
Selesai makan malam, keduanya berjalan keluar dari private room. Seorang laki-laki menepuk pundak Davin seraya memanggil namanya. Davin tersenyum dan menyapa laki-laki tersebut.
"Yuk ke meja gue aja, gue lagi sama istri gue. Siapa nih vin? Wih ada kemajuan nih sekarang"
"Kenalin Kania"
"Kania" ucap Kania sambil mengulurkan tangan
"Arhan, temen kecilnya Davin. Kalo Kania apanya Davin nih" ucap Arhan sambil melirik Davin
"Partner" ucap Davin sambil tersenyum
"Partner apa nih, banyak partner kerja apa partner yang lain" tanya Arhan
"Partner pokonya" ucap Davin
"Semoga berhasil ya bro" ucap Arhan sambil menepuk pundak Davin
Mereka berjalan menuju sebuah tempat duduk Arhan beserta istrinya. Seorang wanita tersenyum ke arah mereka.
"Sayang, ini Davin yang temen kecil aku"
"Haloo Selina"
"Ini Kania partnernya Davin" ucap Arhan sambil meledek
"Halo Kania"
"Selina"
"Duduk duduk" ucap Arhan mempersilahkan
Davin dan Arhan melanjutkan obrolan mereka. Mulai dari bercerita tentang masa lalu, hingga pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini. Davin menawarkan Arhan untuk berinvestasi di salah satu bisnisnya yang sudah berkembang cukup pesat. Arhan setuju dan hendak menjalin kerjasama bisnis dengan Davin.
Kania dan Selina mengobrol dan berbagi cerita satu sama lain. Keduanya sudah terlihat akrab, meskipun baru saja berkenalan.
"Kenal dimana sama Davin?"
"Kita kenalan di dating apps sih Ka"
"Ooh, lucky dong ya bisa cocok gini"
"Iya lucky banget ketemu Mas Davin" ucap Kania sambil tersenyum
"Ka Selin tinggal di deket sini?"
"Ngga, aku tinggal di Gayung Sari Residence baru aja pindah dua bulan yang lalu"
"Ooh disitu, Ka Selin ketemu sama suaminya dimana?"
"Kita temen satu kampus, dulu pas di kampus malah ngga deket. Ketemu lagi di event yang ada di kantor masing-masing, abis kenalan deket nikah deh"
"Seru banget jodoh ngga ada yang tau ya Ka"
"Iyah betul. Kamu masih kuliah?"
"Ngga ka udah lulus dari 1 tahun lalu"
"Ooh, sekarang kegiatannya apa?"
"Lagi ikut-ikut course aja"
"Bagus bagus, ngisi waktu luang ya. Ngga mau kerja?"
"Sementara ini fokus ke course dulu sih Ka, kalo Kaka masih kerja?"
"Ngga, semenjak nikah aku jadi ibu rumah tangga. Tapi lagi merintis bisnis dari rumah juga buat ngisi waktu kosong. Soalnya bosen kalo ngga kerja sama sekali, paling di rumah cuma megang Baby Cia aja"
"Baby Cia anak Kaka?"
"Iyah, umurnya udah 2 tahun tapi masih dipanggil Baby Cia soalnya gemesin banget kaya bayi"
Kania tertawa melihat ekspresi gemas Selina
"Aah jadi pengen liat Baby Cia deh, aku suka banget sama anak kecil"
"Boleh nanti main aja ke rumah"
"Kaka bisnis apa di rumah"
"Bisnis maklon kosmetik, jadi selain buat kecantikan setiap produknya punya kegunaan lain dalam segi kesehatan dan perawatan kulit. Contohnya produk lipsticknya punya fungsi untuk melembabkan bibir. Terus ada juga primer yang punya fungsi melembabkan dan menghaluskan kulit wajah dalam waktu 2 bulan dengan pemakaian rutin"
"Wah keren banget Ka, boleh nanti aku mau coba juga produknya. Minta nomor Kaka dong"
"Boleeeh. Ini nomornya nanti chat aku ya"
"Oke Ka. Udah ada resellernya belom?"
