Marriage Contract

Marriage Contract
Berkunjung



Selesai makan, ia mengambil bingsu yang dimasukkannya ke dalam lemari pendingin. mencicipi nya sedikit dan memasukkan kembali ke dalam freezer.


Kania melanjutkan kelas ke dua yang harus diikutinya hari ini dengan baik. Kemudian pulang dan bersiap untuk pergi ke rumah Arhan. Ia mengkombinasikan beberapa pakaian dan akhirnya menemukan pakaian yang match. Sebuah baju berwarna biru muda dengan lengan yang bergelombang dipilih sebagai atasan dan cuffed pants berwarna putih diambil untuk dikenakannya.


Halaman demi halaman majalah tentang hairstyle dibuka, Kania memperhatikan detail setiap gaya rambut satu persatu. Lalu memperkirakan gaya rambut yang cocok dengannya, akhirnya ia memilih beach wave sebagai gaya rambutnya hari ini.


Setelah menata rambut, Kania menyemprotkan parfum di tubuhnya. Bi Ijah memberitahukan Davin sudah menunggu di ruang tamu. Ia berjalan menghampiri Davin.


Keduanya terlihat sedikit terkejut karena pakaian yang mereka kenakan seperti pakaian pasangan. Davin mengenakan jaket jeans berwarna putih dengan celana jeans berwarna biru muda. Pakaiannya merupakan kebalikan warna dari pakaian yang digunakan oleh Kania.


Davin berjalan lebih dulu, disusul dengan Kania yang berjalan tepat di belakangnya. Selama perjalanan mereka hanya mendengarkan siaran radio yang ada di dalam mobil.


"Tolong ambilin kue di kursi belakang"


"Iya Mas"


Mereka membunyikan bel dan menunggu pemilik rumah membuka pintu. Beberapa lama kemudian Arhan datang dari luar dan menghampiri mereka.


"Eh Vin"


"Wey darimana lu"


"Nih abis beli susu, udah lama nunggunya?"


"Belom sih"


"Yuk masuk" ucap Arhan lalu membuka pintu rumahnya


"Sayaaang ada tamu" ucap Arhan setengah berteriak


Selina keluar dari dalam kamarnya. Lalu menyapa Davin dan Kania.


"Kamu ngga denger suara bel?"


"Ngga aku abis mandi tadi"


"Ooh"


Mereka berbincang bersama di ruang tamu. Selina mengajak Kania untuk melihat Baby Cia yang sedang bermain bersama baby sitter. Kania dibuat jatuh hati oleh Baby Cia. Ia memiliki kulit putih dengan rambut hitamnya yang lebat. Kornea mata yang berwarna coklat muda dan tatapan yang berbinar. Ditambah dengan pipi chubby, membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


Selina menaruh Baby Cia di tengah lalu mengambil satu persatu bola warna warni di dalam keranjang. Ia mengambil satu persatu bola tersebut dan memegangnya di hadapan anaknya itu.


"What colour is this?" tanyanya seraya mengambil bola berwarna biru


"Blue"


"And" ucapnya lalu menyodorkan bola berwarna kuning


"Yellow"


"What is this?"


"Green"


"Wah pinter banget" puji Kania


Setelah menemani Baby Cia bermain, Selina mengajak Kania untuk melihat kantor dan studio di rumahnya. Sebuah ruangan bernuasa vintage dipilihnya sebagai tempat studio foto produk kosmetik maupun foto bersama model. Warna putih mendominasi di ruangan tersebut dengan tambahan beberapa warna yang tidak terlalu mencolok memberikan kesan elegan untuk ruangan itu.


Sementara ruangan kantor terdapat beberapa lemari tempat menaruh produk dan peralatan yang dibutuhkan untuk proses packing. Di sudut ruangan terdapat satu meja dengan beberapa kursi yang digunakan untuk meeting ataupun keperluan sejenisnya.


"Gimana menurut kamu ruangannya?"


