
Raut wajah Papah Kania berganti menjadi mode serius
"Papah sih setuju setuju aja, tapi kalo status ekonominya beda, yakin ngga bisa sabar waktu ada yang nyeletuk tentang kesenjangan sosial antara Kaka sama dia? Mungkin orangtuanya udah setuju sama kamu tapi gimana sama anggota keluarganya yang lain? Papah cuma khawatir kamu diperlakukan ngga baik sama mereka. Kalo sekarang mungkin waktunya kamu bilang bisa berkorban apa aja buat dia, tapi kira-kira setelah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan apa kamu merasa menyesal udah memilih nikah sama dia? Papah cuma mau yang terbaik buat Kaka, jangan sampai setelah menikah justru kamu ngga bahagia Ka" ucapnya memberi nasihat
Kania terdiam, mengingat kehidupannya yang terbilang tidak mudah saat berada di rumah Davin. Beberapa kali menangis hanya dalam kurun waktu satu bulan setengah, lalu bagaimana dengan hidup selamanya disana. Namun perjanjian yang ia miliki dengan Davin tidak bisa dibatalkan terlebih melakukan pembatalan secara sepihak. Dan ia mulai menyukai Davin meskipun mendapatkannya terkesan tidak mungkin dan jauh dari jangkauannya.
"Tuh belum apa-apa udah mau nangis. Ngebayangin kalo dijahatin sama orang kan?" ucap Papah Kania
"Ngga Pah, aku cuma terharu denger ucapan Papah" ucap Kania
"Kalo menurut Papah dipikir-pikir dulu aja Ka"
"Tapi aku udah pikirin ini mateng-mateng Pah"
"Dipikirin lagi Ka"
"Dia nanti sore mau maen kesini boleh?"
"Ya Kalo mau maen aja silahkan"
Sore tiba, Kania menunggu di depan rumahnya setelah Davin mengabari akan sampai dalam waktu lima menit. Tanpa menunggu lama, sebuah mobil Mini Cooper Clubman John Cooper Works berwarna hijau klasik berhenti tepat di depan rumah Kania.
Davin membuka kaca mobil, lalu mengangkat tangan. Aura maskulin terpancar, ditambah dengan aksen kacamata hitam wayfarer yang dikenakannya. Kania baru menyadari keberadaan Davin dikarenakan tidak pernah melihat mobil yang dikendarainya hari ini.
Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk ke dalam rumah. Orangtua Kania sudah berada di ruang tamu dan segera menyambut Davin saat memasuki rumah.
"Silahkan duduk"
"Baik terimakasih Bu" ucap Davin kemudian duduk di kursi yang telah disediakan
"Kaka buatin minuman"
"Iya Pah"
Setelah mengetahui latar belakang Davin, Orangtua Kania mempersilahkan Davin dan Kania untuk duduk bersama.
"Papah mau tanya sama Davin boleh?"
"Iya silahkan Pak"
"Seberapa banyak kamu tahu tentang karakter Kania dan apa yang membuat kamu memutuskan untuk mempunyai hubungan serius sama dia?"
"Tentu ngga sebanyak bapak mengerti tentang karakternya, tapi dengan mengenal Kania dalam waktu enam bulan terakhir membuat saya jatuh hati dengan karakter yang dia miliki Pak"
"Sejauh ini, apa kamu sabar menghadapinya? Apa yang kamu lakukan kalau di masa depan Kania tidak mau mendengarkan ucapan kamu"
"Ngga bisa dipungkiri ada beberapa hal yang awalnya tidak bisa saya terima, Kania dengan segala kecerobohannya. Tapi, perlahan dia membuktikan untuk berubah sedikit demi sedikit. Saya akan berbicara padanya dengan lembut karena Kania adalah tipe orang yang akan keras kepala jika diberitahu dengan keras"
Papah Kania tertawa mendengar ucapan laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Hal paling ceroboh apa yang pernah dilakukan Kania sejauh ini?"
"Kaka itu bahaya banget loh buat keselamatan kamu" ucap Papah Kania terlihat khawatir kepada putrinya
Kania hanya diam tidak menjawab.
"Tadi kamu bilang berniat punya hubungan yang serius sama Kania. Hubungan serius bagaimana yang kamu maksud?"
