
Pagi ini terasa seperti pagi-pagi sebelumnya. Kania dan Davin duduk bersama menikmati sarapan masing-masing.
"Udah sembuh Mas?"
"Udah"
"Nanti abis kelas aku mau maen sama temen yah. Mungkin pulangnya malem"
"Jeny?"
"Bukan mas, temen kelas aku namanya Oki. Nanti aku kirim kontak sama fotonya"
Setelah makan siang, Kania dan Oki menuju salah satu mall di Surabaya. Tema hari ini adalah "Oki's Day" karena ulang tahunnya yang jatuh di hari ini. Ia benar-benar menikmati waktunya, mereka berbelanja dengan santai lalu berpindah dari satu store ke store lainnya. Memainkan beberapa permainan dan membeli makanan yang sebelumnya belum pernah dicoba.
Permintaan Oki lainnya yaitu mewarnai rambut dengan warna yang sama. Kania memilih warna dark purple sementara Oki memilih warna honey. Dikarenakan keduanya tidak mau mengalah. Pemilik salon menyarankan untuk menggunakan dua warna di rambut mereka. Dengan catatan pemilihan warna ungu menyesuaikan dengan kecocokan warna honey yang dipilih oleh Oki. Kania setuju dengan saran tersebut dan rambutnya mulai di warnai.
Setelah menunggu sekitar satu jam setengah, Keduanya tersenyum puas dengan hasil warna pada rambut mereka. Oki menarik tangan Kania, dan membawanya ke salah satu studio foto yang ada disekitar salon. Mereka melakukan berbagai pose dan mengabadikan moment dalam berbagai foto yang dihasilkan.
"Ki ke hotel dulu yu"
"Ngaapain anjir jangan apa-apain gue"
"Iih geli baanget, maen aja sambil rebahan"
"Ayu deh"
"Gampang banget setujunya"
"Iya yaah"
Mereka sampai di kamar yang sudah diipesan. Kania mempersiapkan kejutan di dalam kamar hotel. Sebuah kue lengkap dengan lilin dan proyektor khusus dengan bacground birthday.
"Yeaay happy birthday, Okiii" ucap Kania yang berdiri dibelakang Oki
"Makasih yaa beeb" Ucapnya lalu memeluk Kania
Setelah memotong kue dan mencicipi kue tersebut. Keduanya berfoto sambil memegang kue dan berdiri di antara cahaya yang ditampilkan oleh proyektor birthday.
Setelah puas mengambil foto, mereka merebahkan diri di atas kasur. Rasanya menyenangkan bisa bersantai setelah beraktifitas seharian. Mereka menyalakan televisi dan memesan makan malam yang disediakan di hotel.
"Eeh eh liat deh gue diucapin birthday sama crush gue Kaan"
"Serius? mana coba liat"
"Nih"
"Ciee selamat yaa semoga berlanjut"
"Hehe semoga ya"
"Lu kenal dia dimana emang?"
"Dikenalin temen gue, katanya dia lagi single minta dikenalin ke temannya yang temen gue juga. Pernah deket gitu tapi ngga sampe ketemuan"
"Coba liat fotonya"
"Nih cakep tau"
"Wih iya cakep gas lah"
"Maen gas gas ajaa. Nanti dulu lah gue mau liat effort dia dulu"
"Ooh boleh boleeh"
"Gue juga belom tau kepribadiannya gimana. Nyambung apa ngga ngobrolnya. Gue mau nyari cowo yang bikin gue seneng dan sifatnya ngga ada yang nyebelin"
"Ngga ada lah, semua orang pasti ada sifat nyebelinnya Ki. Sampe tua juga nyari yang kaya gitu mah ngga bakal ketemu"
"Gitu yah?"
"Iyalaah"
"Biasa aja dong ngga usah emosi"
"Biasa ini jugaa"
"Oh iya gue undang acara ulangtahun gue deh hari minggu. Lu dateng yah?"
"Minggu ini? Jam berapa?"
"Jam 7 malem di rumah gue"
"Kayanya bisa sih"
"Harus bisa lah, awas aja lu ngga dateng"
"Iya iyaa"
"Eh udah yu, pulang udah jam 8"
"Yaelah kan, masih sore ini. Nginep aja sih"
"Ngga bisa nanti gue dicariin"
"Yaelah dia juga ngga tau kan kalo lu di rumah apa ngga. Besok pagi aja pulangnya nginep disini sama gue"
"Makanya matiin aja hape lu"
"Ngga ah, udah gue mau pulang"
"Yaelah Kan, takut banget lu belum jadi suami atau tunangan juga"
"Y-yaa gapapa gue takut dia marah aja. Lagian gue udah ngga mau boong kaya gini. Udah pernah kualat gue"
"Haha masih percaya sama kaya gitu lu?"