"Udah baru ada 5 orang. Jadi emang sengaja ngga mau banyak reseller gitu, di setiap kota kita cuma hire 3 reseller aja dengan berbagai tes waktu pendaftaran reseller itu. Buat meminimalisir pendaftaran reseller yang ngga serius atau sekedar ikut-ikutan"
"Iya bener Ka, berarti udah mateng banget ya difikirin konsepnya sebelum bisnis. Aku juga pernah bisnis Ka"
"Bisnis fashion. Tapi cuma jalan sekitar satu tahun, modalnya abis hehe"
"Ooh gapapa namanya juga belajar kadang berhasil kadang belum berhasil. Dicoba lagi aja nanti"
"Iya Ka, tapi aku emang ngga bakat bisnis di bidang fashion sih kayanya lebih bagus di bisnis kuliner"
"Ko gitu? Pernah bisnis kuliner juga?"
"Iyah waktu aku kuliah tapi bisnis bareng temen waktu itu. Ada konflik dan ngga ada yang nengahin jadi bubar deh bisnisnya padahal udah banyak pelanggan yang suka sama makanannya"
"Boleh dicoba lagi nanti. Kalo bisnis bareng sama orang memang harus bener-bener selektif sih. Banyak yang harus dipertimbangin juga, bahkan menurut aku lebih beresiko dibanding bisnis sendiri. Selain kehilangan bisnis bisa juga kehilangan temen. Kalo bisnis sendiri kan, seandainya bisnisnya belom berhasil ya ngga apa-apa juga. Sementara bisnis bareng temen pasti ada rasa ngga enak atau rasa bersalah waktu bisnisnya ngga berjalan sesuai rencana"
"Iya, nanti bisa banyak belajar dari Ka Selin ya"
"Jangan sama aku, ilmu bisnisnya belom banyak. Belajar sama yang di samping kamu aja"
Kania tersenyum mendengar saran dari Selina
Mereka melanjutkan perbincangan seputar dunia perempuan dan saling antusias terhadap cerita masing-masing. Beberapa tips dan trik seputar dunia kosmetik diajarkan Selina kepada Kania. Sementara Arhan dan Davin masih asyik mengobrol tentang banyak hal.
Tak lama kemudian, Arhan dan Selina pamit pulang karena mendapatkan kabar anak mereka sedang demam.
Davin mengemudikan mobil dengan santai, dering telepon berbunyi menghidupkan suasana canggung yang ada di dalam mobil.
"Halo iya Mah"
"Lagi dimana Nak?"
"Dijalan Mah"
"Udah malam gini masih di jalan?"
"Iya abis makan tadi terus ketemu temen"
"sendirian?"
"Ngga, sama Kania"
"Oh, jangan malem-malem besok kan kamu kerja"
"Iya Mah ini langsung pulang"
"ngga nganterin Kania dulu?"
"Abis dari rumah Kania langsung pulang maksudnya Mah"
"Oh yaudah hati-hati ya jangan ngebut naik mobilnya"
"Iya Mah"
Sambungan telepon terputus. Setelah menunggu jeda beberapa menit Kania berbicara menghilangkan keheningan.
"Mas Davin, aku mau tanya boleh ngga?"
"Iyah"
"Kalo kita ngga sengaja ketemu diluar, aku harus bersikap gimana ya?"
"Untuk sementara bersikap kaya orang asing dulu, kecuali waktu saya lagi sama Arhan karena Arhan udah tau tentang kamu"
"Iya baik"
Kania meraih ponselnya dan membaca beberapa pesan masuk. Diantara pesan masuk tersebut terdapat satu pesan yang membuatnya panik seketika. Pesan itu datang dari Jeny yang memberitahukan bahwa ia ada dinas kantor ke Pasuruan dan ingin bertemu dengan Kania disana.
Syukurlah Kania hanya membaca pesan melalui notifikasi whatsapp dan belum membuka pesan itu sehingga ia bisa memikirkan jawabannya terlebih dahulu.
Setelah memikirkan beberapa rencana, akhirnya Kania memberanikan diri membalas pesan Jeny.
"Yuuk meet up, hari apa lu kesini?"
"Hari rabu gue"
"Eh rabu gue gabisa ada urusan"
"Urusan apa?"
"Temen kantor gue lahiran"
"Pulang kantor kan pasti?"
"Iyah"
"Gue mau ngajak lunch bareng aja, kalo sore gue juga udah balik lagi"
Kania kebingungan memikirkan alasan yang bisa digunakan, namun tidak ada jalan lain selain menyetujui ajakan makan siang itu karena ia takut Jeny akan curiga jika keinginannya itu ditolak.
Kania merasa bersalah harus berbohong kepada sahabatnya, namun ia tidak memiliki jalan lain. Kania menyesali kebohongan yang ia buat sendiri karena untuk menutupinya, ia harus membuat kebohongan-kebohongan lain.