Marriage Contract

Marriage Contract
Perjodohan



Disebuah rumah mewah yang begitu megah, dengan taman luas nan indah, ruang tamu yang megah, namun begitu sepi penghuni, hanya ada para pelayan-pelayan yang hilir mudik. Sedang sang penghuni rumah sedang menikmati sarapan dimeja makan yang tak kalah mewah dengan ukiran-ukirannya sudah menunjukan selera yang tak biasa.


"Loy papah mau bicara" seorang pria paruh baya tengah berbicara dengan putra sulungnya sekaligus bakal penerus perusahaan DEVANO.


"Bicaralah" ucap anak sulungnya dengan begitu cuek.


"Eloy Devano, Gak boleh bicara ketus kayak gitu dengan papah kamu" Tegur wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik meski usianya sudah tidai muda lagi.


"Ya, Bicara papah Hendri Devano"


"Huft" Hendri mendesah melihat putranya begitu dingin terhadap siapapun "Loy kamu harus menikah dengan keluarga Wiratmaja, ini sudah jadi keputusan papah dan Deri Wiratmaja sebagai pemilik perusahaan Wiratmaja".


"Kenapa gak papah aja yang nikah, kan papah yang ambil keputusan".


"LOY" Ibunya mulai merasa geram dengan sikap anaknya.


"Ya mamah Laras Devano? Ada apa?"


"Kamu gak boleh kayak gini sama papah kamu".


"Berarti Papah juga gak boleh ambil keputusan tentang siapa wanita yang harus saya nikahi".


"Loy ini demi keberlangsungan perusahaan"


"Apa menurut Papah pernikahan itu tentang bisnis?"


"Ini semua demi kepentingan kamu, kamu harus mengerti".


"Kepentinganku apa kepentingan perusahaan?"


"Loy, kenapa kamu selalu membantah papah kamu, Indira Wiratmaja itu cantik, berkelas dan Elegan".


"Tapi saya belum ingin menikah".


"Tapi kamu harus nikah Loy, pliss demi mamah".


"Loy pikirin dulu" ia bergegas menyalami kedua orang tuanya dan segera bergegas kekantor.


Tak butuh waktu lama hanya sekitar 20 menit ia sudah sampai digedung yang menjulang tinggi, dan ia segera memarkirkan mobil sport putihnya.


Sesampainya ia diloby ia langsung disambut oleh sekertarisnya.


"Pagi Pak" Sapa sekertarisnya sambil menunduk lalu berjalan dibelakang atasannya yang hanya membalas sapaannya dengan anggukan.


Setelah sampai di sebuah ruangan yang begitu megah dengan dominasi warna Abu dan hitam, Setelah menyampaikan jadwal harian sang atasan ia segera pamit.


"Redi Gunawan" panggilan yang sedikit menakutkan bagi sang sekertaris.


"Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?".


Loy hanya diam dan tampak berpikir, dan sang sekertaris hanya diam menunggu sang atasan berbicara.


"Tidak jadi, pergilah keruanganmu".


Dan Loy mulai sibuk dengan berkas-berkasnya yang menumpuk di meja kerjanya. Baru ia hendak menyandarkan dirinya yang sedikit lelah dengan berkas-berkas di mejanya, namun handphonenya berdering,


"Ya Hallo ma, ada apa?"


......


"Apa?"


.....


"Ya aku kesana sekarang".


Loy langsung berlari, saat membuka pintu sekertarisnya langsung menghampiri karena melihat sang atasan yang lari tergesa-gesa membuat dia berspekulasi yang tidak-tidak.


"Pak ada apa? kenapa anda terlihat panik?"


"Redi kamu bereskan kerjaan hari ini, aku mau kerumah sakit, Papah masuk rumah sakit".


"Baik Pak, apa gak lebih baik saya antarkan Pak Loy dulu, Anda terlihat tegang takut anda tidak fokus menyetir"


"Tidak perlu" dan Loy langsung berlari tergesa-gesa.


Sesampainya di rumah sakit ia langsung menghampiri Mamanya yang tampak begitu panik didepan ruangan IGD,


"Mah apa yang terjadi?"


"Mama juga gak tau, tadi papa kamu tiba-tiba pingsan terus langsung dibawa kesini".


Loy hanya bisa memeluk Mamanya sambil menunggu dokter yang menangani papanya keluar.


"Keluarga Bapak Hendri" panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Loy dan Mamanya segera menghampiri "Gimana keadaan papa saya dok?" tanya Loy yang tampak begitu cemas.


"Bisa ikut keruangan saya?"


"Iya Dok"


Mereka bertiga bergegas mengikuti sang dokter menuju ruangannya.


"Begini Pak, Gula darah Pak Hendri cukup tinggi, ditambah dengan tensi darahnya yang naik, disarankan untuk menjaga emosinya agar tetap stabil.


"Sekarang keadaanya gimana dok?"


"Cukup stabil, tapi ya itu setelah ia sadar mohon untuk menjaga emosinya,.


"Baik dok".


Akhirnya Loy dan Mamanya yang hanya bisa diam keluar dari ruangan dokter untuk menemui papanya yang masih terbaring diranjang rumah sakit tersebut.