Marriage Contract

Marriage Contract
Undangan Makan Malam



Arhan dan Davin sedang melihat layar ponsel bersama. Arhan segera mematikan layar ponselnya saat melihat kedatangan Selina dan Kania.


Setelah makan malam dan berbincang, Davin dan Kania pamit untuk kembali ke rumah. Selina memberikan hadiah berupa beberapa produk kosmetik yang dijualnya.


Ponsel Kania berdering, ia merogoh ponselnya di saku celana. Lalu melihat ke arah Davin.


"Ayah Mas"


"Angkat aja, handphone saya mati"


Kania menekan ikon panggilan berwarna hijau, lalu berbicara dengan Ayah Davin.


"Iya Ayah"


"Kania lagi sama Davin ngga?"


"Iya Ayah, Mas Davin handphonenya lowbet"


"Oh, bisa tolong sambungin sama Davin?"


"Iya bisa Ayah" ucap Kania lalu menekan ikon jeda yang ada dalam panggilan.


"Ayah mau ngomong Mas"


"Yaudah sini"


"Ini aku pegangin aja hp nya" ucap Kania kemudian memegang handphone di telinga Davin


"Besok malam ada acara ngga, Vin?"


"Ngga ada yah, kenapa?"


"Ayah mau ngundang kamu sama Kania makan malam di rumah"


"Iya bisa, jam berapa Yah?"


"Jam 7 boleh"


"Oke, nanti Davin sama Kania kesana"


"Yaudah"


"Iya Yah"


Panggilan terputus, Kania memberikan ekspresi tanda tanya di wajahnya seraya menatap Davin.


"Ayah ngajak makan malam besok" ucap Davin


Kania hanya menganggukan kepala, lalu memasukkan kembali handphone ke dalam saku celana.


"Bulan ini kelas apa aja yang selesai?"


"Kelas public speaking di minggu ke 3, sama kelas leadership di minggu ke 4 Mas"


"Yang lainnya?"


"Kepribadian masih tersisa satu bulan, bisnis dua bulan lagi. Bahasa Inggris 6 bulan lagi, Bahasa Korea 5 bulan dan Kelas memasak berakhir di pertengahan tahun depan"


"Untuk kelas bisnis lanjut ya, 3 bulan khusus membahas bisnis ritel"


"Iya Mas"


Setelah sampai di rumah, Kania kembali berkutat dengan berbagai tugas yang ia miliki. Terdapat tiga tugas yang dimilikinya malam ini. Diantaranya tugas merangkum buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki. Ia menyalahkan kecerobohan dirinya karena mengerjakan tugas ini di waktu mendekati deadline. Kania mulai membaca buku tersebut, menentukan poin penting setiap bab lalu menandainya dengan sebuah stabilo berwarna kuning menyala.


Waktu berlalu, Kania melihat ke arah dinding yang terdapat jam dinding. Tertulis angka 01.30 WIB. Kepalanya mulai pusing, namun ia tetap melanjutkan mengerjakan tugasnya. Karena mulai mengantuk, Kania menelepon Oki untuk menemaninya. Panggilan telepon terhubung, terdengar suara serak khas bangun tidur di seberang telepon.


"Kenapa, Kania?"


"Temenin dong, gue ngga bisa tidur"


"Yah, gue ngga bisa tidur lagi nih kalo dibangunin gini"


"Gapapa sih Ki, temenin gue"


"Untung besok gue ngga ada acara, Kania Kania"


"Yaudah mau apa? cerita?"


"Boleh, tapi lu aja yang cerita. Kalo lu mau nonton tv juga gapapa, yang penting jangan dimatiin teleponnya"


"Diiih kenapa lu? Abis liat setan ya?"


"Nggaaa"


"Yaudah nih gue mau nonton film yaa"


"Oke"


Oki menonton film yang ada pada aplikasi netflix di televisi miliknya. Sebuah film yang berlatar tentang kekuatan supranatural dipilihnya. Dengan alur yang menarik dan memiliki beberapa plot twist, membuat Oki fokus menonton tanpa mengeluarkan suara.


Baik Kania maupun Oki sama-sama fokus dengan kegiatan yang mereka miliki. Kania sesekali berbicara untuk mengganggu Oki yang sedang menonton tanpa peduli waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikan tugasnya. Sementara Oki tak bergeming, tatapannya fokus ke layar dengan sesekali mengambil snack yang ada di atas tempat tidurnya.


Kania menyerah, dan tidak mengganggu temannya lagi. Rangkuman yang harus di ketiknya tersisa satu bab, ia semakin bersemangat karena sebentar lagi tugasnya selesai.


