
“Lepasin tangan gue Zen” Alisa kesakitan Zen menariknya terlalu keras
Mereka sudah berada didalam taksi.
“Alisa lo apa-apan, dan kenapa si cowok berandalan tadi ada sama lo?” Tanya Zen menyelidik
“Kenapa siih semua orang kaya yang kaget gue sama Arley, dia gak seburuk yang lo bayangin Zen” Jelas Alisa
“Lagi-lagi lo gini Alisa, udah berapa kali gue beritahu lo dia itu laki-laki gak bener, berandalan pem*buk, Penj*di, dan dia pemakai aktif narkoba dan lo bisa-bisanya seakrab gitu?”
“Semua orang bisa berubah Zen, dan asal lo tahu ya kita gak sengaja ketemu di perpustakaan dan gue gak sengaja menabraknya” Alisa mencoba membela dirinya
“Apa? jadi lo baru ketemu dan lo gak sengaja nabraknya dan terus sebagai permohonan maafnya lo ngajak dia kerestauran gitu? Segampang itu lo ya percaya sama orang baru”
“Bukan gue tapi dia yang ajak gue Zen”
“Dan lo mau? Hah cewek macam apa lo, pantesan si Cristy marah besar sama lo” Zen sedikit berbicara kasar agar alisa sadar dari sikapnya.
“Zen gue gak seperti yang lo bayangin ya, gue kecewa sama lo yang selalu menyimpulkan sesuatu dengan cepat” Alisa memberhentikan taksi dan dia turun ditengah jalan
“Aliiisaa lo mau kemana?” Zen sedikit berteriak
“Akhhhgggrr, kenapa jadi gini sih” Batin Zen
Sementara Arley, Bela dan Cristy sedang merayakan rencana yang sedikit berhasil direstaurant yang sama.
Alisa memesan taxi lain dan dia sudah sampai di apartemen Bela, dia secepat mungkin membereskan barang-barangnya.
“Alisa lo mau kemana?” Bela baru saja pulang dari restaurant
“Gue mau nyari apartement lain, gue gak mau ngebebani lo terus dan oh iya terima kasih untuk satu minggu ini” Jelas Alisa
“Lo yakin? Apa perlu gue cari apartement buat lo? Soalnya disini gak ada yang kosong”
Alisa masih kekeh ingin pergi, tetapi Bela dengan otak liciknya langsung menemukan akal busuknya dia menelepon Raka agar bisa membantu Alisa, apapun rencananya pasti selalu berdampak buruk bagi bagi adik tirinya itu.
“Raka lo?” Tanya Alisa yang baru saja keluar dari apartemen Bela
“Ada apa?” tanyanya kembali
“Hm gue tahu lo ada masalah Al, gue bisa membantu lo” Ucap Raka
“Gue gak mau ngebebani orang Ka, gue bisa sendiri”
Raka memberikan alasan dan saran yang masuk akal agar Alisa mau menerima bantuan darinya, benih-benih cintapun tumbuh didalam hati seorang laki-laki normal, baginya Alisa adalah tipe yang dia inginkan.
“Tapi janji lo yah secepatnya harus nemuin apartemen yang baru buat gue, jangan besar-besar yang penting nyaman aja” Jelas Alisa
“Siap gue akan usahakan, dan sebelum gue dapet apartement baru buat lo, lo harus nginep dulu diapartemen gue karena memang gak gamapng nyarinya” Jelas Raka
“Gue gak mau Ka lo gila ya? Apartemen lo kan cowok semua dan gue? Gue harus tidur dimana?”
Memang apartemen Raka khusus Cowok pelajar maupun pegawai kantoran, dan apartemen Zen memang di khususkan untuk wanita dan sayangnya apartemennya sudah penuh.
“Gue janji gak akan ngapa-ngapain lo, lo tidur dikamar gue aja, gua akan usahakan dua atau tiga hari kedepan gue akan dapetin apartemennya”
Alisa telah salah melihat Raka, dia melihat kesengguhan ada dimatanya Raka, sedangkan Raka waktu itu memang sedang dimabuk asmara dan untuk pertama kalinya dia jatuh cinta.
Mereka melakukan aktivitas seperti biasanya, tidak lupa Raka menjemput sepupu kesayangannya untuk berangkat bersama walaupun kampus mereka berbeda.
