
Dengan beberapa rencananya yang sudah ada dikepala, Kania meyakinkan dirinya untuk bisa melewati hari ini. Ia menerawang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi dan memilih memasrahkan semuanya. Bagaimanapun yang akan terjadi, ia akan berusaha keras untuk bisa menjalankan semua kewajibannya.
"Tugas minggu depan silahkan lakukan wawancara dengan pemilik umkm dan ajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang sudah dipelajari hari ini. kirimkan file suara, laporan hasil wawancara dan foto bersama narasumber. Kirimkan ke email saya paling lambat jam 12 malam hari selasa. Yang terlambat atau tidak mengerjakan akan mendapat tugas tambahan. Oke saya akhiri kelas hari ini, sampai bertemu minggu depan" ucap Pak Vino
Kania bergegas merapikan alat tulisnya dan memesan angkutan online. Dengan estimasi waktu yang tersedia pada aplikasi, ia yakin tidak akan terlambat dan datang tepat waktu.
Setelah menyampaikan izin di kelas public speaking yang seharusnya diikuti siang ini, Kania menyempatkan membeli baju untuk dipakai ke rumah sakit bersama Davin sore nanti. Ia berjaga-jaga jika tidak sempat pulang ke rumah.
Melihat kondisi jalan yang macet, Kania bertambah stress karena khawatir rencananya berantakan. Sesekali ia berfikir untuk jujur kepada Jeny, namun itu akan melanggar perjanjian yang sudah ia setujui dengan Davin.
Jam menunjukan pukul 12 siang, namun Kania masih berada dalam perjalanan. Entah sudah berapa kali ia bertanya kepada supir tentang kapan akan sampai di tempat tujuan. Beruntung supir itu sabar menghadapinya.
Jeny memberi kabar bahwa ia sudah di tempat makan yang akan mereka datangi. Jantung Kania berpacu lebih cepat, ia takut Jeny meninggalkan tempat lebih dulu karena terlalu lama menunggu dan usahanya sia-sia.
Setengah berlari Kania memasuki food court yang dituju dan mendapati sahabatnya sedang duduk sendirian sambil memainkan gelas dihadapannya.
"Jen maaf ya gue telat. Udah lama ya nunggunya?"
"Menurut lo?"
"Ada deadline kerjaan soalnya tadi"
"Beliin gue ice cream pokonya"
"Siaap"
"Tapi lu emang kebiasaan banget ya telat, kalo 5 menit lagi ngga dateng udah gue tinggal tadi"
"Ini gue udah nyampe kan"
"Tau ah"
"Yaudah ayo pesen. Eh bagi minum dong aus banget gue" ucap Kania seraya mengambil minuman Jeny
"Sini gue aja yang pesenin"
"Gue lari-larian tau" ucap Kania dengan nafas yang masih sedikit tersengal-sengal
Jeny hanya melirik ke arah Kania lalu memberikan kembali minuman yang ada di hadapannya.
"Abisin tuh"
Jeny menceritakan tentang perjalanan dinasnya kali ini. Ia mendapat pujian dari atasannya karena berhasil membujuk investor untuk bekerjasama dengan perusahaan tempat ia bekerja.
"Selamat ya Jen, keren sih lu"
"Makasih ya gue cuma kerja sepenuh hati aja sih"
"Emang kalo tulus sama ikhlas kinerjanya baik biasanya"
"Eh kerjaan lo gimana?"
"Ya gitu sih masih harus banyak belajar. sementara ini masih masa probation dulu 3 bulan"
"Kerjain aja ia nanti juga ketemu passionnya dimana yang penting pengalaman dulu"
"Iya sih bener. pengalaman kerja penting banget buat karier selanjutnya. Eh lu jadi sadap hp nya Renald?"
"Iya udah"
"Terus?"
Kania menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
"Tapi sekarang gue udah baik-baik aja"
"Syukur deh Jen, tapi ngga apa-apa juga kalo lo masih ngerasa sedih atau ngga terima sama keadaan yang sekarang. Setiap orang punya waktu yang berbeda buat sembuh dari lukanya. Nangis aja kalo emang lo masih pengen nangis jangan ditepis supaya semuanya clear. Dan di waktu yang tepat lu bisa nerima orang baru, tanpa inget-inget masa lalu lagi"
"Iya makasih ya Ia"
"Iya sama-sama bebeh"
Makanan dihidangkan di hadapan mereka. Setelah mengupload beberapa foto bersama, mereka makan dengan lahap. Sembari bercerita beberapa kejadian yang menarik yang ada di kantor. Kania juga menceritakan beberapa cerita karangan yang dibuat seolah benar-benar terjadi di kantor tempatnya bekerja.
