
Karena merasa bersalah, Kania tidak berani mengeluarkan protes atas tindakan Davin. Tanpa aba-aba mobil yang dikendarainya melaju kencang hingga mencapai kecepatan maksimal. Karena ulahnya sendiri, Kania harus melewati ini semua termasuk ketakutan dan kepanikan dalam waktu yang bersamaan. Hanya satu hal yang ada di kepalanya saat ini yaitu apa yang harus diucapkannya kepada Davin. Namun, apapun yang keluar dari bibirnya nanti hanya akan terdengar sebagai sebuah alasan.
Tak butuh waktu lama mobil berhenti di depan pagar kediaman rumah Davin. Begitu mobil berhenti Davin langsung keluar dari mobil dan menarik paksa tangan Kania. Dengan langkah kecilnya, Kania setengah berlari untuk mensejajarkan langkah Davin yang tergesa-gesa. Ia dibawa ke kantor pribadi yang ada di lantai bawah. Selain panik, Kania merasakan pergelangan tangannya yang mulai sakit. Namun, sedikit mereda karena kini Davin sudah melepaskannya. Davin membelakangi Kania dan terdengar nafasnya yang tersengal.
Buk... Davin memukulkan telapak tangannya ke dinding yang berada tepat di samping kepala Kania. Sementara Kania masih terdiam mematung, tubuhnya terasa lemas dan dinding yang disandari menopang dengan kuat.
"Kamu ngga denger apa yang saya bilang"
"Maaf mas"
"Kamu udah mulai ngeremehin saya ya, kamu kira dengan minta maaf masalah selesai? Dengan maaf kamu boleh ngelakuin apa aja semau kamu?" ucap Davin dengan nada tinggi, wajahnya memerah karena amarah menguasai dirinya.
Kania terdiam tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, air matanya menyeruak dan berjatuhan diatas pipinya.
"Inget ya, saya paling ngga suka dibantah. Setiap yang keluar dari bibir saya itu perintah dan kamu ngga berhak buat menolaknya. Pakai dulu otak kamu sebelum bertindak. Satu hal lagi, inget posisi kamu di rumah ini"
Kania tidak mempercayai apa yang baru saja didengar oleh telinganya sendiri. Tegakah Davin mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya?
Tanpa pikir panjang, Kania langsung berlari menghampiri kamar pribadi miliknya. Milik Davin tepatnya, karena tidak ada satupun bagian di rumah ini yang menjadi milik Kania.
Ia menangis tersedu-sedu sembari memeluk boneka besar yang tergelatak diatas kasur. Kania menyesali kebodohannya karena menerima kontrak kerjasama ini, juga menyesali kebodohannya telah menaruh hati kepada Davin yang jelas-jelas hanya melihatnya sebagai salah satu pegawai yang harus melakukan segala hal yang diperintahkan.
Sunyi tak ada satupun suara yang terdengar di rumah ini, kecuali suara tangisan kecil yang keluar dari balik bantal yang masih belum selesai hingga dini hari.
Pukul tujuh pagi, Kania keluar dari kamarnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung mungilnya. Setelah sarapan, ia bergegas keluar rumah dan berangkat untuk mengikuti kelas yang sudah terjadwal dengan rapi.
Dan pulang ke rumah pukul 3 siang agar tidak bertemu dengan Davin walaupun secara tidak sengaja. Demi Tuhan, Kania sangat membencinya saat ini. Laki-laki tak berperasaan yang hanya bersikap dan berucap sesuka hatinya. Kontak nama Davin pada ponsel Kania bukan lagi "Mas Davin" melaikan "Mr.Angry". " Sesuai bukan dengan sikapnya yang selalu marah-marah" batinnya.
Kania mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Tidak ada lagi yang membuatnya harus bertahan. Lebih tepatnya, ia mencari satu alasan yang bisa membuat dirinya ingin bertahan. Tak ada satupun tempat untuk bertanya, namun jika ia bercerita kepada orang terdekatnya pastilah mereka akan menyalahkan kebodohannya karena mau mengambil kesepakatan ini. Ia merasa sejak awal semuanya sudah salah dan ingin sekali mengakhiri kontrak ini. Namun ia teringat salah satu bagian kesepakatan yang sudah disetujuinya bersama dengan Davin yang berbunyi "Tidak ada hal apapun yang bisa membatalkan kontrak ini kecuali atas keinginan ataupun permintaan dari pihak pertama".
