Marriage Contract

Marriage Contract
Paket Misterius



Berbagai suara alat masak bersautan satu sama lain. Terlihat Kania yang tengah sibuk berkutat dengan berbagai bahan makanan yang sudah disiapkannya. Beberapa kali melihat buku resep yang ia miliki untuk memastikan langkah demi langkah yang dilakukannya sudah benar.


Dengan menggunakan pastry siap pakai, membuat proses memasaknya menjadi lebih singkat. Kania memasukan loyang ke dalam oven. Mengatur suhu oven dan menunggunya selama 30 menit. Ia menunggu sambil menonton film netflix yang sudah ditunggu penayangannya.


Ditengah pemutaran filmnya, stopwatch menunjukan sudah 30 menit. Ia menjeda pemutaran film dan kembali ke dapur untuk mengangkat lasagna buatannya dari dalam oven.


Kania membawa lasagna di tangannya lalu melanjutkan film yang sedang ditonton. setelah memastikan makanannya sudah hangat, ia mulai menyendokan satu sendok dan memasukkan ke dalam mulutnya. Perpaduan seimbang antara daging, keju dan susu membuatnya terkesima dengan keahlian memasak yang kini ia miliki.


Suapan demi suapan masuk dengan cantik ke dalam mulutnya. Ia puas dengan makanan maupun dengan film yang sedang ia tonton.


Film selesai diputar, Kania memasukan lasagna yang lain ke dalam freezer. Ia membuat 3 loyang kecil dan sudah dimasak satu. Tersisa 2 untuk sewaktu waktu ia ingin makan lagi. Kania memasuki kamarnya dan tidur dengan lebih cepat karena merasa kenyang.


Davin memasuki rumahnya dan melewati ruang keluarga dan mencium aroma makanan. Perutnya mengeluarkan suara pertanda kelaparan karena belum makan sejak tadi sore. Setelah menaruh barang-barangnya, ia berjalan ke dapur dan melihat 2 loyang lasagna tersedia disana.


Tanpa fikir panjang, ia menghangatkannya kemudian menikmati makanan tersebut sambil menonton acara televisi. Davin mencari keberadaan Kania di ruang tamu dan di taman belakang. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Kania membuka kulkas dan mendapati lasagna yang ia buat tersisa satu. Ia mencari keberadaan Bi Ijah di rumah namun tidak menemukannya. Kania mengambil lasagna dan memasaknya di oven untuk dibawa ke kelas hari ini.


Kania menikmati sarapan, kemudian disusul dengan Davin. Tak lama kemudian Bi Ijah datang menyajikan susu di meja makan.


"Bi liat makanan aku ngga di loyang kecil gitu di dalam freezer"


"Ngga liat non"


"Oh ngga liat yah"


Setelah menyelesaikan sarapannya, Kania bergegas ke depan rumah karena jemputannya sudah menunggu. Davin memanaskan mobilnya didepan rumah lalu berhenti sejenak didepan pagar. Ia hendak mengantar Kania dan berniat untuk berbaikan dengannya.


Saat Davin hendak memanggil, Kania berjalan menuju mobil yang berada tepat di depan mobil miliknya.


Kania sengaja berangkat lebih pagi dibanding biasanya agar bisa memberikan lasagna untuk Oki dan langsung dinikmatinya sebelum kelas dimulai. Oki melambaikan tangan ke arahnya lalu tersenyum.


"Tumben Ki, udah dateng jam segini"


"Yeeh gue mah cepet datengnya, emang lu datengnya selalu mepet jam masuk"


Kania tertawa, keduanya berjalan dan memasuki ruang kelas.


"Nih cobain masakan gue, hasil kursus masak nih Ki. Dijamin enak"


"Yang bener nih? Gue ragu kalo lu yang masak"


"Gini gini juga gue pinter masak Ki, cuma mager aja" ucap Kania sambil tertawa


"Iyain aja deh biar cepet"


"Ngga mager juga sih, lebih tepatnya nunggu mood"


"Sama aja wey"


"Oh sama ya, cobain nih buru"


Oki menyendokan lasagna dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Ih bener enak" ucap Oki


"Gue bilang apa kan? Enak" ucap Kania bangga


"Boleh doong"


Kelas hari ini selesai dengan tenang tanpa adanya tugas. ponsel Kania berdering beberapa kali. Ia membuka lock screen dan melihat pesan yang baru saja diterimanya.