Setelah mengucapkan terimakasih, Kania menutup panggilan teleponnya. Kemudian mengirimkan pesan kepada Bi Ijah agar membangunkannya jam setengah 8 pagi. Karena merasakan pegal di seluruh tubuhnya, Kania menggerak-gerakkan satu persatu anggota tubuhnya. Lalu tanpa sadar memasuki dunia mimpi dengan tenang.


Selesai dengan kegiatan hari ini, Kania pergi ke pusat perbelanjaan dan memilih beberapa baju untuk dikenakannya ke acara nanti malam. Sebuah dress selutut berlengan panjang dan berwarna hijau tosca dipilihnya untuk dibawa pulang. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran bodyguard yang ada di sampingnya meskipun beberapa kali mendapatkan lirikan dari orang lain.


Kania terbangun dari tidur siang, jam menunjukan pukul 15.30 WIB. Ia berjalan menuju kolam renang yang ada di samping rumah. Melakukan peregangan di pinggir kolam, lalu lompat ke dalam air. Setelah melakukan beberapa putaran, ia naik ke atas dan menyudahi kegiatannya. Saat sedang menggunakan bath robes, Davin berjalan melewatinya dan melihat ke arahnya. Kania segera berbalik dan merapatkan bagian kerah bath robesnya, lalu mengikat tali yang terdapat di sana.


Setelah melihat keadaan aman, Kania berlari menuju kamarnya.


"Ih kenapa Mas Davin udah pulang sih, ngeliat lagi aah maluu" ucapnya dengan posisi kepala tertutup bantal


"Biasanya juga kan pulang jam 5, terus nanti malem ketemu. Gimana dooong aaaah" ucapnya lagi sambil menyalahkan kebodohannya karena memilih waktu sore untuk berenang.


"Cerah banget lagi pake warna kuning, keliatan banget ya kayanya" gerutu Kania lagi dan lagi.


Kania sedang berias di depan cermin, riasannya hampir selesai. Ponselnya berdering, Davin menelepon dan memberi tahu bahwa ia sudah menunggu di garasi. Dengan cepat Kania menyelesaikan riasannya, menyemprotkan parfum lalu mengambil hand bag yang akan dikenakannya.


Tak ada percakapan yang terjadi di dalam mobil. Kania masih tetap dengan posisi duduknya menatap lurus ke depan. Dan sesekali setengah menunduk sambil memainkan handphonenya. Ia masih mengingat kejadian memalukan tadi sore.


Sesampainya di rumah orangtua Davin, mereka mendapat sambutan hangat dari keduanya. Berbagai hidangan sudah tersusun rapi di atas meja makan. Lengkap dengan buah dan beberapa minuman beraneka warna.


"Mari, kita mulai makannya" ucap Ayah Davin


Setelah semuanya duduk, Ayah Davin mulai memperkenalkan minuman yang ada di hadapan mereka.


"Ini semua teh, rasanya beragam. Silahkan dicoba"


"Iya Ayah" ucap Kania


"Gimana Vin di kantor lancar?"


"Beberapa hari lalu ada kendala sama penyedia barang untuk di ekspor, jadi lagi nyari gantinya. Hari ini udah ketemu sama orang yang baru Yah"


"Semakin lama kamu semakin cerdas kerjanya, inget ngga dulu nyelesain satu masalah yang tergolong mudah aja sampe butuh waktu satu minggu"


"Itu karena baru terjun ke lapangan Yah"


"Iya betul, teori sama yang terjadi di lapangan memang berbeda"


Setelah acara makan selesai, semua orang berkumpul di ruang keluarga.


"Minggu depan Ayah akan berangkat ke Singapore untuk melakukan operasi pengangkatan ginjal. Ayah mau tanya sama kalian apa hubungan kalian serius?"


"Iya Ayah" ucap Davin


Kania hanya mengangguk setuju.


"Kalau serius, Ayah minta kalian segera melakukan pertunangan. Cukup acara antar keluarga saja, tidak ada mengundang orang lain. Sebelum ayah ke Singapore"


"Iya Ayah" ucap Davin kemudian disusul dengan ucapan yang sama dari Kania.


"Davin nanti kamu ke rumah Kania. Sampaikan niat baik untuk melakukan pertunangan. Dan sampaikan bahwa Ayah tidak bisa bertamu karena masalah kesehatan. Nanti ayah minta om Andre nganter kamu ke rumah orangtua Kania"


"Baik Ayah"