My Struggle

My Struggle
Berduka



Waktu sudah larut malam Alisa masih tertidur pulas setelah Adam, Rara dan Zen membantunya untuk istirahat.


“Dam lo pulang aja biar Alisa yang kita jaga” Titah Rara


“Gak Ra gue mau nungguin dia disini” Adam terus mengelus rambut Alisa, gak tau kenapa akhir-akhir ini Adam sangat perhatian terhadap Alisa


“Adam lo dengerin gue, gue akan hubungin lo kalau dia kenapa-kenapa lo juga butuh istirahat” Rara mencoba membujuk Adam, karena Adam memang sangat terlihat kelelahan.


“Tenang Dam ada gua dan Rara yang akan menjaganya” tambah Zen


“Oke-oke gue pulang ya jagain awas kalau ada apa-apa cepet hubungin gue” Ujar Adam


“Iya nanti gue kabarin ” Ujar Rara


Di lain tempat


“Gimana ada informasi apa” tanya seseorang pada asistennya


“Nona muda pergi kesebuah daerah yang sangat pelosok tuan” Jelas sang asisten


“Jelaskan semuanya” titah seseorang


“Nona muda pergi kesebuah daerah yang sangat pelosok, yang saya tahu daerah itu pernah tuan kunjungi untuk menghadiri acara resepsi tuan Alex, nona muda punya tiga orang sahabat karena di kampuspun kadang mereka selalu bersama, dua orang perempuan, Alisa dan Rara dan satu laki-laki yang bernama Adam, tujuan nona kesana untuk menghadiri pemakaman ibunya nona Alisa tuan sepertinya mereka berempat sudah sangat dekat” Jelas panjang lebar sang asisten


“ oke” jawaban tuannya itu


Adit, Iya selama ini dia selalu membuntuti Zen adiknya tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Zen sendiri


“ Terus awasi dia saya tidak mau terjadi apa-apa dengannya” Jawab dingin Adit


“Dan tunggu dulu Zen pergi kepemakaman siapa tadi?” tanya Adit


“Baik tuan” ken menuruti semua perintah tuannya itu


“Nona pergi kepemakaman ibunya nona Alisa tuan, salah satu sahabat nona muda” terang Ken


“Iya sudah kamu boleh kembali ke pekerjaanmu” Titah Adit


( Aliisa hm ) Adit terus mengingat-ngingat satu nama itu


Fajar telah tiba Alisa masih belum bangun, Rara dan Zen baru pulang dari pemakaman alm.ibu Alisa setelah memberi doa dan membacakan yasin.


“Rara cepetan kesini” ujar Zen


“Apa Zen lo kenapa?” khawatir Rara


“Ini si Alisa Ra badanya panas banget, mungkin dia demam” ujar Zen


“Iya sudah gue mau hubungin Adam dulu, lo kompres dulu aja kepalanya” Titah Rara


“Oke cepetan Ra gue takut dia kenapa napa” ujar Zen


Setelah Rara menghubungi Adam dia langsung pergi kedapur untuk membuat sarapan untuknya dan Zen tidak lupa dia juga membuatkan bubur untuk Alisa. Tidak membutuhkan waktu lama Adam sudah sampai di rumah Alisa.


“Ya ampun Zen dia kenapa?” tanya Adam khawatir


“Gak tau Dam sehabis kami pulang dari pemakaman, tiba-tiba badan Alisa panas” Ujar Zen


“Sini gue yang mengkompresnya Zen lo bantuin Rara aja di dapur” Titah Adam


“Gak perlu Dam gue udah selesai, lo aja cariin obat buat Alisa” Sambung Rara


Adam mencari obat ke warung-warung tapi anehnya stoknya habis untuk obat yang dimaksud, Adam terpaksa pergi ke puskesmas untuk membelinya dan harus rela mengantri dengan orang-orang. Adam membutuhkan waktu sekiranya satu jam untuk mendapatkan obat itu tetapi sesampainya di rumah Alisa, Alisa belum juga membuka matanya.


“Ra,Zen gimana kabarnya Alisa?, udah ada nih obatnya” ujar Adam


“Lo liat sendiri Dam Alisa belum juga bangun, malah tambah panas aduh gimana ni Dam” Tanya Rara


“ Gue aja yang kompresnya Zen” Adam meminta handuk untuk mengompres kepala Alisa.


“Buu, ayah, ibuuu” Alisa terus mengigau


“Al Alisa lo bangun?” Adam terus mencoba membangunkan Alisa


“Ayaaahh” Alisa langsung bangun dan terduduk


“Al lo kenapa?” Tanya Adam


Alisa bangun dengan terkejut dan keningnya dipenuhi keringat, nafasnyapun tidak beraturan sepertinya Alisa baru saja mimpi buruk, Alisa terus menangis dan Adam, Rara, Zen mereka selalu ada untuk menenangkannya.


“Alisa tenangkan diri lo, lo jangan berlarut-larut sperti ini” Adam memeluk Alisa yang masih terkejut atas mimpi yang ia alami.


