Marriage Contract

Marriage Contract
Acara Pertunangan



Davin dan Kania berangkat lebih dulu ke Sheraton Hotel dengan menggunakan mobil. Berbagai barang yang dipersiapkan untuk Kania sudah ditaruh di kamar hotel yang sudah include dari paket acara yang dipesan. Mereka menghampiri bagian resepsionis dan mendapatkan kunci kamar.


Setengah jam kemudian, 2 orang therapist datang dan memberikan layanan spa kepada mereka di tempat terpisah. Kania dan Davin menikmati setiap pijatan dan aroma relaksasi yang diberikan. Kini keduanya terlihat lebih segar dibanding sebelumnya.


Tak lama kemudian Nail Technician datang dan melakukan pekerjaannya. Kania memilih nail art berwarna kombinasi antara abu-abu dan putih dihiasi dengan manik berwarna putih.


Suara bel berbunyi, Davin berdiri dan menghampiri pintu kamar hotel. Tiga orang Make Up Artist tersenyum kepada Davin dan mengenalkan diri mereka. Davin mempersilahkan masuk ke dalam.


Kania menyapa mereka dan mempersilahkan duduk terlebih dahulu karena kuku tangannya belum selesai dihias. Sepuluh menit kemudian, MUA mulai memoles wajah Kania. Kania diberikan posisi nyaman di atas kasur dengan mata tertutup.


"Mis ini kakinya mau pake nail art juga atau ngga?"


"Boleh, tapi yang simple aja ya takut waktunya ngga cukup"


"Baik"


Davin kembali membukakan pintu untuk tamu yang datang. Kedua orangtua Kania datang beserta kedua adiknya. Ia tersenyum dan mencium tangan kedua orangtua Kania.


"Masuk Mah Pah" ucap Davin


Papah Kania tersenyum dan menepuk pundak Davin.


"Ka, Mamah udah dateng Ka" ucap Mamah Kania.


Hening tidak ada jawaban apapun dari putrinya. Mamah Kania menepuk lengan Kania dengan keras. Kania membuka matanya dengan tatapan terkejut.


"Mamah"


"Iyah, merem merem tidur kamu mah"


"Enak mah kaka jadi tuan putri dulu ya" ucap Kania diiringi tawa kecilnya


Proses make up sudah selesai, Kania bersiap memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian. Sebuah gaun berwarna abu-abu muda dengan bahan brukat menghiasi tubuh proporsional Kania.


"Mas Davin dimana Mah?"


"Lagi ngobrol sama Papah di sofa"


Kania menghampiri Davin karena kini gilirannya untuk memoles wajah. Para MakeUp Artist mulai melakukan pekerjaannya. Kania dan Mamahnya mengobrol di meja rias kamar.


"Keluarga kita dateng jam berapa?"


"Setengah tujuh perkiraan sampe sini. Tadi masih ngabarin lagi di jalan"


"Oh bentar lagi ya. Banyak mah yang dateng?"


"Banyak dong. Ada 6 mobil penuh"


"Dikit itumah Mah. Banyak itu sampe 100 orang"


"Keramean Ka, kalo dijumlah sodara yang jauh sama tetangga ada 100"


"Oh gitu"


Seseorang datang dan tersenyum ke arah mereka. Kania mencium tangan dan tersenyum kepadanya.


"Ini Mamah Mas Davin Mah"


"Ooh baru ini ketemu ya, maaf ya Kania banyak ngerepotin Bu"


"Ngga ko, Kania baik ceria lagi"


Mamah Kania tertawa.


Kania mengambilkan baju stelan berwarna abu-abu yang ditaruhnya di dalam lemari. Davin masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Ia tersenyum karena mendengar Davin memanggil dirinya dengan sebutan "aku".


Kedua ibu mengobrol bersama di ruang tamu bergabung dengan para suami yang tengah asyik dengan berbagai pembahasan yang ada.


Setelah berganti pakaian, Kania dan Davin menghampiri kedua orangtua mereka untuk mengobrol bersama di ruang tamu.


