
Setelah menunggu hampir 1 jam akhirnya Hendri sadarkan diri.
"Pah akhirnya kamu bangun juga" Laras yang sedari tadi menunggu dengan cemas akhirnya bisa merasa lega melihat suaminya terbangun.
"Aku kenapa Mah?" tanya Hendri yang merasa bingung karena dia menyadari dirinya terbangun di rumah sakit.
"Tadi Papah pingsan jadi dibawa kerumah sakit" Laras yang masih sedikit khawatir terus menggengam tangan suaminya.
"Pah gimana keadaan Papah? apa yang Papah rasain?" Loy yang sedari tadi diam disamping Mamanya akhirnya bertanya.
"Papah gak apa-apa, cuma papah merasa pusing aja" Jawab Hendri yang memang merasa dirinya begitu pusing.
"Yaudah Loy balik kantor lagi ya Pah".
"Loy tunggu"
"Ya kenapa Pah?"
"Kesini" Hendri menjentikan jarinya menyuruh anaknya untuk duduk di sisi ranjangnya. "Mah bisa tolong tinggalin kita?".
"Iya" Laras tanpa banyak bertanya langsung bergegas keluar ruangan tersebut.
Hendri menggengam jemari anaknya "Loy, Papa mohon nikahlah sama Indira, demi keberlangsungan perusahaan kita" Hendri semakin kuat menggengam jemari anaknya seolah ia takut menerima penolakan.
"Pah, Loy belum" Ucapannya terpotong karena Hendri langsung menyela.
"Tolonglah Nak".
"Tapi bukannya perusahaan kita baik-baik saja, dan sekarang pun juga masih stabil"
"Papa udah janji sama Deri untuk menikahkan kamu sama Indira".
Kata-kata Hendri seperti sengatan listrik bagi Loy, ia diam membatu mencerna setiap ucapan yang papanya lontarkan.
"Iya, aku akan menikahi Indira" Loy akhirnya hanya bisa pasrah dengan keputusan papanya.
"Terima kasih nak,terima kasih" Hendri tampak begitu bahagia mendengar keputusan anaknya, ia merasa begitu lega.
"Yaudah Loy mau balik kantor Pah, Papah baik-baik dan segera sembuh".
"Iya nak, pasti papa bakal segera sembuh" .
Loy akhirnya kembali ke kantornya untuk membereskan sisa pekerjaan yang ia tinggal tadi siang meski kini sudah memasuki waktu senja.
Ia mulai sibuk dan tenggelam dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya, hingga ponselnya berdering ia baru menyadari waktu sudah menunjukan jam 9 malam,
Rendra is calling....
"Ya kenapa Ren?"
....
"Bokap gue lagi di rumah sakit, mana tega gue ke klub".
.....
"Kenapa lagi Lo, patah hati lagi?".
....
"Iya Gue kesana deh".
Loy hanya bisa mendesah pasrah, Temannya yang satu ini emang sering banget patah hati, dan tiap patah hati selalu larinya ke klub.
Setelah ia membereskan berkas-berkasnya, ia bergegas menuju klub yang ditunjuk oleh Rendra, butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai.
Setelah sampai ia langsung menghampiri Rendra yang berada di meja dekat bartender,
"Kenapa lagi sih Lo,?"
"Pusing Gue sama Sita".
"Siapa lagi Sita?"
"Pacar Gue lah masa pacar Lo, mesti Gue pusingin"
"Itu bulan lalu, udah putus".
"Lah ini baru lagi?, udah bikin pusing lagi".
"Jomblo mana ngerti lah soal kegalauan, Lo taunya kerja doang Loy".
"Hemm, Iya"
"Sita ngajakin merid, Pusing deh Gue"
"Nikah tinggal nikah gini ngapain pusing?"
"Gue nya belum siap Loy".
"Kenapa?"
"Gue belum yakin sama Sita".
"Belum yakin ngapain Lo pacarin?"
"Ya Gue suka sama Sita, tapi kalau cinta Gue belum yakin".
"Terus?"
"Gue gak mau putus, tapi kalau nikah Gue juga belum siap".
"Huft, Nikahin atau tinggalin cuma itu pilihan Lo Ren".
"Gue tau".
"Ngapain curhat kalau tau".
"Ah Lo bikin emosi tau gak".
"Terserah Lo deh".
Loy hanya bisa pasrah, dia hanya diam memperhatikan Rendra yang sibuk dengan minumannya. Ia memperhatikan sekelilingnya dan melihat di lantai dansa begitu banyak manusia yang sedang menari-nari dengan asiknya. Namun ia terusik saat Rendra menepuk bahunya.
"Lihat tuh" Rendra menunjuk seorang wanita yang tengah asik menari kesana kemari dengan dikelilingi banyak pria "Cakep ya dia, sampai dikelilingi cowok tuh.
"Iya" Loy hanya menjawab tanpa minat.
"Dia itu Anak sulungnya Wiratmaja, pengusaha tambang yang lagi meroket".
Loy seketika langsung melebarkan matanya "Siapa dia?".
"Ah Lo tadi sok-sokan cuek sekarang antusias".
"Siapa namanya?" Loy tidak mau ambil pusing dengan celotehan Rendra.
"Ya dia Indira Wiratmaja"
Deg
Jantung Loy seketika seperti berhenti berdenyut "Jadi wanita seperti ini yang bakal gue nikahin, wanita seperti ****** kayak gini" batin Loy seketika memberontak, Namun apalah daya ia sudah terlanjur janji dengan papanya.
"Cielah Loy langsung terpesona Lo ya?" Rendra seketika membuyarkan lamunan Loy yang entah kemana.
"Tau ah, balik yuk"
"Masih sore ini mau balik?"
"Udah tengah malam ini"
"Ini klub baru buka Loy"
"Tapi Gue lagi gak ada minat".
"Gak Asik Lo"
Loy akhirnya meninggalkan Rendra yang masih enggan diajak pulang, ia sudah kehilangan minat tatkala ia melihat wanita yang hendak dijodohkan dengan dirinya menari-nari dengan erotisnya dikelilingi banyak pria, Ia merasa begitu jijik dengan wanita yang bernama Indira tersebut.