
Davin mengunjungi rumah Kania untuk yang kedua kalinya. Kali ini, ia datang bersama dengan Andre sebagai orang yang akan mewakilkan Ayah Davin menyampaikan maksud baik kepada orangtua Kania.
Di tempat lain, Kania berharap semua berjalan lancar dan papahnya tidak memberikan persyaratan aneh kepada Davin.
Andre menyampaikan maksud kedatangannya yang disambut baik oleh Papah Kania. Mereka terlihat tertawa bersama lalu membicarakan banyak hal mulai dari politik hingga kisah cinta masa lalu yang dialami masing-masing. Sementara Davin sedang asyik mengobrol dengan adik-adik Kania.
Keesokan harinya, Kania mendapatkan telepon dari Mamah Davin yang mengajaknya pergi ke mall untuk memilih hadiah pertunangan. Setelah bersiap, Kania berangkat menuju kediaman orangtua Davin.
Mereka memasuki lobby utama sebuah mall di kawasan Surabaya. Waktu pagi dipilih karena masih sepi pembeli, membuat proses memilih barang menjadi lebih nyaman.
Setelah memilih beberapa tas, mereka memasuki toko sepatu yang memperlihatkan berbagai model sepatu koleksi terbaru yang dikeluarkan merk tersebut. Warna sepatu dipilih dengan menyesuaikan perpaduan warna earth tone sesuai dengan tema acara pertunangannya.
Makanan dihidangkan di meja pesanan mereka. Kania memperhatikan hidangan yang tersedia satu per satu.
"Mah ini makanan kita sebanyak ini?"
"Ngga, mamah ngundang Davin buat makan bareng, bentar lagi dateng. Katanya tadi lagi di jalan"
Kania hanya mengangguk mengerti.
Selang beberapa menit Davin memasuki restoran tempat mereka duduk.
"Nunggu lama ngga Mah?"
"Ngga, ini makanannya aja baru dateng"
"Yu dimakan"
Kania mendekatkan piring berisi nasi putih kepada Davin. Ia memindahkan beberapa makanan dari hadapan Davin karena mengandung udang sementara piring lain berisi menu dengan rasa yang pekat. Mamah Davin tersenyum melihatnya.
"Rencananya mau di mana Vin, acaranya?"
"Di Hotel Sheraton mah"
"Udah booking?"
"Udah dong, kan acaranya sabtu ini"
"Soalnya kamu belum bilang Mamah sama Ayah"
"Iyah niatnya mau ngasih tau sekalian kirimin undangan digital nanti sore"
"Oh gitu. Iya atur aja sama kamu. Oh ya mamah ngga bisa nemenin Kania lagi ada urusan, nanti kamu temenin ya tinggal beli baju sama perhiasan aja. Ngga ada urusan penting kan di kantor"
"Gapapa Mah Kania sendiri juga takut Mas Davin ada kerjaan di kantor"
"Ngga ada kan Vin?"
"Ngga ada Mah"
"Gitu dong, jangan terlalu sibuk. Kamu bentar lagi kan mau punya istri"
"Iya Mah"
Kania memilih baju yang cocok untuknya, sementara Davin melihat-lihat berbagai model baju yang terpasang di display toko. Kania mengambil beberapa dress berwarna terang dan cheerful. Saat ia menuju fitting room, Davin menyodorkan 3 buah dress dengan warna warm yang terkesan elegan.
"Coba dulu yang ini" ucap Davin
"Iya Mas"
Suara ketukan high heels terdengar, Davin menoleh ke sumber suara. Kania tersenyum dan membentangkan sedikit tangan di samping tubuhnya. Ia terseyum dan menatap terkesima Kania dengan penampilan wanita elegan yang menjadi tipe wanita idamannya.
Kania segera mengganti bajunya dan membayar di kasir. Ia melihat sekitar dan tidak melihat keberadaan Davin. Saat akan keluar dari toko Davin datang dengan minuman di tangannya.
Mereka berjalan menuju toko perhiasan yang ada di Mall. Sebuah toko dipilih Davin untuk membeli perhiasan disana. Beberapa model perhiasan satu set di keluarkan oleh pegawai. Kania menyerahkan pilihannya kepada Davin.