"Percayalah, orang gue pernah ngalamin itu. Gimana mau ngga percaya?"
"Ngga gue yakin kali ini ngga bakal ada apa-apa"
"Udah ayu pulang ah, lagian emang luu diijinin nginep di hotel kaya gini?"
"Diizinin kalo ada temennya, makanya lu nginep"
"Ngga ah, takut pacar gue ngamuk"
"Kalo marah tinggal minta maaf kan, nanti juga baik lagi"
"Kalo ngomong enteng bangeet"
Ponsel Kania berdering, Ia mengambilnya dari dalam tas kecil yang menggantung di tangannya.
"Tuh kan di telepon" ucap Kania lalu berpindah ke kamar mandi untuk menerima telepon Davin
"Halo, iya Mas"
"Belum pulang? Jam segini?"
"Iya ini udah mau pulang Mas"
"Kamu di hotel ngapain?"
"Hah? Ooh ini lagi ngerayain ulang tahun Oki"
"Pulang sekarang"
"Iya Mas"
Kania baru teringat akan kalung yang digunakannya dapat melacak lokasi dimanapun ia berada.
"Udahlah gue pulang, diomelin" ucap Kania
Oki hanya tertawa melihat Kania yang terlihat pasrah
"Ketawa lagi lu, dasar temen lucknut"
"Hahaa gapapa tau kan, biar hidup lu berwarna"
"Bodo ah, bye"
Kania menatap jalan yang sedang dituruni hujan rintik-rintik. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca mobil berwarna hitam. Menyadari rambut yang berwarna ini, membuatnya sedikit khawatir tentang respon yang akan diberikan Davin. Ia merogoh sebuah paperbag berwarna hijau dan mengambil syal berwarna maroon dengan corak tangkai pohon.
Sebelum turun dari mobil Kania menggunakan syal dan mengikatnya di antara rambut atas dan rambut belakang miliknya. Setelah berkaca, dan penampilannya sudah rapih. Kania turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Melihat rumah dalam kondisi aman, Kania melenggang masuk dengan santai. Namun keadaan berubah saat suara seseorang terdengar di telinganya.
"Jam segini baru pulang?"
"Iyah, maaf Mas. Aku janji ngga ngulangin lagi"
"Lainkali pulang paling telat sampe rumah jam 7 malam. Kecuali pergi bareng saya"
"Iya Mas, saya pamit dulu ya"
Kania menjauh dengan berjalan beberapa langkah
"Tunggu" ucap Davin sambil menarik syal berbahan satin yang sedang digunakan Kania. Karena material bahannya licin, membuat syal terjatuh dengan mudah.
"Kamu warnain rambut?"
"Iya Mas" ucap Kania tersenyum kecut
"Kenapa ngga tanya dulu sebelum warnain rambut?"
"Ini permintaan Oki, soalnya dia lagi ulangtahun. Tadinya aku mau nanya dulu, tapi takut ngga diizinin"
"Saya kan udah pernah bilang, izin dulu kalo mau ngelakuin sesuatu" ucapnya dengan suara naik satu oktaf
"Ma-af mas" ucap Kania, matanya mulai berkaca-kaca
Davin meninggalkan Kania sendirian. Ia tampak kesal karena perilaku Kania. Sejak dulu, ia tidak menyukai seseorang yang mewarnai rambut dengan warna apapun. Begitupun dengan keluarganya, terkesan kolot namun itulah yang ada di benak mereka yang beranggapan bahwa seseorang yang mewarnai rambut identik dengan orang-orang yang memiliki kesan negatif.
Kania menangis di atas tempat tidurnya. Ia merasa kesal karena harus dibentak hanya karna hal yang menurutnya sepele.
"Kan bisa bilangin pelan-pelan. kenapa sih pake marah-marah" ucap Kania di tengah tangisannya.
Bukan tanpa sebab, semua yang dilakukan Davin hari ini. Sore tadi ia menerima pesan yang terkirim dari sebuah nomor tak terdaftar bertuliskan
"Awasi orang terdekatmu, mungkin mereka akan berkhianat karena diberikan terlalu banyak kebebasan"