Setelah lama menghabiskan waktunya sendiri, Kania menjadi banyak berfikir dan merenungkan yang terjadi saat ini. Ia mengambil kesimpulan bahwa perkataan Davin malam itu memang benar. Hanya saja, itu terdengar menyakitkan karena diucapkan dengan lantang.
Perlahan Kania kembali melakukan aktifitas seperti sebelumnya seperti memasak, bermain di area kolam renang dan menatap langit di taman belakang saat malam. Kali ini hal yang dilakukannya adalah memasak menu yang baru saja dipelajarinya minggu lalu. Ketika berada di dapur Bi Ijah menyapa Kania yang tengah asyik dengan kegiatannya.
"Baru keliatan lagi Non?"
"Kemaren Mas Davin nanyain Non, Bibi bilang Non ngga keluar kamar selama 3 hari ini. Waktu di dapur Bibi liat Mas Davin berdiri di depan pintu kamar Non"
"Ooh iya Bi"
Tak ada lagi percakapan setelahnya, Kania tidak tahu harus menjawab seperti apa. Namun, ia bertekad ke depannya untuk tidak melibatkan perasaan apapun yang terjadi nanti. Lagipula, Kania tidak memiliki hak untuk marah. Bukankah hak marah hanya dimiliki oleh seseorang yang merasa dekat? Dan dalam kejadian ini sepertinya hanya Kania yang merasa dekat, tidak dengan Davin.
Setelah proses memasak selesai, Kania menyiapkan sebuah piring dan menyajikan makanannya di atas piring. Merasa puas dengan hasil masakannya, ia memotretnya dan memposting foto tersebut ke akun sosial media yang dimilikinya. Dengan menambahkan sebuah tulisan "dinner time" diiringi dengan emoticon hati berwarna merah.
Kania menikmati makanan yang dibuatnya dengan view taman belakang yang menjadi salah satu spot favoritnya. Ia tersenyum sambil melihat ikan-ikan yang berada di kolam sedang berenang kesana kemari. Rasanya menyenangkan menghirup udara luar kembali setelah waktu yang dihabiskannya di dalam kamar dalam beberapa waktu terakhir.
Makan selesai, Kania memegangi perutnya yang kekenyangan karena makanan yang masuk ke perut lebih banyak dari biasanya. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat, lalu memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. Davin terlihat santai dengan kaus putih dan celana sport berwarna hitam. Ia duduk di samping Kania yang kini melihat ke arah depan, entah apa yang sedang diperhatikan olehnya.
"Maaf"
"Untuk?"
"Perkataan saya malam itu"
"Ngga ada yang harus dimaafin karena yang diucapkan Mas Davin itu benar. Mungkin, sesaat saya memang lupa tentang tugas dan posisi saya di rumah ini"
"Kamu marah?"
"Saya ngga punya hak buat marah Mas, apapun yang diucapkan ataupun dilakukan Mas Davin kepada saya. Lagipula, yang terjadi kemarin adalah kesalahan saya karena tidak mendengarkan perintah anda. Untuk kedepannya saya akan lebih berhati-hati dan menjaga sikap, juga menggunakan otak saya sebelum bertindak"
Davin terkejut dengan jawaban Kania yang baru saja didengarnya. Ia tidak tahu perkataannya malam itu akan sangat membekas dalam hati wanita yang sedang duduk disampingnya saat ini.
"Saya cenderung ngga bisa mengontrol ucapan saat marah, maaf saya kelewatan"
"Iya Mas"
Tak ada pergerakan dari bibir Kania. Meskipun didalam benaknya banyak yang ingin disampaikan, namun ia tetap memilih diam dan tidak menanggapi perkataan tersebut dengan hal lain. Davin memilih pergi setelah mendapatkan tanggapan atas permintaan maaf yang disampaikannya beberapa saat yang lalu. Ingin sekali, ia memberi tahu tentang ancaman yang diterima olehnya. Namun, ia tidak ingin Kania merasa resah dan tidak aman hingga membuat hari-harinya terganggu. Tanpa sepengetahuan Kania, Davin sudah mempekerjakan seseorang untuk mengawasi Kania dari kejauhan saat ia berada diluar rumah