Marriage Contract

Marriage Contract
Kemarahan Davin



Davin menarik tangan Kania kasar dan menatapnya tajam. Ia membawa Kania ke sudut rumah sakit yang sepi dan bertanya tentang bagaimana bisa Rico mengantarnya.


"Saya cuma naik angkutan online, ngga tau orang itu siapa"


"Angkutan online? Mana saya mau liat track recordnya"


Dengan tangan gemetar, Kania membuka aplikasi angkutan online miliknya. Kemudian membuka riwayat transaksi yang tertera pada aplikasi. Davin mengambil ponsel Kania dari tangannya.


"Mana? Ngga ada nama atau foto Rico. Kamu bohongin saya?" tanya Davin dengan nada bicara yang mulai naik


Mata Kania berkaca-kaca. Bibirnya kelu, ia tak sanggup mengatakan apapun lagi. Davin pergi meninggalkan Kania yang masih mematung. Bulir air mata mulai menetes satu persatu di atas pipinya, ia merasakan lelah hari ini baik secara fisik maupun mentalnya.


Kania memasuki toilet, menghapus air matanya dan memperbaiki riasan wajahnya. Setelah merasa lebih baik, ia menaiki lift lalu berjalan menuju ruang inap Ayah Davin.


Kania membuka pintu dan menyapa orangtua Davin. Ia mendapat sambutan yang hangat dari mereka namun tidak dengan Davin. Davin sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Ada yang lagi ngambek ya kayanya?" ucap Mamah Davin


Kania hanya diam tidak menjawab, Ayah Davin hanya tersenyum melihat Kania yang terdiam.


"Vin kamu yang nyetir kan? Mamah sama Ayah bareng mobil kamu aja jadi ngga usah minta jemput supir ya"


"Iya Mah"


"Oke semuanya udah siap, yuk ke bawah"


Sesampainya di rumah orangtua Davin, mereka berempat makan bersama di ruang makan. Tak ada obrolan yang serius hanya saling menanyakan kabar satu sama lain.


Davin pergi ke kamar Mamahnya, sementara Kania duduk di ruang keluarga menemani ayah Davin menonton televisi.


"Kania"


"Iya Ayah"


"Jangan tinggalin Davin ya apapun yang terjadi. Memang ada waktu dia egois atau emosional tapi dia orang yang bertanggung jawab dan baik"


"Iya Ayah"


"Kamu harus sabar ngadepin Davin, karena dibalik sifatnya yang dewasa dia masih punya sifat childish dan mau menang sendiri. Kamu tau kan kalo dia lagi ngambek harus gimana?"


"Minta maaf Ayah"


"Ya betul. Tunggu aja sampai perasaannya membaik, nanti sikapnya berubah lagi seperti biasanya"


"Iya Ayah. Ayah udah sehat?"


"Udah lebih baik. Ayah titip Davin ya" ucapnya sambil tersenyum.


Setelah selesai berbincang dan istirahat beberapa waktu di rumah orangtua Davin, Kania dan Davin pamit kembali ke rumah.


Hening, tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Kania tidak berani menatap wajah Davin yang sedang marah kepadanya. Devin menaikkan kecepatan mobilnya hingga 100km/jam. Karena tidak bisa melayangkan protes Kania hanya diam dan memegang seat belt yang melingkar di tubuhnya dengan kencang.


Mobil berhenti mendadak, Davin meminta Kania untuk keluar dari mobilnya. Kania diam sepersekian detik tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Sebenci itukah Davin padanya saat ini?


Kania membuka pintu mobil, dan turun dengan cepat. Tanpa menunggu sedetikpun mobil yang baru saja ada dihadapannya melaju dengan sangat cepat. Di satu sisi ia sedih karena Davin marah padaya, namun di sisi lain ia khawatir akan terjadi sesuatu dengan Davin karena sedang dalam keadaan emosional seperti saat ini.


Kembali ke rumah, berarti kembali ke realita yang harus dihadapinya lagi. Ingin sekali ia menceritakan kesulitannya berada di rumah itu, namun tidak ada seorangpun yang bisa ia bagi ceritanya.


