
Lagi, Davin mendapatkan sebuah pesan di ponselnya. Dengan nomor yang berbeda dari pengirim pesan sebelumnya.
"Aku ada di sekitarnya"
Pesan itu segera dihapus dan tidak digubris olehnya. Tak lama berselang nada notifikasi pesan kembali berbunyi dari ponsel Davin. Dengan malas, ia membuka pesan itu. Matanya terbelalak, Davin menerima pesan bergambar. Sebuah foto memperlihatkan Kania sedang memegang potongan blazer berwarna ungu di salah satu pusat perbelanjaan.
Davin bangun dari posisi duduknya, ia terlihat gusar lalu segera menelepon Kania. Panggilan telepon tidak terhubung, namun beberapa detik kemudian Kania menjawab panggilan teleponnya.
"Iya Mas"
"Dimana kamu?"
"Di mall"
"Sama siapa?"
"Sendiri"
"Tunggu di lobby disamping security"
"Mas Da..."
Tut tut... Telepon terputus. Kania bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Sebuah mobil melesat dengan cepat keluar dari sebuah gedung perkantoran. Beberapa mobil membunyikan klakson kepada Davin, namun ia tidak peduli dan terus melanjutkan perjalanannya.
Kania tengah berdiri di lobby sesuai permintaan Davin. Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Kania. Davin membuka kaca mobil dengan tombol otomatis dan menyuruh Kania masuk.
Setelah keluar dari area mall, mobil itu melaju dengan cepat. Tak satupun kata yang berani keluar dari bibir Kania. Ia faham betul dengan situasi ini, ada yang membuat Davin marah. Meskipun tidak tahu penyebabnya, Kania hanya diam sembari berdoa semoga mereka selamat sampai tujuan.
Kania menutup matanya sambil membaca beberapa do'a yang diingat diluar kepala. KaniaIa sesekali mengintip untuk mengetahui kondisi sekitar. Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di rumah. Davin menginjak rem secara mendadak, tubuh Kania terdorong ke depan. Ia melirik ke arah Davin.
"Masuk" ucapnya dengan nada dingin
Kania mengikuti perintah Davin tanpa mengucapkan apapun, mobil itu kembali melesat dengan cepat. Masih merasa kesal dengan Davin yang emosional secara tiba-tiba, Kania mengambil satu gelas minuman dingin dan mengigit es batu yang ada di dalamnya. Kemudian masuk ke kamar dan menghempaskan dirinya di atas kasur.
Sebuah plastik diambil dari atas meja, Kania membuka hasil perbelanjaannya hari ini. Ia membeli potongan blazer dan rok selutut berwarna dark purple. Dan satu gulungan pita berwarna lilac akan diikat diantara kerah leher kemejanya.
"Tapi Mas Davin tau ngga ya gue keluar? Cari aman deh gue datengnya sebelum acara aja jadi jam 7 udah di rumah" ucap Kania kepada dirinya sendiri
Matahari menunjukan cahaya senja khas di sore hari. Kania tengah bersiap dengan segala outfit yang disiapkan khusus acara ulang tahun Oki. Tema ulang tahun tersebut adalah cosplay karakter anime, entah apa yang membuat Oki memiliki ide seperti itu karena dia tidak menyukai anime manapun. Mungkin dikarenakan karakter anime memiliki looks yang lucu dan beragam. Kania melakukan cosplay karakter anime Aoba Suzukaze dalam series New Game.
Driver angkutan online sudah menunggu di depan rumah. Kania melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda keberadaan Davin disana. Ia memastikannya dengan bertanya kepada Bi Ijah. Dan benar saja, Davin masih berada di luar rumah.
Kania bergegas keluar rumah dan menghampiri mobil yang sudah dipesan olehnya. Ketika sampai di depan pintu masuk perumahan, Ia melihat mobil Davin memasuki kawasan perumahan tersebut. Jantung Kania berdegup kencang, ia berusaha tenang dengan mengucapkan beberapa kata dalam hati. Ia meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada yang terjadi dan semuanya akan baik-baik saja.
Kania memasuki sebuah rumah yang sudah tidak asing baginya. Terlihat beberapa orang sedang sibuk mendekorasi sebuah ruangan yang akan digunakan untuk acara nanti. Oki tengah duduk memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja, lalu memanggil Kania setelah menyadari keberadaannya.
Mereka duduk bersama sambil sesekali mengobrol. Oki membawakan satu gelas orange juice untuk Kania, ia menaruhnya di samping.