"Hubungan serius yang berarti memiliki visi dan misi Pak. Memiliki tujuan untuk ke jenjang selanjutnya yaitu pernikahan, dan berada dalam pernikahan yang baik hingga akhir hayat"
"Ketika nanti ada konflik antara Kania dan salah satu anggota keluarga, siapa yang akan kamu bela?"
"Saya akan melihat dari dua sisi Pak. Setelah mengetahui inti dari permasalahannya, saya akan menegur Kania jika dia bersalah dan membela saat ia melakukan hal yang benar. Hal yang akan saya lakukan sama ketika terjadi dengan anggota keluarga saya yang lain"
"Jawaban kamu baik, tapi saya harap bukan cuma omongan tanpa realisasi di kehidupan. Laki-laki adalah pemimpin. Pemimpin yang baik adalah yang bisa melaksanakan apa yang diucapkannya"
"Siap Pak"
"Satu lagi, jangan pernah sombong dan menganggap pasangan kamu beruntung mendapatkan kamu sementara kamu rugi karena mendapatkannya. Kalau merasa seperti itu lebih baik mundur dan cari pasangan sesuai yang kamu harapkan. Pasangan yang bisa bertahan lama adalah pasangan yang memiliki kerjasama team yang baik. Waktu pasangan kita mengalami sakit atau kondisi tidak menyenangkan, hibur dan temani dia bukannya mencari orang lain di luar sana. Ingat dia adalah putri yang berharga di keluarga kecil saya, kalau ada hal yang tidak kamu sukai tentang dia ceritakan pada kami jangan pernah cerita ke keluarga kamu. Jika kamu merasa putus asa dan memutuskan untuk bercerai kembalikan kepada kami dengan cara terhormat sebagaimana kamu memintanya dengan terhormat pula"
"Baik Pak, saya akan mengingat nasihat yang Bapak sampaikan"
"Bapak sepenuhnya memberikan keputusan di tangan Kania"
"Rencananya hari kamis saya akan kembali ke rumah ini bersama om saya untuk menyampaikan niat baik melangsungkan pertunangan dengan putri Bapak. Dikarenakan Ayah sedang kurang sehat jadi Om saya yang akan mewakilkan"
"Silahkan datang, diterima atau tidak bergantung pada keputusan Kania"
Davin menceritakan kondisi kesehatan Ayahnya, dan rencana untuk melakukan operasi di Singapore. Kemudian menceritakan tentang pekerjaan yang ia miliki, berikut kegiatannya sehari-hari.
Waktu terus berjalan, panggilan sholat maghrib terdengar. Setelah sholat maghrib, Davin dan Kania izin undur diri untuk kembali ke rumah.
Ketika di dalam mobil, Kania terdiam memikirkan perbincangan antara Davin dan Papahnya. Matanya kembali berkaca-kaca karena terharu mendengar ucapan Davin yang terkesan tulus.
Bolehkah dia menginginkan semua yang Davin ucapkan tadi adalah sungguh dari hatinya untuk meminang Kania menjadi istri sungguhan bukan istri dalam sebuah perjanjian pernikahan kontrak.
Air matanya menetes, Davin memberikan sehelai tissue padanya. Davin membunyikan musik di dalam mobilnya agar Kania merasa nyaman, jika ia ingin menangis dengan suara yang tersamarkan dengan suara musik yang sedang diputar.
Kania mengambil tissue lagi, karena tissue pertama sudah basah oleh air matanya. Sesekali mengusap air mata yang jatuh tak beraturan. Ia menahan agar tidak menangis terisak, entah mengapa sejak tadi sore air matanya selalu berada di kelopak mata miliknya.
Di perjalanan, Davin membelokkan mobilnya ke starbucks drive thru.
"Starbucks drive thru dengan Fany ada yang bisa bantu?"
"Saya pesen caffe latte satu, sama satu lagi mba pilihin aja yang enak diminum abis nangis" ucap Davin sambil melirik Kania
"Oke siap Pak ditunggu ya, silahkan bayar di depan" ucap pelayan sambil tertawa kecil
Kania tersenyum, entah mengapa ia sangat emosional hari ini. Ia menengadahkan kepalanya sambil menutupi wajah dengan tissue. Lalu berkali-kali mengucapkan kalimat penyemangat agar menyudahi air mata yang keluar dari kelopak matanya.