Marriage Contract

Marriage Contract
Episode Tujuh Puluh



Hanya ada Dira dan Lina yang ada di dalam kamar tempat Lina dirawat. Reynald dan Dika sengaja meninggalkan mereka berdua.


Betapa senangnya Keysha melihat sahabatnya kembali membuka matanya.


" Bodoh! Kau tidak tau kan seberapa khawatirnya aku?! Mengapa pikiranmu begitu dangkal hah?! " Maki Dira dengan air mata yang sudah tidak dapat dia bendung.


Lina tersenyum lemah dengan posisi yang masih berbaring. Wajahnya terlihat begitu pucat.


Lina menggenggam tangan Dira yang berada di tangannya " Maafkan, aku. "


" Aku hanya terlalu sedih dan ... Seperti yang kau lihat, mereka bahkan tidak menjengukku " Mereka yang dimaksud Lina adalah kedua orang tuannya.


Wajah yang selalu ceria seolah tidak pernah ada di wajahnya. Raut wajahnya hanya mengekspresikan rasa kecewa dan kepedihan.


" Sesedih apapun! Kamu tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi. Kamu harus ingat aku dan Dika selalu ada untuk mu! "


Lina menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman di bibirnya yang terlihat begitu pucat pasi.


" Apa orang tua Dika sudah menjenguk mu " Tanya Keysha yang mendapatkan anggukan kepala dari Lina.


" Tidak lama sebelum kalian datang, mereka pergi " Ibu dan ayah Dika menjenguk Lina sekaligus membawakan pakaian ganti dan makanan.


Tapi karena jadwal mereka yang sibuk. Jadi, mereka tidak bisa berada terlalu lama di rumah sakit meskipun mereka ingin. Setidaknya mereka lebih baik, daripada orang tuannya yang sama sekali tidak mengunjunginya.


Lina menguap mungkin karena efek obat yang diberikan dokter dia merasa mengantuk.


" Pulanglah sana, Key. aku merasa mengantuk mau tidur " Ucap Lina dengan suaranya yang terdengar lemah.


" Jahat! Padahal aku sampai menginap di hotel demi bisa sampai kesini dengan cepat, tapi kamu malah mengusirku, benar-benar jahat sekali! " Keysha menjadi cemberut karena Lina menyuruhnya pulang.


" Kamu juga perlu istirahat, aku tidak mau keponakan ku kenapa-napa " Sebenarnya Lina masih ingin berbicara banyak dengan Keysha. Karena itu bisa membuat rasa sedih dalam dirinya berkurang. Tapi Lina merasa kepalanya sangat pusing.


" Benar juga, kalau begitu aku pulang " Sebelum pamit Keysha memberikan begitu banyak peringatan pada Lina.


.


Keysha dan Reynald sudah sampai di apartemen. Saat ini mereka sedang menikmati waktu berdua di sofa dengan tv yang menyala.


Reynald menjadikan paha istrinya sebagai bantal. " Sayang, aku berencana membeli sebuah rumah "


Keysha menurunkan pandangannya " Rumah? Untuk apa?? " Selama ini Keysha merasa nyaman saja tinggal di apartemen.


" Untuk tempat tinggal kita yang baru, aku ingin kita memiliki sebuah rumah " Reynald juga ingin seperti keluarga lainnya.


" Apa kau tidak setuju? " Tanya Reynald.


" Mana mungkin aku tidak setuju?! " Keysha akan menerima apa saja yang akan suaminya lakukan asal itu demi kebaikan mereka. Reynald terlihat senang mendengarnya " Kalau begitu, kamu rumah yang seperti apa, sayang? "


Keysha tampak berpikir sebelumnya menjawabnya " Aku tidak mau rumah yang terlalu besar " Ucapnya.


" Terus apalagi? "


" Um ... Sisanya aku serahkan saja pada suamiku ini " Tangan Keysa mencubit hidung mancung Reynald.


" Sayang, apa yang kamu lakukan " Ucap Reynald pada Keysha yang masih mencubit hidungnya.


" Aku hanya gemas saja melihat mu ..., "


" Aku rindu usapan tanganmu " Reynald meletakkan tangan Keysha pada kepalanya.


Reynald selalu merasa mengantuk jika Keysha mengusap lembut surai nya. Rasanya begitu nyaman.