wanita g*la” Emosi Alisa sudah tidak bisa dibendung lagi


“Maaf nyonya saya buru-buru” Alisa meninggalkan tempat itu.


Diperjalanan dia terus melamun pikirannya terbang kemana-mana.


“Paman siapkan tiket untuk kita bertiga, kita akan ke Amerika sekarang juga” Alisa menelpon Parjo


“Nona kita tidak bisa terbang sekarang kecuali kita menunggu sampai pagi hari” Jelas Parjo


“Tidak bisa paman cepat atau lambat wanita itu akan menyadariya kita harus ceppat”


“Baiklah nona paman akan menyewa Jet Pribadi saja, paman akan menunggu di bandara X satu jam lagi”


“Usahakan yang terbaik paman, Alisa secepatnya menyusul” Alisa mematikan ponselnya


Dia bergegas menuju bandara yang dimaksud Parjo.


-


-


-


-


-Salam❤