My Struggle

My Struggle
Menitipkan Bayi Mungil



“Parjo apakah kita masih jauh?” Hari sudah hampir pagi


“Sedikit lagi kita sampai Iam” Jelas Parjo


“Tapi sepertinya ini jalan menuju kampung saya Parjo, apakah betul kamu akan membawa nona kesini?”


“Benarkah? Jadi ini kampungmu toh, baikalah sebenarnya saya mau membawa nona kepada Kakanya nyonya Lia Iam, setahu saya beliu belum dikasih kepercayaan sama tuhan untuk mendapatkan momongan, jadi saya pikir nona lebih aman disini” Jelas Parjo


“Benarkah? Apakah Nyonya Lia orang sini?” Tanya Mariam


“Iam-iam kamu memang sangat polos pantas saja gak ada yang mau sama kamu haha” Parjo memberikan sebuah lelucon pada Mariam


Waktu itu memang mereka sama-sama masih melajang dan belum mendapatkan pendamping hidupnya.


“Tidak lucu Parjo ayo cepat kita harus mengantarkan nona sebelum terbit fajar” Mariam menganggapnya dengan serius


“Baiklah laksanakan” Parjopun kembali serius.


**


“Nyonya saya punya kabar baik” seseorang sedang menelepon Rumini


Ya dia Bagas, dia berhasil menyogok dokter yang sudah merawat Lia tentunya dengan biaya yang tidak sedikit untuk mencari Informasi tentang Lia.


“Nyonya Lia meninggal karena pendarahan hebat setelah melahirkan sehingga nyawanyapun tidak tertolong” Ucapnya kembali


“Bagus, saya akan mentrasfer kembali jika kamu menemukan bayinya secepatnya” Jelas Rumini


“Baiklah secepatnya nyonya akan mendengar kabar baik lagi”


**


“Ayo iam kita sudah sampai” Mereka sudah berada dikediaman Lusi tepat pukul 3 pagi


Tok-tok-tok


“Apakah tidak sopan kita bertamu sepagi ini Parjo?” Taya Mariam Ragu


“Ini demi kebaikan nona Iam kita tidak punya pilihan lain”


Parjo kembali mengetuk pintu tidak berapa lama Surya dan Lusi keluar.


“Parjo kamu kenapa kesini?” tanya Lusi kaget


Tetapi Parjo malah memaksakan dirinya dan Mariam masuk sebelum Surya dan Lusi mempersilahkannya. Akhirnya mereka semua berkumpul di meja makan dirumah Surya.


“Ada apa ini sebenarnya?” Sahut Surya


“Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan adiku?” Tanya Lusi


“Dan Mariam kamu kenapa bisa bersama dengan Parjo? Dan ini siapa?” Lusi seperti sedang mengintimidasi mereka berdua.


“Sudahlah bu, ayo bawakan mereka dulu air kasihan mereka sangat kelelahan” Jelas Surya


Lusi membawakan dua gelas air dan senampan buah-buahan segar.


“Maaf nyonya saya membuat anda sekeluarga kaget dengan kedatangan kami” Jelas Parjo


“I Iya nyonya ceritanya sangat panjang sekali, dan tolong jaga nona kecil kami dia membutuhkan orang tua secepatnya” Jelas Mariam


“Sebentar saya sangat tidak mengerti tolong jelaskan dari awal insya Allah rumah kami aman” Jelas Lusi


Akhirnya Parjo yang menjelaskan semuanya walaupun tidak sedetail ceritanya tetapi bisa mewakili apa yang sedang terjadi karena memang waktu mereka sangat terbatas.


Lusi sangat tidak mempercayai cerita Parjo namun akhirnya dia yakin kerena buah hati Tyo dan Lia ada dihadapannya. Lusi meminta Alisa kecil yang sedang di gendong Mariam dan Mariam dengan senang hati memberikannya.


“Kenapa semua ini terjadi padamu nak” Air mata Lusi sudah tidak bisa dibendung lagi


“Terus dimana jenazah adik saya?” Tanya Lusi parau.


“Sekali lagi maafkan saya nyonya, saya harus membawa jenazah adik nyonya dengan diam-diam saya tidak mau mengorbankan keluarga nyonya Lia, beliau ada dimobil saya tapi dengan sangat saya mohon jangan ada orang yang tahu Nyonya Lusi” Parjo tertunduk


“Pak bagaimana ini?” Tanya Lusi pada Surya dia terus menangis sambil mendekap Alisa


“Saya sekaluarga mengucapkan terima kasih atas bantuan dari kalian, tanpa kalian mungkin Lia dan anaknya sudah tidak bisa tertolong lagi, saya akan sekuat tenaga menjaga keponakan saya dan masalah ibunya Alisa, kami akan menguburkannya di keluarga saya mungkin disana cukup aman” Jelas Surya.