Nasi sudah menjadi bubur, berawal dari satu kebohongan mungkin dibutuhkan seratus kebohongan untuk menutupinya. Setelah bertemu dengan Jeny hari ini, ia akan mengakhiri kebohongannya sesegera mungkin sebelum melangkah terlalu jauh.
Jeny berpamitan karena harus melanjutkan pekerjaannya yang lain. Kania memesan angkutan online namun tidak ada satupun yang menerima pesanannya. Dengan waktu yang semakin mepet, ia memberanikan diri mengetuk pintu mobil yang ada di hadapannya.
"Halo Pak maaf ganggu. Bapak lagi sibuk ngga?" ucap Kania dengan ragu
"Ngga kenapa?"
"Bisa anter saya ke Surabaya ngga Pak? driver online lagi sibuk semua soalnya saya udah pesen dari tadi belum dapet dapet"
"Sebentar" ucap Bapak itu sambil melihat handphonenya
"Tarifnya 700 ribu " ucap bapak itu
Tanpa fikir panjang Kania mengiyakan tawaran tersebut tanpa mengkhawatirkan keselamatannya sama sekali. Bapak itu menatap heran Kania karena tidak menyangka akan disetujui tarif perjalanan yang disebutkannya dengan asal. Kania menaiki mobil yang sudah dipesannya dari orang random tersebut.
Ketika dalam perjalanan Davin menelepon, dan memberitahukan bahwa waktu mereka ke rumah sakit dimajukan menjadi jam 4 sore. Kembali, kepanikan menyelimuti Kania yang kala itu masih santai karena yakin tidak akan terlambat.
"Pak bisa agak ngebut ngga? soalnya saya buru-buru"
"Iyah"
Setelah menaikan kecepatan dan tidak ada kendala perjalanan, lagi-lagi Kania harus bersabar dengan kondisi jalanan yang macet. Ia mulai pasrah dengan keadaan dan menerima jika harus ditegur oleh Davin.
Waktu menunjukan pukul 15.30 WIB, estimasi waktu sampai di rumah sakit adalah sekitar 10 menit jika tanpa hambatan. Kania meminta Bapak pengemudi menepi ke toilet umum karena tidak ada waktu lagi untuk berganti pakaian selain disana.
Ponsel Kania kembali bergetar, Davin memberi kabar bahwa ia sudah berada di parkiran rumah sakit dan akan menunggu di lobby. Kania membalas pesan dengan kilat dan segera kembali ke mobil.
Kania memberikan uang kepada bapak pengemudi dan mengucapkan rasa terimakasihnya dan hanya dibalas dengan senyum tipis. Davin terlihat berdiri didepan pintu masuk rumah sakit. Mobil yang dinaikinya berhenti tepat didepannya.
Kania keluar mobil dan menghampiri Davin, Bapak pengemudi membuka kaca mobilnya dan terseyum ke arah Davin. Setelah terseyum, Davin menoleh ke mobil yang membawa Kania.
"Rico?" ucap Davin
Rico keluar dari mobil dan menghampiri Davin semetara Kania masih berdiri menghadap Davin, ia hanya menoleh keheranan.
"Sebentar ya, hangtag bajunya belum dilepas" ucap Rico sambil memegang hangtag yang masih menjuntai di belakang baju Kania.
Davin menarik tangan Kania ke belakang punggungnya.
"Kenapa Davin? Gue cuma mau bantu" ucap Rico menyeringai
"Gue ngga butuh, jangan pernah muncul di hadapan gue lagi" ucap Davin
"Kenapa? Lu ngga akan pernah tenang sampe Indy bahagia Davin. Cewek ini mau lu bikin kaya indy lagi?" ucap Rico dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Psycho" ucap Davin sambil menarik tangan Kania dan berlalu meninggalkan Rico sendirian.