Davin memilih satu set perhiasan dan menanyakan pendapat Kania. Ia hanya mengangguk setuju dengan pilihan yang diberikan.
"Dicoba dulu aja Pak, biar tau cocok atau ngga"
"Ngga usah Mba ngga apa-apa" ucap Kania
Davin mengambil Kalung yang ada di dalam kotak, membuka pengait dan memakaikannya di leher jenjang milik Kania. Kemudian mengganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Cocok Ka, makin cantik" ucap pegawai toko
Kania hanya terseyum mendengar pujian itu. Namun ia merasakan perbedaan sikap Davin kepadanya.
Setelah kegiatan berbelanja selesai, mereka naik mobil. Davin memegang stir mobil dengan satu tangannya. Kania menahan senyumnya lalu menghidupkan radio di dalam mobil.
"Yaa listeners sore ini kita akan membacakan sebuah request lagu yang masuk dari akun twitter kalian nih yang dipilih secara acak. Dari @belalangkenangan Ka Indy yang baik hati aku mau request lagu nih yang menggambarkan perasaan aku waktu lagi bareng sama crush aku tolong diputerin ya lagu by my side Zack Tabudio ft Tiara Andini"
"Emang ya lagu ini cocok banget buat kalian yang lagi berbunga-bunga atau lagi masa bucin sama someone special. Tanpa berlama-lama lagu ini akan menemani sore indah kalian hari ini. Enjoy semuanya. Check it out by my side Zack Tabudio ft. Tiara Andini"
Lagu diputar dengan nada ringan. Kania mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terdapat didalamnya. Pada bagian reff lagu ini menjadi bagian favoritnya.
~So I just wanna wake up next to you in the morning
Dance you through the night, oh my love
Kiss me, hug me tight and just love me
I want you forever by my side
Na na na, I want you forever by my side
Na na na, I want you forever by my side~
Kania tersenyum dan melihat ke arah jalan. Lagu ini membuatnya merasakan bahagia. Membayangkan moment bersama Davin yang membuatnya merasa salah tingkah. Mobil melaju dengan cepat, Ia menyadari ini bukan jalan ke rumah Davin.
"Mas Davin kita mau kemana?"
"Ke Hotel Sheraton mau cek udah berapa persen persiapan tempatnya"
Kania mengangguk mengerti.
Mobil berhenti, Kania dibuat terkesan oleh design Hotel yang terkesan mewah meskipun baru melihat Hotel di bagian depan. Seorang laki-laki menyapa Davin, Dia mengantar ke Grand Ballroom Hotel. Interior Hotel didominasi oleh kesan classic dengan perpaduan warna yang abu-abu dan putih sehingga terkesan tidak mencolok.
Mereka memasuki area Grand Ballroom yang sudah dipersiapkan untuk acara pertunangan sabtu nanti.
"Persiapannya sudah mencapai 98% Pak Davin dan dapat dipastikan semua akan siap sebelum acara dimulai. Untuk menu makanan apakah ada perubahan pak?"
"Ngga ada, yang waktu itu aja"
"Saya pastikan semuanya lacar dan tidak ada kendala Pak"
Davin mengangguk dan berjalan meihat sekitar. Kania menyadari status sosial Davin yang jauh berbeda dengannya. Ia menerka-nerka bagaimana nanti dengan pesta pernikahannya jika pertunangan saja di tempat mewah seperti ini. Dan mungkin saja ini adalah hal biasa bagi keluarga Davin.
Kania tenggelam dalam lamunannya. Davin memanggil Kania namun tidak mendapatkan jawaban. Ia menghampirinya lalu merangkul pundak dan mengajaknya pulang. Tidak lupa panggilan "sayang" yang baru didengarnya pertama kali. Panggilan yang keluar karena ada orang lain diantara mereka. Davin berpamitan pulang kepada laki-laki yang mengantar mereka.
Davin tetap merangkulnya dalam perjalanan ke luar area Hotel. Potongan lagu yang didengar Kania di mobil kembali bernyanyi di kepalanya.