
Acara pertunangan telah berakhir, Kania menatap cincin yang melingkar di jari kelingkingnya. Dari hari ke hari pergolakan batin yang dimilikinya semakin kuat. Ia tidak membenarkan apa yang dilakukannya saat ini, karena ini memang tidak benar. Namun, tidak ada kesempatan untuk mundur. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa kecewa semua keluarganya maupun keluarga Davin. Terlebih ia tidak mampu menghadapi orangtuanya karena perbuatan bodohnya ini. Disisi lain, ia juga menyukai Davin. Namun Kania ingin menjadi istri sungguhan, bukan hanya status istri didepan orang lain.
Kania menenggelamkan wajahnya di antara bantal yang berada di atas tempat tidur lalu berteriak. Tak ada siapapun yang bisa ia mintai saran karena tidak ada satupun yang boleh mengetahui keadaannya.
Berbeda dengan Kania yang sedang uring-uringan oleh berbagai pemikirannya. Davin sedang bekerja di kantor pribadi miliknya. Ia membuka beberapa file dan memantau pertumbuhan perdagangan ekspor di perusahaan miliknya.
Merasa kewalahan dengan memiliki dua jabatan di perusahaan yang berbeda, Davin menunjuk Jio salah seorang kepercayaannya untuk menjadi wakil CEO di kantornya. Ia tak pernah tidur di bawah jam 1 malam. Selalu ada hal yang dikerjakan olehnya.
Davin melihat jam tangan yang sedang dikenakannya. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Ia memegang kepalanya yang terasa berat. Davin menyandarkan badannya ke sofa dan mencoba untuk tidur. Namun nihil, sakit di kepalanya semakin terasa. Ia baru menyadari bahwa belum makan apapun sejak siang hari ini. Perutnya mulai mengeluarkan suara lapar ditambah dengan suhu tubuhnya yang entah sejak kapan sudah mencapai 38 derajat celcius.
Tangan Davin meraba ponsel yang ada di atas meja. Ia menghubungi Kania, tidak membutuhkan waktu lama sambungan telepon terhubung.
"Kania, bisa ke kantor saya?"
"Iya mas saya kesana"
Kania memasuki ruangan kantor yang tampak sepi. Ia berjalan masuk ke dalam dan mendapati Davin yang sudah tak berdaya di atas sofa. Ia menghampirinya.
"Mas Davin kenapa?" ucapnya sambil menyentuh dahi Davin dengan hati-hati
"Demam yah, udah makan belum Mas?"
"Belum"
"Aku buatin teh anget dulu ya bentar"
Kania kembali masuk setelah membawa satu gelas teh di tangannya.
"Ini diminum dulu Mas" ucapnya sambil meminumkan teh tersebut.
"Aku buatin bubur ya Mas, tunggu dulu"
Setelah membawa bubur dan obat ditangannya Kania kembali membangunkan Davin dari posisi tidurnya. Ia menyuapi bubur kemudian memberikannya obat kepadanya.
Kania memapah Davin untuk pindah ke kamar. Karena berat tubuh yang mereka miliki berbeda, Kania sempat kewalahan dibuatnya. Namun, ia tetap berusaha dengan sekuat tenaga. Ia membawa Davin ke kamarnya, karena tidak sanggup jika harus membawanya ke lantai atas melewati tangga.
Kania memengoleskan Eucalyptus Oil ke dahi, pelipis dan beralih ke leher Davin. Davin memegang tangan Kania dan menghentikan tangannya saat menyentuh perut miliknya.
"Cukup"
"Hah? I-iya mas"
Kompres air dingin diletakkan Kania di atas nakas. Ia memeras handuk kecil, lalu menaruh handuk diatas dahi Davin. Ia menatap Davin yang terlihat kesakitan, dahinya berkerut. Tak lama kemudian, Davin menggenggam tangan Kania lalu meletakkannya di atas dada. Kania diam mematung di tempat duduknya, berusaha tenang diantara detakan jantung yang tidak karuan.
Lama berselang, Kania merasakan kesemutan di tangannya. Ia mendekatkan kursi ke tempat tidurnya berusaha melepaskan genggaman tangan Davin. Ketika Kania mulai menggerakkan tangannya, Davin mengubah posisi tidur menyamping menghadap kepada Kania lalu menaruh tangannya di antara wajah dan leher Davin.
