
Loy menghempaskan dirinya di kursi kerjanya, ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Apa segitu rendahnya dirimu hingga harus menjual tubuh?" Batin Loy.
Dan seketika ia menerawang kejadian dulu, hari dimana ia bahagia karena ia lulus dengan nilai terbaik disekolahnya dan sedih karena ia tiba tiba diputusin kekasihnya.
Flash back on
"Nay gimana kamu lulus gak?" tanya Loy remaja kala itu dengan mata berbinar binar.
"Aku lulus Loy, kamu pasti luluskan?" tanya Anaya dengan memaksakan senyumnya.
"Ia aku lulus nilai terbaik"
"Selamat ya".
"Makasih Nay".
"Loy bisa kita ngobrol berdua".
"Iya bisa, kita makan di kafe depan sekolah ya, aku udah janji kan bakal traktir kamu makan hari ini" Ucap Loy dengan penuh semangat.
"Iya".
#####
Setelah makanan pesanan mereka datang, mereka berdua mulai makan dengan diam.
Namun Loy merasa tidak nyaman melihat Anaya yang dia kenal periang mendadak jadi pendiam.
"Kamu tadi mau ngomong apa Nay?
"Kita habisin dulu ya makannya".
Dan Loy hanya bisa pasrah dan mengangguk. Dan Loy dengan tak sabar segera menghabiskan makanannya.
"Udah selesai, kamu mau ngomong apa Nay?" tanya Loy dengan tidak sabar.
Anaya yang memang tidak berselera makan akhirnya meletakkan sendoknya.
"Apa Nay aku gak denger?" Loy yang sebenarnya sudah mendengar namun ia belum yakin dengan pendengarannya mencoba bertanya kembali.
"Aku Mau kita PUTUS" Ucap Anaya yang kini dengan suara sedikit lantang dengan menekankan kata putus.
"Kenapa Nay? hubungan kita selama ini baik baik saja, aku bahkan menolak kuliah di London agar bisa sama sama kamu terus" Ucap Loy dengan menggebu gebu.
Anaya hanya diam mencoba menahan air matanya yang sudah menganak dipelupuk matanya.
"Kenapa Nay? Jawab!! Apa aku bikin salah sama kamu? Kalo emang aku punya salah aku minta maaf, dan beri aku kesempatan buat perbaikin".
Anaya hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa?"
"Aku" Anaya berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bicara "Aku mencintai orang lain Loy".
"HEH, jangan ngarang kamu Nay, selama ini aku liat sorot mata kamu ke aku itu penuh cinta, kamu itu gak bisa bohongin aku".
"Tapi memang itu kenyataannya Loy".
"Liat mata aku Nay, Bilang kalau kamu gak cinta aku".
Anaya semakin dilema dengan semua itu, Namun ia berusaha sekuat tenaganya untuk menatap mata Loy, saat mata mereka bertemu Anaya langsung berucap "Aku gak cinta kamu Loy, aku mencintai orang lain, dan kamu gak perlu tau".
"Tega kamu Nay, Aku selama ini kasih hatiku semua ke kamu, tapi kamu" Loy bergegas menuju meja kasir dan membayar makanannya, tanpa menoleh lagi kearah Anaya ia langsung meninggalkan Anaya.
Anaya hanya menatap punggung lebar Loy yang semakin menjauh dari pandangannya. Punggung lebar yang selalu menjadi tempat bersandarnya selama ini kini telah pergi.
Setelah punggung Loy benar benar hilang dari pandangannya, Air matanya mulai mengalir melewati pipi mulusnya yang kini telah basah.
"Maafin aku Loy, ini demi kebaikan kamu" Anaya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis sedih, ia telah menyakiti Loy, jika suatu saat nanti ia bertemu kembali dengan Loy, ia mungkin harus menerima bahwa Loy mungkin akan membencinya.
Flash back off