Marriage Contract

Marriage Contract
Kembali Ke Rumah



Kania memainkan ponsel selama 30 menit dalam aplikasi whatsapp. Membuka sebuah grup keluarga yang terdiri dari orangtua dan kedua adiknya yang masih berada di bangku sekolah menengah pertama. Ia memencet tombol power setiap layar handphone berubah menjadi gelap.


Kemudian melihat beberapa kali kontak orangtuanya dengan bergantian. Lama merenung dan berfikir, Kania memutuskan untuk berbicara langsung dengan orangtuanya. Ia mengirimkan pesan whatsapp kepada Davin meminta izin untuk mengunjungi rumah orangtuanya.


Kania berjalan menuju pantry yang tidak jauh dari kamarnya. Ia melihat Davin yang sedang berjalan menuju tangga, lalu memanggilnya.


"Mas Davin"


"Iyah"


"Aku mau bicara bentar boleh ngga"


"Iya ada apa?"


"Gini Mas, aku mau izin pulang ke rumah orangtua hari sabtu selesai kelas bahasa korea nanti"


"Iya boleh"


"Karena orangtua aku belum tahu tentang Mas Davin. Menurut aku baiknya Mas Davin ketemu orangtua aku dulu buat kenalan. Soalnya pasti Papah minta buat ketemu dulu, sebelum nanti minta izin untuk melangsungkan acara pertunangan"


"Oke, nanti saya bareng kamu kesana?"


"Jangan bareng Mas, biar aku ngomong dulu sendiri. Mas Davin dateng besoknya aja"


"Yaudah"


Setelah membeli beberapa bahan makanan untuk dibawa ke rumah orangtuanya, Kania melanjutkan perjalanan. Ia memikirkan pertanyaan apa saja yang mungkin ditanyakan, dan mempersiapkan jawaban agar terkesan meyakinkan. Terlebih kali ini yang dihadapi adalah orangtuanya sendiri. Yang kemungkinan besar mengetahui saat ia berbohong.


Kania mengetuk pintu dan memanggil Mamahnya. Seorang wanita membukaan pintu dan menyambutnya dengan hangat.


"Kaka, ko ngga bilang mau pulang?"


"Iya Mah. Mau ngasih kejutan aja" ucapnya sambil mencium tangan sopan.


"Udah makan?"


"Udah Mah. Ini tadi Kaka mampir ke supermarket"


"Repot-repot ih. Yaudah makasih"


"Kaka mau nginep Mah besok sore baru balik lagi"


"Ooh iyah, baru pulang kantor ini langsung pulang?"


"I-iya Mah"


"Itu si Papah ketemu temen kamu katanya di jalan. Terus dia cerita kamu kerja di Pasuruan. Ko ngga bilang Ka kerja jauh gitu?"


"Kaka udah bilang Mah sama Papah. Cuman ngga bilang kerja di daerah sana"


"Oh, si Papah agak marah itu katanya ngapain kerja jauh-jauh gitu terus kamu ngga bilang lagi. Tapi mamah bujukin lagi, akhirnya udah bisa nerima sekarang"


"Mamah bujukinnya apa emang?"


"Mamah bilang aja Pah nyari kerjaan teh ngga gampang sekarang mungkin kalo ada yang deket juga si Kaka ambilnya yang deket. Gapapa jauh juga yang penting kita mah doain aja"


"Iya Mah, kaka aja nganggur dulu kan satu tahun sebelum dapet kerjaan yang sekarang"


"Iya makanya Kaka harus bersyukur udah dapet kerja, jangan lupa kerjanya yang rajin ka biar awet di tempat kerjanya"


"Iya Mah"


"Mamah ambilin minum dulu bentar"


"Nanti Kaka ambil sendiri aja mah"


"Gapapa atuh Kaka juga baru dateng pasti pegel, dari Pasuruan kan jauh sampe malem gini datengnya"


Kania merasa bersalah karena harus kembali berbohong, terlebih kepada orangtuanya.


"Ini Ka, mamah bikin martabak manis cobain deh enak"


Kania mengambil satu potong martabak manis dengan topping coklat kacang buatan mamahnya.


"Hmm, iya mah enak"


"Kamu belajar masak ka, nanti kalo mau nikah gimana. Masa suaminya mau dikasih makan mie sama telor mulu tiap hari. Kasian nanti lesu, pas ditanya sama temen-temennya. Ai kamu lesu banget kenapa? Terus dijawab iya nih tiap hari istri aku masakin mie sama telor ngga ada gizinya"


Kania tertawa mendengar ucapan mamahnya yang terkadang random dan ada-ada saja.