Kania merasakan sesak di dada, namun tidak satupun air mata keluar dari pelupuk matanya. Langit mulai menampakkan warna gelap, ia masih berada di tempat yang sama. Melihat beberapa akun media sosial miliknya lalu menutupnya kembali. Ia melakukan itu berulang ulang.


Setelah merasa bosan, Kania pulang dengan angkutan online dan sedikit berbincang dengan supir membuatnya merasa sedikit lebih baik.


Kania membuka pintu kamarnya, kemudian menaruh tasnya di atas meja. Ia menyenggol tumpukan buku yang ada didepannya alhasil semua buku terjatuh ke lantai. saat mengambil buku satu persatu tidak terasa air matanya mulai menetes satu demi satu hingga akhirnya tak terbendung lagi.


Dengan posisi terduduk Kania menangis tersedu-sedu. Selain menangis karena lelah, ia juga menangis karena note tugas yang belum sama sekali ia kerjakan.


Setelah puas menangis, Kania meraih ponselnya dan mengirim permintaan maaf kepada Davin. Ia menyadari kesalahan yang dibuatnya.


"Mas Davin saya minta maaf, saya ngga bermaksud berbohong"


Tidak mendapati balasan apapun, Kania mematikan ponselnya. Membersihkan dirinya dari peluh dan polusi karena seharian berada di luar rumah.


Satu minggu berlalu, Kania bahkan tidak pernah melihat Davin lagi di rumah ini. Rumah yang besar namun seperti tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Ia duduk di taman yang ada di samping rumah. Menatap bintang yang ada di langit dan menghitungnya.


Bosan menunggu lama, ia mengambil beberapa ice cream yang ada di kulkas. Menikmati ice cream dengan berbagai rasa membuatnya menjadi lebih rileks. Kerinduan kepada orangtuanya menyeruak ke dalam hati. Matanya berkaca-kaca, tanpa disadari sudah satu bulan lebih ia tidak bertemu mereka.


Suara deru mobil mulai terdengar, Kania mengusap wajahnya yang sudah basah karena air mata. Ia sudah menyiapkan kata-kata yang akan diucapkan kepada Davin. Tak lama berselang, Davin memasuki ruang tamu dan Kania memberikan senyum kepadanya.


Davin terus berjalan tanpa mempedulikan keberadaan Kania.


"Mas Davin saya mau bicara" ucap Kania sambil mensejajarkan langkah Davin


Kania mengekori Davin di belakangnya. Saat Davin menaiki tangga, Kania menghentikan langkahnya. Ia teringat batas di rumah ini. Tidak ada satupun yang boleh pergi ke lantai atas tanpa terkecuali dirinya.


Kania memandang punggung Davin yang semakin tidak terjangkau oleh pandangan matanya. Ia menyerah membujuk Davin. Sudah berbagai cara dilakukannya, namun tak satupun berhasil. Ia mengirim banyak pesan namun tidak pernah dibaca sama sekali. Dan beberapa kali membuatkan bekal makan siang, namun tidak pernah disentuh bahkan dilirik olehnya.


Sejak awal Kania sudah menyadari bahwa akan selalu ada jarak diantara mereka. Namun untuk jarak kali ini terlalu jauh dan tidak bisa dijangkau olehnya. Dengan perasaan kecewa Kania memasuki kamarnya dan melakukan berbagai tugas yang ia miliki. Lalu melakukan panggilan telepon bersama Jeny untuk mengusir rasa jenuhnya.


Jeny menceritakan kesehariannya pasca kenaikan jabatan di kantornya. Ia terlihat sangat senang dengan berbagai pengalaman baru yang dirasakannya, namun juga mengeluhkan beberapa tanggung jawab yang ia miliki saat ini.


"Eh ia kayanya lu punya cowo ngga sih?"


"Ko gitu? Emang kenapa?"


"Ngga gerak gerik lu beda aja pas kemaren ketemu"


"Beda apanya sih, sama aja ah"


"Bedaa, ngaku lu udah punya cowo yaaa. Ko ngga bilang bilang sih, curaaang"


"Ngga ada, kalo punya juga gue pasti cerita lah"


"Bener yah?"


"Iya zeyengkuuh"


"Yaudah gue mau bobo yah, bye cantiik"


"Bye juga cantik"