
Matahari pagi menyorot wajah seorang gadis yang sedang terduduk di depan jendela kamar. Ia hanya berpandangan lurus ke depan dan terlihat fokus tanpa melirik ke arah manapun. Terlalu fokus dengan sekelumit pemikiran yang ada di otaknya hingga tidak menyadari seseorang memperhatikannya sejak lama. Davin Mahendra menatap Kania yang termenung entah sejak kapan. Rasa iba menyelimuti hatinya, beberapa kali terdapat pemikiran untuk mengakhiri kontrak di antara mereka. Namun, ia tak ingin melepaskan Kania begitu saja. Hidupnya baru saja berubah menjadi lebih berwarna setelah kehadiran Kania. Entah apa yang dirasakan tapi dia yakin ini bukan cinta, karena tidak ada perasaan menggebu-gebu seperti dahulu saat memiliki hubungan dengan wanita lain. Hanya saja Ia ingin selalu melindungi Kania dan merasa nyaman dan tidak terganggu saat Kania berada di dekatnya.
Dering ponsel berbunyi dan menyadarkan Davin dari lamunannya. Andrea, salah satu partner bisnis yang mengubunginya dan menanyakan keberadaan Davin karena ia sudah sampai di salah satu tempat golf yang biasa mereka kunjungi.
"Dimana bro?"
"Masih di rumah, udah mau berangkat"
"Gue udah di tempat nih. Tumben lu telat"
"Iya gue kesana sekarang"
Andrea tersenyum sumringah saat melihat Davin berjalan ke arahnya. Laki-laki itu terlihat santai dan stylish dengan kaos polo slate blue dan celana slacks pendek berwarna putih.
"Hei, bro"
"Yoo whats up bro, kemana aja baru bisa diajak kesini lu"
"Biasa, ada urusan"
"Ada urusan apa urusan yang lain?"
"Aaapa?"
"Tau deh gue pokonya. Yu mulai, keliatan banget dari muka lu harus banyak refreshing. Jangan kerja mulu lah maen maen dikit"
"Iya iyaa"
Permainan golf selesai dan mereka memutuskan makan siang di salah satu restoran terdekat. Selama menunggu pesanan datang, mereka saling bertukar kabar tentang keluarga masing-masing dan berlanjut ke pembahasan tentang bisnis dan investasi. Andrea memiliki bisnis otomotif yang tidak terlalu besar, hal itu sengaja dilakukannya. Karena ia hanya ingin punya satu bisnis dengan satu tempat saja, karena lebih berfokus kepada investasi.
"Eh lu ada deket sama cewe ya?"
"Kenapa emang?"
"Bener? Waktu itu pacar gw lagi nyetir terus nengok ke samping katanya ada lu sama cewe"
Andrea menaikkan alis sambil tersenyum menggoda Davin
"Iyah"
"Iyah apa?"
"Kepo lu"
"Ih dia mah ngga seru, cerita dong. Ko ngga dikenalin ke temen-temen lu?"
"Ngga, nanti aja kalo udah married baru gue kenalin"
"Weh udah ada plan married aja nih, satset banget lu vin. Gue aja belom kepikiran. Kata gue ya pasti kalo udah nikah beda pas kaya lagi pacaran. Temen gue yang udah nikah aja bilangnya jangan buru-buru nikah"
"Ya itu kata temen lu yang ngga terlalu bahagia sama pernikahannya, kalo kata yang lain malah nyuruh buru-buru kalo udah nemu yang cocok plus visi misinya sama jadi satu tujuan. Tapi harus siap juga"
"Iyah kali ya. Nah iya itu gue belom siap"
"Belom siap beneran apa belom siap karena lu masih suka pijet?"
"Enak aja lu, gue udah tobat kali dari lama"
"masa?"
"Iyalah lu kan bukan temen gue ke sana, jadi lu gatau"
"Ya ngapain gue kesana, nemenin lu doang?"