“Al, soal kemarin maafin gue ya gue terlalu kebawa emosi” Zen menunduk
“Gakpapa Zen gue ngerti kok, ya gue terlalu tidak enakan sama orang jadi gini deh” Alisa berusaha mencairkan suasana
“Oh iya dan kata si Bela lo bener diusir dari rumah si Cristy? Jahat banget sih tuh orang” jelas Zen
Raka hanya diam, dia memang sudah tahu sebelumnya dari Bela.
“Terus lo diem aja gitu? Gak ngebela diri? Dan sekarang lo tinggal dimana? Kata si Bela lo mau nyari apartemen baru?” Zen sudah kaya detektif terus menanyai Alisa
“Gue ngebela dirii kok Zen tapi dady lebih memilih anak kesayangannya, gue gakbisa apa-apa lagi, dan soal tem[at tinggal..-“ Kalimat Alisa terpotong karena Raka mendahuluinya.
“Dia tinggal sama gue Zen untuk dua atau tiga hari kedepan sebelum gue dapetin apartemen baru” Raka berusaha focus
“Apa? gue gak salah denger Ka? Tinggal sama lo? Apartemen lo kan sempit?” dia tidak habis pikir sama sepupunya sendiri
“Dan satu lagi setahu gue itukan apartemen khusus cowok, kok lo berani-beraninya bawa cewek ke kamar lo?" Zen terus nyerocos
“Apa mungkin yang dikatakan Bela benar?” Batin Zen
**
“Zen si Alisa ada sama lo gak?” Tanya Bela berpura-pura
“Gak ada emang kemana? Katanya kan numpang diapartemen lo?, masa lo gak tau dia kemana” Jawab Zen disebrang telpon
“Oh kirain sama lo, apa mungkin sama si Raka ya soalnya tadi gue liat mereka dibwah tadi” Bela berusaha mempengaruhi Zen
“Kok gue gak tau sih”
“Oh ya udah ya kalau gak tau, gue hanya khawatir aja sama si Alisa karena dia mau nyari apartemen baru sedangkan nyarinyakan kalau disini susah”
“Oh iya jangan terlalu percaya sama sahabat lo itu, gue takut nasib lo sama kaya si Cristy” Jelas bela
“Apa maksud lo?” Tanya Zen heran
“Eh ngga udah ya bye” Bela menutup telponnya
“Nasib gue kaya si Cristy, aneh banget si Bela” Batin Zen
**
“Kita gak ngapa-ngapain kok Zen ya kan Ka?” Tanya Alisa
“Zen lo tahu kan nyari apartemen disini itu susah, emangnya di Indonesia ini New York Zen negeri orang” Raka mencoba menjelaskan semuanya
“Raka di tradisi gue yang namanya perempuan dan laki-laki yang belum sah dan sudah sekamar itu dosa besar lo gak pernah diajarin?”
“Dan lo Al gue kan pernah ajak lo satu kamar sama gue dan tinggal diapartemen bareng gue kenapa lo gak sama gue dulu sebelum Raka menemukan apartemen baru buat lo?” Tanya Zen
Zen sudah mulai terbawa emosinya, dia saja yang sepupunya belum pernah memasuki apartemenya Raka dan Alisa bukan siapa-siapanya Raka sudah pernah masuk bahkan tidur diapartemennya Raka.
“Gue gak mau terus-terusan ngebebanin lo Zen gue udah banyak utang budi sama lo” Jelas Alisa
“Utang budi kata lo? Lo masih anggap gue sahabat gak sih Al? lo gak mau sama gue lo cuman mau enak-enakan aja sama sepupu gue itu tujuan lo ya kan? Lo cuman mau ngerebut kebahagiaan gue itu mau lo?”
“Raka turunin gue disini gue udah muak sama sandiwara ini”
“Apa maksudnya Zen, gak gak ngerti apa yang lo omongin” Sahut Alisa yang memang tidak tahu menau
“Tapi belum sampai Zen masih 15 lagi” Jelas
“Berhenti gak? Atau gue harus lompat” Ancam Zen
Zen turun dengan perasaan campur aduk, antara harus mempercayai Alisa atau Bela, semua yang dikatakan Bela menurutnya ada benarnya juga. Raka sampai mengijinkan Alisa memasuki apartemennya yang emosi Zen makin tak terkendali.
-
-
-
-Salam❤