Davin


"Saya mau bicara nanti malam di rumah"


Kania menunggu Davin di ruang keluarga. Menonton beberapa film, hingga merasa bosan namun Davin belum menunjukan batang hidungnya. Waktu menunjukan pukul 9 malam, satpam memberikan sebuah kotak yang didapat dari driver ojek online. Yang mengatakan paket tersebut dari Davin.


Kania membuka kotak itu, sebuah kue berwarna putih dengan sedikit hiasan diatasnya. Karena Davin tak kunjung datang, ia memotong kue itu lalu memakannya.


Setelah memakan kue sebanyak dua potong, Kania merasakan rasa kantuk yang sangat hebat. Tanpa sadar ia tertidur di atas sofa.


Davin mencari keberadaan Kania di setiap ruangan dan tidak mendapati nya dimanapun. Dari kejauhan ia melihat sebuah kue berada di atas meja ruang keluarga. Setelah menghampirinya, ia melihat Kania tertidur di atas sofa.


Davin membangunkan Kania, ia menepuk-nepuk pundak seraya memanggil namanya. Kania membuka matanya perlahan, mengedipkan matanya lalu melihat lama ke wajah Davin.


Davin mendudukkannya lalu menatapnya. Kania tersenyum lalu mengucapkan kata-kata yang tidak terlalu jelas.


"Mas Davin" ucap Kania sambil memeluk Davin lalu tertawa


"Papah Mamah Kania kangen. Ko banyak orang disini"


Merasa ada yang tidak beres, ia membawa Kania ke rumah sakit terdekat. Selama Kania diperiksa, Davin menelepon satpam di rumahnya dan meminta satpam untuk mengecek CCTV yang terpasang di rumah.


Ia menanyakan tentang hal yang mencurigakan sebelum kedatangannya ke rumah malam ini. Satpam menceritakan tentang kue yang diantar dengan mengatasnamakan Davin. Karena merasa tidak membeli kue apapun Davin meminta satpam untuk mengirimkan hasil rekaman CCTV yang menangkap orang yang mengantar kue tersebut.


Rekaman CCTV dikirim namun ia kesulitan mengenali si pengantar kue karena menggunakan masker dan helm dengan kaca berwarna hitam. Selain itu tidak ditemukan motor yang dikendarai. CCTV hanya menangkap orang itu sedang berjalan dan membawa kue di tangannya.


Dokter keluar dari ruang pasien dan memberi kabar bahwa Kania berada di bawah pengaruh obat yang memabukkan. Setelah diberikan tindakan oleh dokter, Kania tidak sadarkan diri. Davin mengepalkan tangan, tatapannya tajam terlihat amarah menguasai dirinya. Ia segera melaporkan insiden ini ke polisi dengan membawa barang bukti berupa kue yang ada di rumah.


Satu hari berlalu, Kania belum sadarkan diri. Davin dengan setia menunggunya tanpa meninggalkan ruangan sedikitpun. Dokter mengatakan dosis yang digunakan bukan termasuk dosis yang rendah sehingga tubuh Kania tidak kuat menahannya dan itu membuat tubuhnya tidak sadarkan diri selama beberapa waktu. Dokter tidak menjelaskan waktu yang pasti tentang berapa lama Kania akan sadarkan diri.


Perlahan Kania membuka matanya, kepalanya terasa pusing. Ia memegang kepalanya dengan tangan kiri. Setelah pusing di kepalanya menghilang, ia melihat ke arah tangan kanannya. Terdapat Davin yang tertidur di samping tempat tidur sambil memegang tangan kanannya. Kania berusaha membangunkannya agar bisa tidur lebih nyaman di sofa, namun Davin tak memberikan respon apapun.


Kania hanya menatapnya kemudian tertidur kembali. Davin terbangun di tengah malam dan tidur kembali di sofa yang ada di kamar pasien.


Davin terbangun karena mendengar suara percakapan dua orang. Setelah sepenuhnya bangun, ia baru menyadari bahwa Kania sudah sadar.


Dokter kemudian mengajukan beberapa pertanyaan untuk memastikan kondisi Kania. Setelah mengetahui kondisi Kania sudah membaik, dokter memperbolehkan ia pulang siang ini.


"Kamu ngga apa-apa"


"Iya, udah sehat"


"Kenapa saya bisa ada di rumah sakit?"


"Kamu makan kue yang ada obat terlarang didalamnya"


"Kue? oh yang putih itu ya?"


"Iya, lain kali kalo nerima sesuatu jangan langsung percaya. harus tanya dulu"


"Iya Mas"