
Sudah begitu lama mereka menunggu Lina sadar. Tapi sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda kalau dia akan membuka mata.
Reynald dan Dika berusaha menenangkan Keysha. Karena Keysha begitu khawatir dengan Lina. Sebenarnya tidak hanya Keysha, Dika juga sangat mengkhawatirkan kekasihnya yang masih belum siuman juga dari tadi.
" Apa kau sudah menelpon orang tuannya? " Tanya Reynald pada Dika karena hanya ada mereka bertiga saja dari tadi.
Dika menghela nafasnya kasar " Ayahnya sudah pergi ke luar negeri bersama selingkuhannya, sedangkan ibunya aku tidak tau dia kemana. Ponselnya juga tidak aktif " Ucap Dika dengan wajah yang terlihat lelah.
Keysha hanya bisa meneteskan air matanya. Sungguh malang sekali nasib sahabatnya, disaat seperti ini orang tuanya malah tidak ada satupun yang datang. Padahal dulu keluarga mereka terlihat begitu harmonis dan perduli dengan satu sama lain.
" Sayang ... " Reynald menghapus air mata Keysha yang mulai menetes.
" Lebih baik kamu membawanya pulang " Ucap Dika pada Reynald.
Keysha menggelengkan kepalanya dengan cepat " Aku tidak mau pulang " Ucap Keysha.
Keysha masih ingin menunggu sampai Lina sadar.
" Kamu terlihat pucat, Key! Sudah cukup Lina yang membuatku khawatir. Aku mohon kamu jangan menambahnya! " Dika menjadi agak emosi karena Keysha tidak mau mendengarkannya. Padahal wajahnya sudah terlihat agak pucat.
" Sayang, apa yang dikatakan Dika itu benar " Reynald membujuk Keysha supaya wanita itu mau pulang dan segera beristirahat di rumah.
" Tapi aku tidak mau! " Keysha tetap keras kepala ingin tinggal di rumah sakit.
" Selalu saja keras kepala! " Dika sudah tidak tau lagi caranya untuk menyuruh Keysha pulang.
" Bagaimana jika aku memesan kamar hotel yang tidak jauh dari sini, apa kau mau?? "
Akhirnya Keysha setuju dengan saran yang Reynald katakan. Reynald dan Keysha akan beristirahat di hotel yang sangat dekat dengan rumah sakit. Jadi kalau ada apa-apa mereka bisa langsung menemuinya.
.
Reynald dan Keysha sudah berada di kamar hotel. Saat di rumah sakit tadi, Keysha merasa pinggangnya baik-baik saja. Tapi setelah sampai di hotel Keysha merasa pinggangnya begitu sakit mungkin karena efek terlalu lama duduk.
Reynald berbaring di samping Keysha. Baru kali ini Reynald menghadapi sikap Keysha yang begitu pendiam, biasanya Keysha sangat ribut. Tapi hari ini dia hanya diam saja dengan pandangan yang terlihat begitu kosong.
" Sayang, jangan terlalu sedih. Itu sangat tidak baik untuk bayi kita " Reynald mengelus pucuk kepala Keysha sambil sesekali menciumnya.
" Maafkan aku, aku hanya terlalu cemas " Hampir saja Keysha lupa kalau dia sedang hamil.
Reynald mengambil makanan yang baru diantar, lalu membawanya ke kasur.
" Buka mulut mu, sayang " Reynald menyuapi Keysha makan. Padahal dia juga masih belum makan.
" Kamu juga belum makan, kan? Kamu harus makan juga " Keysha tau Reynald juga pasti belum makan.
Keysha memaksa Reynald supaya makan juga. Jadi Reynald secara bergantian menyuapi mulut mereka berdua.
" Minumlah " Reynald memberikan segelas air putih setelah Keysha selesai makan.
" Apa kamu sudah kenyang? " Tanya Reynald.
Keysha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban " Peluk aku " Pinta Keysha.
Keysha merasa tubuhnya sangat lelah, matanya juga terasa begitu berat.
" Tidurlah, nanti kalau ada apa-apa aku akan langsung membangunkan mu " Reynald menepuk punggung istrinya membuat Keysha merasa sangat nyaman.