Marriage Contract

Marriage Contract
Tujuh Puluh Empat



Setelah makan malam bersama, Keysha langsung kembali ke kamar. Karena merasa perutnya kurang nyaman.


Reynald selalu berada di belakang Keysha. Jika, istrinya naik atau turun tangga.


Mereka berdua berada didalam kamar.


" Yang, kata dokter aku lahiran berapa lama lagi? " Tanya Keysha pada Reynald yang berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.


" Kalau hitung dari hari ini, harusnya seminggu lagi " Ucap Reynald.


Ternyata Keysha tidak salah ingat. Tapi hari ini, perutnya rasanya agak berbeda dari biasanya.


" Kenapa, Yang? " Tanya Reynald khawatir.


" Perutku rasanya agak beda " Ucap Keysha.


Reynald menutup pintu kamar yang terbuka. Padahal niatnya tadi ingin kembali turun kebawah menemui mertuanya untuk mengobrol.


" Kalau begitu istirahatlah " Reynald menemani Keysha di sampingnya sampai istrinya terlelap. Setelah itu, Baru Reynald juga mulai memejamkan matanya.


..


Keysha terbangun gara-gara perutnya terasa begitu sakit. Sudah berapa kali dia merubah posisi tidurnya, tapi rasa sakitnya malah terus terasa.


" Sayang! " Keysha membangunkan Reynald yang masih tidur begitu lelap di sampingnya tanpa baju, seperti biasanya.


" Rey!! " Keysha mencengkram lengan Reynald menahan sakit perutnya.


Akhirnya Reynald terbangun karena merasakan sakit di lengannya.


" Sayang?! "Reynald begitu kaget mendapati Keysha yang terlihat begitu pucat dengan wajah yang basah karen keringat.


" Perutku sakit banget kayaknya mau lahiran " Ucap Keysha sambil meringis.


Reynald begitu panik dan bingung harus melakukan apa. Soalnya, dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali tentang seorang yang akan melahirkan.


Rasa kantuk yang tadi masih ada, langsung hilang bergantikan dengan rasa panik dan khawatir.


Reynald berlari meninggalkan Keysha menuju kamar mertuanya.


Dor.dor. dor..


" Ma! Pa!! " Reynald menggedor pintu kamar mertuanya dengan begitu keras.


" Apa?! " Kaget desti yang melihat jam menunjukan jam tiga pagi.


" Kita bawa ke rumah sakit sekarang! " Desti buru-buru membangunkan suaminya. Sedangkan Reynald kembali ke kamar membawa Keysha dan menggendongnya ke mobil.


.


Mereka sudah sampai di rumah sakit. Keysha juga sudah dibawa ke ruang bersalin dengan ditemani Reynald.


" Rey. " Keysha terlihat begitu kesakitan. Tangannya memegang erat tangan Reynald yang berada disampingnya untuk menyalurkan rasa sakitnya.


" Apa yang kalian lakukan?! Kenapa hanya melihat saja?! " Reynald merasa dokter yang berada disitu tidak berguna, karena tidak melakukan apa-apa kepada istrinya yang terlihat begitu kesakitan.


" Kita masih harus menunggu, pak. Karena ini masih pembukaan keenam" Jelas dokter perempuan yang ada di situ.


" Akkhh! " Keysha menjerit saat merasakan kontraksi yang datang kembali dengan rasa yang lebih sakit.


Melihat istrinya yang seperti itu. Reynald menjadi kalang kabut. Dia tidak bisa membatu melakukan apapun di situ untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan istrinya.


Setelah menunggu, akhirnya sampai juga pada pembukaan sepuluh, yang artinya jalan lahir sudah lengkap dan berarti sang ibu siap mengenjan atau mendorong bayi keluar.


Keysha mengikuti instruksi dokter dengan begitu susah payah " Aaaa! " Jeritnya saat mulai mendorong bayi keluar.


Rasanya begitu menyakitkan dan sulit. Jika, terus begini Keysha tidak akan mampu bertahan sampai bayinya lahir.


Penglihatannya menjadi buram dan begitu ingin tertutup, tenaganya sudah begitu banyak terkuras.


" Sayang ... " Panggil Reynld saat melihat Keysha seperti akan hilang kesadaran.


Tangan Reynald tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Keysha. Dia terus memberikan semangat kepada istrinya yang masih berjuang melahirkan buah hati mereka.


" Sayang, jangan tidur. Kamu pasti bisa, demi bayi kita " Ucap Reynald dengan mata yang sudah basah.


Keysha masih bisa mendengar suara suaminya yang terdengar tidak jelas di telinganya. Dan dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya Keysha kembali mengenjan. " Aakh! "Erangnya.


Oekk.... Oekk... Oekk....


Akhirnya mereka bisa mendengar suara bayi yang ditunggu-tunggu. Napas Keysha naik turun tak beraturan, dengan wajah yang terlihat begitu lelah dan tak bertenaga. Keysha tersenyum kepada suaminya yang sedang menangis di sebelahnya dengan tangan yang terus menggenggam tangannya.


( mon maaf kalau adegan lahirannya kurang memuaskan, karena author kurang tau πŸ™πŸ˜…)