"Ki, gue ngga bisa ikut acara lu lama-lama ya makanya gue dateng lebih awal nih"
"Kenapa gitu? Ngga asik luu"
"Gue ngga dibolehin pulang malem-malem"
"Yaampun berlebihan deh pacar lu, jam 9 itu belom malem tau"
"Gue juga ngga ngerti, akhir-akhir ini dia agak aneh. Berapa kali marah tanpa ngasih tau penyebabnya apa"
"Belom sih"
"Gue belom ngobrol lagi sama dia"
"Ooh dari kapan?"
"Dari yang abis gue pergi sama lu itu loh yang malem"
"Udah 3 hari dong"
"Iyah"
"Semoga baik-baik deh hubungan lu Kan, gue cuma mau ngingetin komunikasi itu penting banget dalam hubungan"
"Iyah gue tau"
"Tapi?"
"Tapi gue ngga punya hak buat minta kejelasan dari setiap perbuatan dia ke gue" jawab Kania dalam hati
Sudahlah, Oki tak akan pernah mengerti apa yang sedang dijalaninya saat ini. Kania tak menjawab pertanyaan Oki, dan memilih memainkan ponsel miliknya.
Sebentar lagi acara akan dimulai, banyak tamu undangan yang sudah datang. Kania ikut menyambut teman Oki yang baru saja datang. Ia terkagum oleh berbagai pakaian yang dikenakan orang lain dan sangat beragam dalam merepresentasikan berbagai tokoh anime.
Kania berkenalan dengan beberapa teman Oki yang hadir. Mereka saling bertukar cerita tentang apa alasan dalam pemilihan karakter yang diperagakan oleh masing-masing.
Acara dimulai, sebelum ke acara inti sebuah penampilan dance ditampilkan untuk memeriahkan acara malam ini. Tanpa sadar, Kania melupakan peraturan jam malam yang diberlakukan untuknya. Acara dilanjutkan dengan penampilan suara dalam bahasa Jepang yang akan dibawakan oleh 2 orang teman Oki yang sudah diberitahukan sebelumnya. Berlanjut menyanyikan lagu happy birthday yang ditujukan pemilik acara yaitu Oki.
Saat melihat orang-orang tersenyum bersama sambil menyanyikan lagu, Kania mengingat janjinya bahwa ia hanya akan hadir di awal acara lalu pamit pulang. Ia menatap jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Dengan panik, Kania mencari cara untuk pergi namun saat ini tidak mungkin dilakukannya karena sedang berlangsung pemotongan kue. Ia tidak enak hati, jika harus pergi tanpa berpamitan.
Davin berjalan ke arah pantry untuk mengambil beberapa minuman dan makanan ringan yang ada didalam lemari pendingin. Bi Ijah sedang mencuci piring di dapur yang berada di sebelah pantry.
"Kania tadi ngga makan malem Bi?"
"Belum Tuan"
"Ditawarin aja Bi ke kamarnya"
"Non Kania ngga ada di kamar Tuan. Tadi sore pergi, belum pulang ke rumah"
"Apa? Kemana?"
"Ngga tau Tuan, tadi cuma nanya apa Tuan Davin udah pulang atau belum"
Davin segera mencari keberadaan ponsel pribadi miliknya. Ia menghubungi Kania beberapa kali, namun tak ada panggilan yang tersambung. Dengan kemarahan yang mencapai puncak, Davin mengambil kunci mobil dan bergegas mencari keberadaan Kania.
Diantara kepanikannya, Kania berjalan mendekati Oki agar setelah pemotongan kue selesai ia dapat berpamitan secepatnya.
Kania berhasil berpamitan dan segera memesan angkutan online. Jantungnya bersegup semakin kencang saat mengetahui beberapa panggilan tak terjawab dari Davin. Ia kembali menghubunginya namun tidak mendapatkan jawaban.
Awalnya Kania menunggu di depan rumah, namun berpindah ke depan pintu gerbang dikarenakan posisi driver sudah semakin dekat. Saat hendak membuka gerbang, Kania dikagetkan oleh seorang laki-laki yang sedang berdiri di samping mobil berwarna hitam yang dikendarainya siang ini.
Davin melihat ke arah Kania, tanpa sepatah katapun dia memasukan Kania ke dalam mobil. Kania membatalkan pesanan driver dalam aplikasi langganannya. Davin duduk di kursi kemudi dan mengambil handphone Kania secara tiba-tiba.