Marriage Contract

Marriage Contract
Terlihat Baik



Kania menatap dirinya di depan cermin, rambutnya sudah kembali ke warna semula karena menuruti perintah Davin. Terlebih, besok ia harus mengantar orangtua Davin untuk pergi mendapatkan pengobatan lebih lanjut di Singapura.


Dengan beberapa senyuman yang dipersiapkannya, Kania berlatih untuk esok hari dan selanjutnya karena mulai saat ini ia akan mencoba berlatih untuk memerankan peran seorang wanita yang pantas mendampingi seorang Davin Mahendra. Tanpa melibatkan perasaan maupun kepentingan pribadinya.


Davin tengah bersiap sementara Kania sudah siap untuk berangkat sejak setengah jam yang lalu dan menunggu di ruang tamu. Karena terlalu lama menunggu, ia memainkan beberapa permainan yang ada di handphone miliknya. Setelah memainkan permainan selama satu putaran, Davin turun dari lantai atas dan memberitahukan Kania untuk segera berangkat.


Hening, tidak ada obrolan diantara mereka. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada yang berusaha memecah keheningan yang terjadi, termasuk Kania yang sangat tidak menyukai suasana canggung seperti saat ini. Ia menjadi lebih tidak peduli dan melaksanakan tekadnya untuk bersikap sewajarnya dan yang dibutuhkan saja. Davin sesekali melirik ke arah Kania, Ia merasakan perubahan sikap Kania yang menjadi lebih dingin dibandingkan sebelumnya.


Keduanya telah sampai di Bandar Udara Internasional Juanda dan segera mencari keberadaan orangtua Davin. Kania mengenali kerumunan yang tengah asyik berbincang di salah satu tempat duduk yang tersedia disana.


"Disana Mas" ucapnya kepada Davin


Mereka berjalan menghampiri kedua orangtua Davin, Selain itu juga hadir disana Orangtua Kania yang mengantar ke bandara.


"Mah"


"Kamu baru dateng, bentar lagi Mamah sama Ayah mau berangkat nih"


"Bukannya jam 10 ya mah?"


"Flightnya dimajuin ke jam 9 nak"


"Mamah ngga bilang sebelumnya"


"Bukannya udah yah, mungkin mamah lupa karena banyak ngurus persiapan buat kesana"


Suara pengumuman memberitahukan bahwa pesawat akan segera bersiap untuk berangkat. Orangtua Davin menitipkan anak tunggal mereka kepada Orangtua Kania yang disambut hangat oleh keduanya. Sebelum berpamitan pulang, Mamah Kania membisikkan sesuatu di telinga putri kesayangannya itu.


"Lagi marahan yah?"


Kania hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu.


"Vin, ini tadi Mamah masak dulu sebelum kesini. Makan bareng ya sama Kania"


"Iya Mah, maaf ya jadi ngerepotin pagi-pagi"


"Ngga, lagian Mamah seneng bisa masakin buat kamu sama Kania mumpung ada banyak waktu juga. Nanti kalo lagi mau makanan apa request aja Mamah buatin dengan senang hati"


"Iya Mah, Makasih ya Mah Pah"


"Iya sama-sama"


"Nitip Kania ya Vin"


Setelah berpamitan, Kania dan Davin kembali ke rumah. Kania memberikan makanan dari Mamahnya kepada Bi Ijah agar disajikan untuk makan siang hari ini. Sementara Davin bekerja dari rumah dan mengawasi beberapa bisnisnya dari laporan yang diterima beberapa hari lalu.


Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, Bi Ijah memanggil Davin di ruangan kantor sementara Kania sudah berada di ruang makan karena sebelumnya membantu Bi Ijah menyiapkan makanan. Sepuluh menit kemudian, Davin datang dan menarik kursi untuk duduk. Kania tengah duduk di seberang kursi yang diduduki oleh Davin. Keduanya berpandangan sejenak, Kania memberikan senyum tipis miliknya.