“Kalau begitu kami pamit Nyonya tuan sekali lagi terima kasih karena berkenan menerima kami, kami sudah tidak ada pilihan lagi” Jelas Parjo


“Jangan sungkan-sungkan Parjo jika suatu saat nanti kalian perlu bantuan datanglah kemari pintu ini selalu terbuka lebar” Jelas Lusi


“Terima kasih nyonya sebaiknya kita harus secepatnya mengurus pemakaman nyonya Lia” Sahut Mariam


“Tidak perlu biar saya yang mengurusnya” Ucap Surya


“Baiklah anggaplah nona Alisa sebagai anak kalian jangan sampai satu orangpun mengetahui asal-usul nona” Jelas Parjo dan dia langsung kembali ke Kota A.


**


“Mass Tyoo” Rumini berpura-pura menangis disamping Tyo


“Orang-orangku sudah mencari Lia tetapi kabar terakhir yang aku dengar dia sudah tiada mass” Jelas Rumini


“Apa? apa kamu bilang?” Tyo menepis tangan Rumini yang sedang bergelayut manja ditangannya


Tyo akan beranjak dan sudah mau keluar dari rumahnya untuk mencari Lia dan anaknya namun dia kaget dengan kedatangan Parjo dan Mariam.


“Maafkan saya tuan, saya berhak untuk dihukum apapun hukumannya” Mariam bersimpuh dikaki Tyo, sementara Parjo tertunduk


“Apa maksudmu Mariam?” Tanya Tyo keheranan


Mariam menjelaskan semuanya,dia terpaksa berbohong untuk kebaikan semua karena jika tidak pasti Rumini akan melakukan perbuataan yang tidak-tidak.


“Dasar orang gak berguna” Tyo menyingkirkan Mariam dengan kasar.


Parjo yang melihat itu semua sangat merasa bersalah karena ini juga bagian dari rencana Parjo dan Mariam untuk terakhir kalinya dan dia dengan sigap langsung menolong Mariam.


“Tuan jangan bersikap kasar pada Mariam karena ini semua bukan salah Mariam sepenuhnya” Parjo langsung membantu Mariam bangkit.


“Apa tau kamu hah? Apakah kamu bisa mengembalikan istri dan Anaku?” Bentak Tyo


“Maaf tuan tapi Mariam sudah sekuat tenaga menjaga mereka dan disini bukan salah Mariam saja saya juga yang salah karena tidak bisa mengantar mereka” Jelas Parjo tertunduK.


“Aaaagghhr semua memamng tidak berguna, kalian pergi dari sini dan jangan pernah menampakan muka kalian lagi disini” Tyo Prustasi


Rumini hanya menyaksikan drama ini dari atas tangga senyum di wajahnya mengembang.


**


Setelah pemakaman Lia Surya dan Lusi kembali ke orang tua surya dia belum bisa membawa Alisa ke rumahnya yang dulu karena takut dicurigai warga desa. Lusi dan Surya terpaksa berpura-pura hamil dan melahirkan Alisa agar semuanya berjalan dengan rencana mereka.


***


“Bibi, bibi kenapa?” Tanya Alisa


Nafas Mariam sudah tersendat-sendat dia sudah tidak kuat lagi menceritakan semuanya, tetapi ada satu kalimat yang berhasil lolos dari mulutnya.


“Kamu kuat Al, cincin ini bisa meyakinkan ayah kamu bahwa kamu anaknya, selamatkan dia bibi tau dia dalam masalah sekarang ini” Mariam menghirup udara sangat dalam namun serasa ada yang menghalangi udara itu untuk masuk ke rongga hidungnya


“Sa satu la lagi Al, ji jika ingin menyelamatkan ayah mu bekerjalah di rumah sakit Permata hanya satu-satunya jalan yang bi bi bisa membantunya, kamu akan mengerti, dan selamatkan juga Parjo saya yakin dia dalam bahaya cari tahu kematian ayah angkatmu” Kalimat Mariam sudah terpotong-potong dan bicaranya sudah sangat pelan.


Perjuangan Mariam terhenti sampai sini dia sudah tertidur untuk selamanya, Alisa histeris disamping Mariam yang sudah terbujur kaku matanya sangat-sangat bengkak karena terlalu lama menangis.


-


-


-


-


-Salam❤