Wajah Kania memerah, kini ia menyadari bahwa perasaannya memang nyata dan membiarkan perasaan itu tumbuh. Setengah jam kemudian mata Kania mulai mengantuk, ia tertidur di samping tempat tidurnya dengan posisi tubuh masih berada di atas kursi.
Alarm handphone terdengar dan membangunkan Kania dari tidurnya. Ia menutup mulut dengan tangannya karena melihat pemandangan tak biasa di pagi hari ini. Wajah tampan Davin yang tenang dengan mata tertutup, terlebih tangan kekarnya melingkar di punggung Kania.
Entah apa yang membuat Kania bisa tertidur di atas kasur. Ia melepaskan pelukan Davin dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan mengembalikan kesadaran sepenuhnya.
Setelah selesai membuat minuman tersebut, Kania memasukkannya ke dalam beberapa botol dan menaruhnya ke dalam kulkas untuk persediaan.
Satu mangkuk bubur telah siap dengan beberapa lauk di piring terpisah. Satu gelas air putih dan satu gelas lagi minuman racikan dibawa Kania ke dalam kamarnya. Ia menyentuh dahi Davin, memeriksa suhu tubuhnya saat ini. Suhu panas masih menjalar di seluruh tubuhnya.
Kania membangunkan Davin dengan hati-hati lalu menyenderkan nya di headboard.
"Makan dulu ya Mas, nanti tidur lagi. mau aku panggilin dokter ngga atau dianter ke rumah sakit?"
"Ngga usah cuma perlu istirahat aja"
Davin hanya makan tiga suapan dan meminum sedikit minuman yang dibuat Kania. Kemudian kembali tertidur setelah meminum obat.
Matahari memunculkan teriknya, Kania tengah membawa makan siang untuk Davin. Namun, Davin tidak bangun setelah beberapa kali dibangunkan olehnya. Kania menaruh jari telunjuknya di bawah hidung Davin untuk memastikan ia masih bernafas.
Seperti halnya siang, ketika sore Davin tidak juga bangun. Kania pasrah dan menunggu waktu malam untuk kembali membangunkan Davin dan memberikannya makanan agar lekas sembuh.
Dengan perlahan Davin membuka matanya setelah dibangunkan. Kania menyentuh pelipis Davin yang mengeluarkan keringat dingin. Ia khawatir dan meminta Davin untuk setuju dibawa ke rumah sakit. Davin menolak dengan ketus.
"Saya udah bilang ngga perlu ke rumah sakit"
Kania tidak memiliki keberanian untuk membantahnya. Setiap perkataan yang keluar dari mulutnya seperti perintah dan tidak ada yang boleh membantahnya. Dengan perasaan sedikit kesal, Kania menyuapi Davin makan malam. Lalu memberikan obat kepadanya.
Davin kembali tertidur, Kania merebahkan dirinya di sofa merah muda yang ada di kamar tidur. Sebelum tidur ia menelepon seorang teman yang berprofesi sebagai dokter untuk menanyakan seputar demam dan apa yang harus dilakukan jika tubuh menggigil karena demam.
"Wey Kania lu tidur yah"
"Hah? Ngga ini gue lagi dengerin"
"Boong, lu tidur kan"
"Hehe dikit abis penjelasan lu panjang. Yang singkat aja rin"
"Oke, jadi intinya waktu kondisi menggigil ambil pakaian hangat atau selimut. Minum yang cukup sama makan makanan mengandung karbohidrat"
"Sip deh"
"Sip sip aja ngerti ngga lu?"
"Ngerti doong. Yaudah makasih yah gue ngantuk mau tidur"
"Iya sama-sama. Yee masih sore juga udah mau tidur aja"
"Malem ini udah jam sembilan. Semangat tugasnya ya Bu dokter"
"Iyaa makasih Ibuu"
Hanya dalam hitungan menit, Kania sudah tidur dengan sangat nyenyak dan bermimpi banyak hal. Hari ini ia merasa lelah, meskipun tidak melakukan banyak pekerjaan.
"Kania" ucap Davin lirih