Marriage Contract

Marriage Contract
Berlanjut



Davin mengeraskan rahangnya, ia bertanya-tanya siapa orang yang sedang mempermainkannya seperti ini. Tak lama kemudian, Davin menerima pesan masuk berupa pesan kosong melalui ponsel miliknya.


Dua buah roti dimasukkan ke dalam pemanggang. Sementara Kania tengah sibuk membuat isian roti tersebut, ia berniat membuat sandwich untuk bekal sarapan. Kemudian memakannya ketika sampai di kelas nanti.


Kania tidak ingin melihat Davin hari ini, tentu saja bukan karena marah. Karena apapun yang terjadi, ia tak memiliki hak untuk marah kepada Davin. Kania hanya tak ingin berada dalam situasi yang canggung.


Setelah perbekalannya selesai, Kania berangkat untuk belajar lebih pagi dari biasanya. Davin menuruni anak tangga satu persatu sambil mengancingkan lengan kemeja yang dikenakannya. Melihat tak ada keberadaan Kania disana, Davin menanyakannya kepada Bi Ijah.


"Kania belum bangun Bi?"


"Udah berangkat Pak dari tadi"


"Oh, udah sarapan?"


"Tadi Non Kania bawa bekel Pak, jadi ngga sarapan di rumah"


Davin hanya diam, dan mulai menyantap sarapan yang ada di atas piring. Kemudian meminum susu putih yang ada didalam gelas bening di sebelah kanannya.


Kelas dimulai dengan tenang dan kondusif. Kania memperhatikan materi dengan seksama. Sesekali ada beberapa orang yang mengajukan pertanyaan. Kemudian dijawab dengan sangat baik dan mudah dipahami. Kania memang bukan termasuk peserta yang aktif di kelas, namun ia mampu memahami segala materi yang disampaikan.


Jam belajar telah selesai, Kania mengemasi perlengkapan belajarnya ke dalam tote bag. Sebelum keluar ruangan, ia membuka kunci ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang masuk dari notifikasi. Oki mengirimkan pesan mengingatkan Kanja untuk datang ke pesta ulangtahunnya. Namun, Kania tidak segera menjawabnya karena bingung antara datang atau tidak dikarenakan peraturan baru dari Davin. Laki-laki itu terlihat asing baginya dalam satu hari ke belakang.


Diantara pesan yang lain, Kania melihat satu pesan dari nomor tak dikenal. Nomor itu tidak terdaftar dan bukan dari operator jaringan seluler Indonesia.


0175113732


Pergi sekarang, atau kamu akan menyesal


Tanpa ambil pusing dengan pesan tersebut, Kania memasukkan kembali handphone ke dalam tasnya. Ia mengira pesan yang diterimanya hanyalah perbuatan dari orang aneh yang asal mengacak nomor dan menghubungi oranglain secara random.


Sebelum pulang ke rumah, Kania mampir di salah satu coffeeshop terdekat. Satu cup es coffee dengan campuran susu dan biskuit regal dipilihnya. Sebelum memesan angkutan online, ia memainkan beberapa akun social media dan duduk didepan coffeeshop sambil menikmati minuman yang sudah dibelinya.


Sebuah artikel berita membuat telunjuk Kania berhenti bergerak. Boygroup kesukaannya akan mengadakan konser dalam waktu empat bulan ke depan. Ia menutup mulut dengan tangannya, tak percaya dengan berita yang baru saja ia baca. Secara spontan ia berteriak, beruntung tidak ada orang di sekitarnya.


Karena mulai menyukai boygroup tersebut di masa pandemi, dan tidak pernah ada pertemuan atau konser musik yang diselenggarakan dikarenakan keterbatasan kondisi saat itu. Ia mengidolakan boygroup "EXO" sejak dua tahun yang lalu. Berawal dari sebuah variety show yang ditontonnya kala itu yang berjudul Star Show 360 episode EXO. Sebuah kata yang selalu diingatnya hari ini. Ya dia menjadi Exo-l (sebutan untuk fans EXO) melalui jalur jurajil. Bahkan acara itu masih tetap lucu meskipun sudah ditonton berulang kali.