Mereka makan dengan tenang, tak ada obrolan apapun. Lagi, Kania merasakan kehampaan dalam hatinya. Mungkin beginilah perasaan sebuah keluarga yang saling sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga tidak berkomunikasi satu sama lain seperti sebuah series yang pernah ditonton olehnya dulu.


Sebelumnya, ia tidak pernah terbiasa berada di situasi seperti ini. Namun, karena sudah beberapa kali mengalaminya Kania mulai bisa menerima hal itu.


Selesai makan, Davin melanjutkan kembali pekerjaannya. Membuka beberapa file yang sebelumnya dalam keadaan minimize. Ditengah kegiatannya, Ia teringat akan seseorang yang dipekerjakan olehnya untuk mencari tahu tentang orang dibalik teror yang diterimanya belum lama ini.


"Bagaimana, sudah ada hasilnya?"


"Untuk pelakunya masih disellidiki Pak, karena alamat tepatnya baru kita terima hari ini. Alamat sebelumnya zonk karena terlacak di sebuah rumah kosong Pak"


"Lakukan secepatnya saya tunggu"


"Siap Pak, saya akan beri kabar secepatnya"


Panggilan telepon tertutup, Fino tengah berada di depan komputer pribadinya. Terlihat tampilan layar sedang melacak sebuah alamat dengan titik merah di dekat pusat lokasi. Handphone tersebut berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa henti. Hingga suatu waktu titik tersebut diam dan tidak berpindah, Fino segera mendatangi lokasi tersebut. Setelah yakin dengan titik lokasi yang didatangi, ia mulai mencari keberadaan seseorang di rumah tersebut.


Waktu berlalu, sudah sekitar empat jam Fino menunggu. Tidak ada tanda-tanda seorangpun yang berada di rumah besar yang ia datangi ini. Setelah melihat suasana sekitar dan yakin tidak ada orang, Fino mengendap-endap memasuki ruang demi ruang sambil memegang handphone miliknya dan mencari keberadaan handphone yang dicarinya saat ini.


Sebuah nada dering mengagetkan Fino, ia menghampiri sumber suara tersebut. Sebuah laci berwarna coklat tua dengan desain antik dibuka dengan hati-hati. Ia menemukan sebuah handphone jadul dan sebuah memo yang bertuliskan


"berhenti mencari tau tentang saya Davin Mahendra, atau kamu akan mendapatkan akibatnya"


Fino mengecek handphone yang baru saja ia temukan. Tak ada apapun disana hanya sebuah handphone keluaran lama bahkan tanpa ada satupun nomor tersimpan.


Tak lama kemudian, handphone itu berdering. Fino menjawab panggilan tersebut.


"Halo"


"Rekam suara saya, dan kirimkan ke bos kamu"


Fino mengambil handphone miliknya dan membuka fitur record.


"Daviin Daviin, lu lagi ngapain sih. Apapun yang lu lakuin gue ngga akan berhenti ngejalanin rencana yang gue punya"


Mobil Jeep berwarna hitam menepi di sebuah rumah yang tidak lain adalah rumah milik Davin.


"Selamat Siang Pak"


"Iya Siang"


"Saya datang ke rumah kosong itu pak, disana saya menemukan handphone yang selama ini dilacak. Dan ada memo yang ditempel di handphone itu pak"


"Memo apa?"


"Ini memonya pak"


Davin membaca memo tersebut dan menyeringai. Fino kemudian memberikan rekaman suara untuk Davin yang tersimpan di handphone miliknya.


Davin mengepalkan tangan dan melemparkan kertas memo berwarna kuning tersebut.


"Tetap lakukan tugas seperti biasa, laporkan setiap kejadian. Dan yang terpenting, lebih perketat lagi memantau Kania. Jangan sampai terjadi apa-apa"


"Siap, Pak"


Matahari senja memasuki sebuah ruangan gelap melalui ventilasi, sementara itu seorang pria berdiri di depan jendela sembari melihat ke arah luar. Tidak ada apapun disana, Ia memang sedang tidak menatap apapun yang ada di depannya karena hanya raganya yang berada di tempat itu sementara fikiran dan jiwa nya berada di tempat lain dimana ia merasa hidup bahagia kala itu.