"Nyobain sekali gapapa kali maas"
"Ngga"
Setelah makan, Andrea memamerkan mobil miliknya yang sudah dimodifikasi menjadi sangat nyaman dan fungsional. Ia mengganti kursi pengemudi menjadi sangat nyaman dan menyebutnya dengan kursi anti pegal. Selain itu terdapat perlengkapan darurat versinya yang menurut Davin terdapat beberapa barang yang tidak terlalu diperlukan dan berlebihan. Daftar musik ataupun film yang tersedia sangat lengkap, agar tidak bosan saat harus menunggu di dalam mobil. Terdapat juga tempat untuk menaruh beberapa setel pakaian untuk disimpan di mobil, jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Davin hanya menggeleng-gelengkan kepala saat Andrea menyebut nominal yang dihabiskan untuk memodifikasi mobil tersebut. Terdengar berlebihan, namun itulah hobby dan kesenangan bagi orang yang sedang tersenyum disampingnya itu.
"Jadi mau kemana kita hari ini Pak Davin?"
"Tempat makan yang nyaman aja"
"Baiklah saya antar"
"Mobil gue ditinggal gitu?"
Andrea menancap gas dengan sigap, Davin yang tidak siap sedikit tersentak karena tidak mendapatkan aba-aba.
"Wey ngga bilang-bilang lu ya, mau bawa kabur gue apa?"
"Dih ngerugiin lah nyulik lu, makannya banyak"
Davin hanya tertawa mendengarnya
"Lu harus nyobain naik mobil gue Vin, keburu gue pergi lagi"
"Mau kemana sih lu, ngga betah diem banget"
"Lu kan tau jiwa gue, bebas dan tanpa batas"
"Yaa ya ya, sampe kapan?"
"Sampe gue ngerasa puas"
Keduanya mendengarkan lagu salah satu penyanyi kesukaan mereka sambil sesekali kembali mengobrol. Davin teringat lagu kesukaan Kania dan tiba-tiba ingin mendengarkannya. Andrea hanya diam lalu menikmati lagu tersebut.
Bait demi bait lagu dinyanyikan dan sampailah kepada bagian reff. Davin mendengarkan, tidak ikut bernyanyi karena belum terlalu familiar dengan lirik lagu yang ada di dalamnya. Sementara Andrea tersenyum kearah Davin dengan tatapan penuh makna dan sedikit meledek.
"Apa?"
"Lu lagi jatuh cinta ya?"
"Ngga"
"Alah, itu lagunya?"
"Dari orang"
"Someone special?"
"Ngga juga"
"Cewe itu biasanya suka lagu karna mempresentasikan perasaan mereka tau Vin"
"Suka aja kali sama lagu nya"
"Lu harus percaya sama expert soal cewe kaya gue Vin"
"Yeah, si paling expert"
"Gue serius Mahendra"
"Udah nyampe nih, ayo lah makan"
"Makan sama kerja doang emang yang ada di fikiran lu"
"Said you sir"
Makanan dihidangkan di hadapan mereka. Keduanya mulai makan dengan tenang dan menikmati setiap menu satu per satu. Setelah itu desert beserta minuman buah datang ke meja yang saat ini sudah kosong.
"Jadi, gimana vin?"
"Gimana apa?"
"Lu mau nikah kan?"
"Ya mau, siapa ngga mau"
"Serius boy"
"Iyah, gue mau nikah. Lu tau darimana?"
"Liat status instagram lu lah. Tapi cincinnya ngga dipake?"
"Ngga, gue masih mau private. Nanti kalo udah nikah baru gue pake"
"Cewe lu?"
"Cincinnya bodooh, kan lagi ngomongin cincin. Ngga nyambung lu"
"Ya gapapa Viin"
"Iya lah hak gue itu" Andrea tertawa renyah
"Ketawa aja lu"
"Lu ketemu sama dia dimana? "
"Yee pengen tau banget lu?"
"Ngga sih, ngga menarik juga kayanya"
"Ya kenapa nanya"
"Aneh aja, setelah sekian lama ya Vin. Akhirnya nemu juga lu yang cocok padahal sebelumnya gue udah sering ngenalin ke temen-temen gue tapi lu ga pernah cocok"
"Ya temen lu unik unik"
"Hey, yang dikenalin ke lu itu yang menurut gue paling bagus"
"Your opinion not mine"
"Ya ya ya penasaran juga gue sama calon istri lu. Bawa dong kalo nongkrong"
"Ngga, gue ngga mau dia ketemu lu"
"Kenapa? takut suka sama gue ya"
"Ih kepedean, ngga akan. lu bawa sugar baby lu dong biar dia ada temen ngobrol"
"Tenang, aman. kapan nih jadinya?"
"Abis nikah"
Andrea hanya tersenyum sambil melirik Davin dengan tatapan penuh arti