Semakin hari mengenal kepribadian dari masing-masing member membuatnya menjadi semakin jatuh hati. Ia sangat menyukai variety show yang menghadirkan mereka sebagai bintang tamu. Dan semenjak mengenal mereka, hari-harinya menjadi lebih berwarna. Selain itu, terkadang ia tidak merasa sendirian lagi.


Ditengah euforia yang dirasakannya, ia menyadari satu hal bahwa mungkin saja saat konser itu tiba Davin tidak memberikan izin untuk datang. Setelah lama berfikir, Kania memutuskan untuk tetap melakukan niatnya dengan berbagai cara. Apapun yang akan terjadi, ia akan memesan tiket yang paling depan. Dan berharap dapat mendatangi konser itu meskipun sebelumnya tidak pernah menghadiri konser musik manapun.


Setelah sampai di rumah, Kania berganti baju dan membersihkan wajahnya dari debu dan polusi. Kemudian mengoleskan masker wajah berwarna hitam. Dengan memegang spatula, ia memperhatikan wajahnya lalu menggerakkan wajahnya ke kanan dan kiri.


"Gue makin cantik tau rambutnya berwarna, kenapa sih Mas Davin ngga suka liatnya. Cantik gini" ucapnya dengan bibir mengerucut


Kemudian merapikan kamar yang sedikit berantakan, setelah puas dengan nyanyiannya. Kania merebahkan tubuhnya di atas kasur dan membuka aplikasi tiktok sebelum tertidur. Beberapa video yang ditonton berhasil membuatnya tertawa dan mengeluarkan air mata.


Setelah mandi, Kania duduk di tepi kolam renang dan memasukkan kedua kaki ke dalam kolam. Memainkan air yang ada disana, sambil bersenandung dengan merdu. Tak lama berselang, Davin melewati area kolam renang. Ia menoleh ke sana dan mendapati Kania yang sedang bersenandung kecil. Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik dan meneruskan aktifitasnya masing-masing.


Kania mengerucutkan bibirnya karena kesal melihat Davin yang selalu tampak keren dalam pandangannya bahkan hanya saat melepaskan jam tangan yang dikenakannya ketika berjalan. Ia mengirimkan voice call kepada Jeny, karena sudah lama sahabatnya itu tidak memberi kabar.


"Jeeeny-yaa mwo hae?"(1)


Lima menit kemudian pesan yang dikirim mendapatkan balasan.


"Mulai mulaaai, kekoreaannya kambuh lagi"


"Ehehee nan neomu bogoshipposso"(2)


"Apasih Ia, gue ngga ngerti"


"Makanya lu belajar bahasa Korea biar kita bisa ngobrol bareng"


"Sorry ngga minat, next time deh mungkin suatu saat nanti gue tertarik"


"Huuu nyebelin"


"Oh iya, ada yang mau kenalan nih sama lu, pas gue posting foto bareng lu"


"No No, ngga dulu aku lagi pengen sendiri"


"Dari dulu juga sendiri lu, ngga bosen emang? Biar ada yang nemenin wey kemana-mana"


"Iyah sih, tapi aku ngga mau sakit hati. Gimana dong? Bisa jamin ngga lu?"


"Ngga bisa lah, mana ada yang kaya gitu"


"Yauudah"


Kania bangun dari duduknya dan berjalan menuju pantry dan mengambil cookies yang disimpan didalam freezer. Ia menikmati makanannya sambil menyicil beberapa tugas yang dimiliki di depan meja yang mengahadap ke arah luar sambil menikmati tampilan senja yang disuguhkan oleh Sang Maha Pencipta.


Tulisan tangannya semakin rapih dari hari ke hari. Kania mulai terbiasa lagi menulis dengan tangan. Lalu beralih ke tugas membuat video tentang rangkuman materi yang telah dibuat kemudian di presentasikan melalui video tersebut. Beberapa kali melakukan kesalahan selama take video, membuatnya tidak menyerah dan terus mencoba lagi hingga ia puas dengan hasilnya. Tak dipungkiri, Kania sangat memperhatikan detail terhadap apapun yang dilakukannya.


(1) Lagi apa?


(2) Aku kangen kamu