"Atuh nanti belajar mah, kalo udah nikah"


"Namanya belajar itu ya sebelum kejadian sayang, emang ada yang nunggu ujian mulai baru belajar"


"Iya nanti aku belajar"


"Kapan nantinya, dari dulu jawabannya selalu gitu"


"Nanti pas suami aku request makanan, aku telepon Mamah minta ajarin resepnya"


"Yah semoga suami kamu sabar ya"


"Aamiin. Papah pulang jam berapa Mah"


"Udah pulang tapi ke rumah temennya. Dari abis maghrib sih perginya"


"Deva sama Rania?"


"Deva ada kerja kelompok sama temennya, Rania lagi maen ke rumah Nanda itu anaknya Pak Danu"


"Udah malem gini belum pulang Mah, nanti Papah marah loh"


"Jam berapa emang ini? Iya juga ya udah jam 8 lewat bentar nih mamah telponin satu satu"


Kania hanya tertawa melihat mamahnya yang mulai panik karena kedua adiknya belum pulang ke rumah.


Beberapa menit kemudian Papah Kania datang dengan empat bungkus nasi goreng di tangannya.


"Papah"


"Eh ada si Kaka"


Kania tersenyum lalu mencium tangan Papahnya.


"Kapan nyampenya Ka"


"Jam setengah 8 Pah"


"Ooh, kebetulan nih Papah bawa nasi goreng. Mah ambillin piring yang lebar tolong"


"Iya Pah"


Mereka makan bersama dengan lahap dan sesekali melemparkan candaan. Suasana menjadi sangat hangat dan hati Kania tersentuh. Ia merindukan setiap moment yang dilalui bersama keluarganya. Keadaan yang sangat jauh berbeda dengan rumah yang ditinggalinya selama satu bulan setengah ke belakang ini.


Setelah makan, Kania dan Papahnya membicarakan tentang pekerjaan. Beberapa petuah tentang dunia pekerjaan diberikan kepada putri sulungnya itu. Lalu menanyakan tentang apa saja yang dikerjakan selama bekerja disana.


"Papah ketemu Jeny?"


"Iyah dia yang bilang kamu kerja di Pasuruan. Kenapa kamu ngga bilang kerja disana?"


"Kalo bilang di depan, emangnya Papah bakalan ngasih izin?"


"Ya siapa tau"


"Siapa tau ngga ngasih izin Pah?"


"Itu maksudnya. Soalnya jauh sayang"


"Jauh juga gapapa Pah. Kania udah gede loh, udah bisa tanggungjawab sama diri sendiri"


"Kamu ngga pernah gede di mata Papah sama Mamah Ka"


"Hhmm"


Kania cemberut karena merasa bosan tidak pernah terlihat dewasa dalam pandangan orangtuanya.


"Yaudah kamu tidur gih udah malem"


"Iya Pah"


Terik matahari masuk memalui sela sela ventilasi kamar. Kania masih enggan berpindah dari tempat tidur. Ia berfokus pada ponsel yang sedang digenggamnya, menunggu sebuah pesan masuk. Tanpa membuka aplikasi whatsapp dan memantaunya melalui notifikasi yang ada di atas layar ponsel.


Setelah lama menunggu, beberapa foto dikirim kepadanya. Kania tersenyum melihat foto-foto itu satu persatu kemudian tersipu malu.


Melihat suasana rumah terkesan aman, Kania memanggil Papah dan Mamahnya untuk membicarakan rencana pertunangan.


"Mah Pah, Kaka mau kenalin pacar kaka"


"Kamu punya pacar ka? Sejak kapan?" tanya mamah Kania


"Udah dari 5 bulan yang lalu"


"Ooh, kenal dimana?" tanya papah Kania


"Dari aplikasi dating"


"Udah ketemu langsung?" tanya papah Kania


"Udah dari 2 minggu abis chattingan langsung ketemu. Bulan depannya pacaran"


"Hati-hati loh ka kalo ketemu dari hp gitu" ucap Mamah Kania


"Ngga ko Mah, orangnya baik aku juga udah dikenalin ke orangtuanya"


"Coba papah mau liat fotonya"


Kania memperlihatkan beberapa foto yang dikirimkan Davin tadi pagi.


"Ini ka pacarnya?"


"Iyah"


"Beneran?"


"Bener Pah emang kenapa?"


"Beneran dia mau sama Kaka?" ucap papah Kania sembari tertawa


"Ih Papah mah"


"Serius ini Papah nanya"


"Ya iya mau, kalo ngga mah ngga akan pacaran sama Kaka"


"Keliatannya orang kaya ya ka?"


"Iya Pah"


"Hmm orangtuanya baik sama kamu?"


"Baik Pah, udah beberapa kali ketemu juga"


"Dia udah bilang mau serius?"


"Iya Pah, katanya punya rencana menikah waktu dekat ini"


"Sama Kaka?" ucap papah Kania dengan nada bercanda


"Iyalah Papah"