"Rapih ka, setiap ruangan emang punya kesan masing-masing. barang yang ada juga cukup, jadi ngga sesek waktu diliatnya. Dan pengaturan posisinya udah pas menurut aku"


"Sebenernya mau dirombak lagi ruang kantornya, soalnya masih butuh space buat naro barang lagi jadi mejanya kemungkinan di pindah"


"Gitu juga bagus sih ka, jadi ruangan meeting itu misah sendiri"


"Iya yah bener juga"


"Golong gendong sebentar ya, aku mau ambilin makanannya. udah waktunya makan"


"Iya Ka, haai sini sama Tante"


Kania menggendong Baby Cia dan mengajaknya berjalan-jalan. Kemudian duduk di kursi yang ada di balkon. Ia melepaskan gelang krystal warna, dan memberikannya kepada Baby Cia untuk dijadikan mainan.


Lagu anak-anak diputarnya melalui kanal youtube. Baby Cia memainkan gelang dengan tangan kanan, dan memutar mutar jemari tangan kirinya mengikuti irama lagu. Kania tertawa bahagia melihat tingkah anak yang ada di hadapannya. Lalu ikut bernyanyi bersama lagu yang sedang diputar.


"Kania" panggil Selina


"Iya Ka disini" ucapnya sambil melambaikan tangan


"Anaknya lucu banget ka, aku dibikin ketawa dari tadi"


"Oh ya? aku cuma random nyari lagu anak-anak loh"


"Bisa pas gitu ya"


"Iya yah"


"Sini sayang ayo kita makan"


Baby Cia didudukkan di sebuah kursi, dan ditaruh sebuah piring dengan berbagai menu makanan dihadapannya. Ia makan dengan lahap, dan sesekali ingin menyuapi makanan ke Selina dan Kania.


"No, baby Cia yang makan. Mamah sama Tante udah kenyang"


Setelah makan selesai, Selina meminta baby sitter untuk memandikan Baby Cia. Kemudian ia berbincang dengan Kania tentang segala hal.


"Kata Arhan Davin ngga pernah loh pergi bareng cewe semenjak lulus kuliah, makanya dia agak kaget waktu liat kamu"


"Emang iya Ka?"


"Iyah, Arhan ada beberapa kali cerita tentang Davin sih karena mereka temenan udah lama banget. Jadi udah sampe mana hubungan kalian?"


"Kalo itu aku juga ngga tau ka, ya lagi dijalanin aja sih"


"Tapi udah dikenalin ke orangtuanya?"


"Udah Ka"


"Nah itu berarti udah serius"


"Aku belum yakin juga sih, soalnya kan banyak juga yang udah dikenalin sama orangtua tapi belum serius juga. Cuma sebatas dikenalin aja"


"Ya ada memang yang kaya gitu, tapi menurut aku Davin bukan orang yang sembarang ngajak oranglain buat ketemu orangtuanya kalo belum serius"


"Mungkin ya ka"


"Ko kamu ragu gitu"


"Bukan ragu sih, lebih tepatnya ngga mau terlalu berharap aja. Selama belum ada pertanda buat serius, aku ngga mau naruh harapan Ka"


"Kenapa nih, pernah dikecewain yah?"


Kania tertawa lalu berkata "Pernah kali yah dulu"


"Kaali?"


"Ya intinya aku mau percaya yang pasti pasti aja ka, ngga mau menerka-nerka"


"Okeey, eh kamu katanya belajar masak juga ya?"


"Ko kaka tau?"


"Arhan tuh minta Davin buat ke rumah dari hari sabtu, cuma katanya ngga bisa karena kamu ada kelas masak"


"Oh gitu, iya ka aku ikut kelas masak"


"Udah bisa masak apa aja?"


"Olahan pastry sama desert Ka"


"Apa aja tuh"


"1 bulan kemaren itu olahan pastry, dua minggu ini masuk ke menu desert"


"Spesialis dari satu negara atau campuran?"


"Campuran sih ka, menu dari berbagai negara gitu"


"Oh, boleh dong kapan-kapan masak bareng disini"


"Ka Selin sibuk kali"


"Ngga, aku kan diatur waktunya kapan boleh ngerjain bisnis atau ngga. Jadi jam operasional kerja aku dari jam 9 pagi sampe jam 4 sore aja, selebihnya free. Kalo aku ngga nurut, Arhan bakalan ngelarang aku buat bisnis lagi"


"Supaya waktunya seimbang ya Ka"


"Iya, kadang kan kita suka lupa waktu kalo udah fokus sama sesuatu"


"Bener"


"Yu ke ruang tamu lagi"


"Iyah"