“Inget Al lo paling kuat diantara kami” Ujar Zen


“Kami akan selalu ada buat lo al” Adam terus menenangkan Alisa dengan mengelus rambut dan punggunya


Alisa sudah agak tenang dan berhenti menangis dia terlihat sangat letih dan terpukul atas kepergian ibunya tapi Alisa sadar dia jangan seperti ini masih ada teman-temannya yang sayang padanya


“Lo perlu apa Al biar gue yang ambilin” ujar Rara


“Gue gak papa Rara makasih ya kalian selalu ada buat gue, terutama lo Dam” Alisa mencoba tersenyum tetapi sangat sulit baginya untuk sekarang ini


“Nah gitu dong Al, itu baru sahabat gue” Ujar Zen


Zen dan Rara langsung memeluk sahabatnya itu


“Ya sudah Al lo makan dulu buburnya mungkin sudah dingin karena gue buatnya tadi pagi” Cengir Rara


“Gakpapa Rara lo gak usah repot-repot tapi makasih ya emang gue laper ni” ujar Alisa


“Hm Al lo makan obatnya juga ya nih” ujar Adam


“ Oh ya maksih teman-teman kalian yang terbaik” Ucap Alisa


Hari ini Alisa lebih tegar dan mengikhlaskan ibunya, Hari ini juga ia berniat untuk mengunjungi pemakannya. Alisa sudah bersih-bersih diri, makan, dan juga meminum obatnya, demamnyapun sudah turun dari sejak dia bangun.


“Al lo mau kemana?”Adam melihat Alisa sudah rapih


“Gue mau ke makam ibu Dam, sebentar kok” Ujar Alisa


“Lo jangan kemana-mana, demam lo baru aja turun Al” Titah Adam


“Gue baik-baik aja Adam, lo jangn khawatirin gue, cuman sebentar kok” ujar Alisa


“Iya udah gue ikut” Ujar Adam


Mereka sudah berada dimakam, Alisa berdoa dengan khusyu untuk ketenangan Ibu dan ayahnya.


“Bu, yah Alisa pulang dulu ya, besok Alisa kesini lagi kok” Alisa tersenyum melihat kedua pusara ayah dan ibunya.


“Dam ayo” ajak Alisa


Mereka langsung pulang dan ditengah perjalanan ada yang menemui Alisa yang tak lain ayahnya Rara.


“Nak Alisa” teriak paman


“Eh iya paman ada perlu apa ya?” tanya Alisa


“Ini nak, ibumu menitipkan ini pada paman sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya” paman menyerahkan sebuah kotak kecil


“Oh ya sudah terima kasih paman sudah menjaga ibu Alisa” Ujar Alisa


“Sama-sama nak, sebagai sesama kita harus saling tolong menolong.” Ujar Paman


“Oh ya nak Alisa kalian akan pergi lagi kapan? Bukan bermaksud apa-apa paman hanya akan mempersiapkan apa yang kalian perlukan jika kalian pergi lagi” tanya paman


“Tidak paman Alisa rasa Alisa sudah banyak merepotkan paman” Alisa tersenyum


“Al kamu sudah paman anggap putri paman sendiri seperti Rara, jika pulang kembali selalu mampir kerumah nak” Ajak paman


“Terima kasih paman, paman juga sudah sangat seperti ayah Alisa sendiri, oh ya paman Alisa permisi kasian Zen dan Rara sudah menunggu kami” Alisa beranjak sekaligus berpamitan mungkin satu atau dua hari kedepan dia sudah berangkat ke kota A lagi.


Sesampainya dirumah, Alisa langsung membuka kotak pemeberian terakhir dari ibunya didalam nya terdapat sebuah surat yang ditujukan untuknya.


*Nak ibu membuat surat ini sudah lama, mungkin kamu membacanya ketika ibu sudah tiada, kamu sudah janji sama ayah dan ibu tidak akan pernah menangis dan selalu bahagia penuhi sekarang janjimu nak, ibu dan ayah gak suka melihatmu menangis.


Maafkan ibu nak, ibu tidak cerita yang sejujurnya padamu, ibu tau setelah kamu mengetahui yang sebenarnya kamu akan kecewa pada kami, tapi jujur ibu dan ayah mu sudah menganggapmu anak kandung kami sendiri tapi nak kamu sekarang sudah dewasa kamu berhak mengetahui sebenarnya kamu bukan anak kandung kami Alisa, kamu adalah anak dari adik ibu, ibumu sudah meninggal sehari sesudah ibumu melahirkanmu.


Ibu tidak bisa bicara banyak dikertas ini nak, carilah orang yang bernama Parjo Sujono dia tau semuanya nak, kamu berhak bahagia, ingat sayang jangan nangis*.


 


*Salam ibumu*


 


Alisa tidak bisa untuk menahan tangis dan amarahnya, disatu sisi dia sangat sayang dengan ayah dan ibunya disatu sisi dia juga sangat kecewa mereka menyembunyikan ini semua selama belasan tahun dari dirinya.


Hai kakak-kakak aku usahakan up terus ya tapi gak janji heheheh, terima kasih sudah mendukung author yang masih pemula ini, jika berkenan saya minta saran dari kakak-kakak sekalian❤🙏