"Wiih udah rapih nih berdua, cocok banget Davin pake setelan jadi kesannya gagah ya" ucap Papah Kania sambil melirik Ayah Davin


"Kania juga cocok pake baju itu. Aura cantiknya makin keluar"


"Anak saya itu cantik ya" ucap Papah Kania disambut dengan tawa yang ada di ruangan itu.


"Acaranya nanti sampe jam sembilan rencananya, tapi kalo mau sampe jam 10 boleh saya masih kuat" ucap Ayah Davin disertai dengan tawa


"Boleh nanti abis acara inti ada perkenalan antar keuarga biar saling kenal. Kalo udah kenal kan enak mau ngadain acara nikahan kapan aja siap" ucap Papah Kania


"Ya bener. Saya setuju, jangan lama-lama lah Vin. Kalo kata orang dulu pamali udah tunangan tapi jarak ke pernikahannya jauh. Udah siap kan vin?"


"Siap pah"


"Anak saya tuh" ucap Ayah Davin disertai tawa


"Abis acara langsung pulang kan semuanya, jangan mampir ke kamar ini lagi Vin waduh bahaya" ucap Papah Kania


"Pak Darwin bisa aja. Tapi menurut saya mereka memang cocok pak. Davin kan emang punya jiwa pemimpin banget sementara Kania penurut. Dari segi keseharian juga Davin ini agak susah memperlihatkan ekspresinya, ya begini aja lempeng. Sementara Kania saya perhatiin ekspresif banget, saya jadi seneng liatnya. Saling melengkapi" ucap Ayah Davin


"Iya betul, anak saya ini memang ekspresif tapi kadang berlebihan juga. Sangat mudah terharu. Saya lagi ngobrol berdua, menurut saya itu obrolan biasa gimana si pak obrolan antara kita sama anak. Eh pas ditengok udah berlinang air matanya"


"Iih papah"


"Lembut berarti hatinya pak"


"Nah itu, pelan-pelan ya Vin kalo ngomong sama Kania"


"Siap Pah"


"Waktu Kania minta izin tunangan jujur saya ngga percaya. Nih anak ngga pernah ngomong tentang pacar tiba-tiba bilang pengen tunangan. Tapi setelah ketemu Davin dan ngobrol saya jadi faham. Karena Davin punya sifat yang sangat dewasa, jadi saya lebih tenang. Saya yakin Davin bisa menjaga dan mereka bisa saling belajar supaya jauh lebih baik di masa depan"


Davin tersenyum ke arah Papah Kania


"Udah mau jam tujuh, kita harus ke tempat acara" ucap Ayah Davin


"Mari Pak"


Para orangtua menuju Grand Ballroom untuk menyambut anggota keluarga yang datang. Davin meminta kepada petugas yang bertugas menangani acaranya untuk membawa barang-barang yang ada di kamar untuk diletakkan di meja panjang yang tersedia di Grand Ballroom.


Setelah anggota keluarga berkumpul, Kania dan Davin memasuki ruangan Grand Ballroom. Semua mata tertuju kepada mereka, keduanya tersenyum hangat kepada semua yang hadir. Davin duduk diantara keluarganya begitupun Kania.


Acara dimulai, MC membacakan susunan acara. Semua yang hadir mendengarkan dengan seksama. Sambutan disampaikan oleh Ayah Davin dan Papah Kania selaku yang memiliki hajat. Beranjak ke acara inti yaitu Davin yang menyatakan keseriusannya kepada Kania di depan seluruh keluarga.


Kania menerima lamaran Davin dengan tersenyum. Aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Orangtua mereka maju ke bagian depan dan mendampingi keduanya bertukar cincin. Setelahnya, mereka melakukan sesi foto bersama secara bergantian. Dilanjutkan dengan acara hiburan sekaligus menikmati hidangan yang disiapkan oleh pihak Hotel.


Dengan pertemuan yang singkat masing-masing keluarga sudah saling dekat satu sama lain. Berbeda dengan Kania yang mulai melayangkan beberapa pertanyaan kepada dirinya sendiri. Diantara pertanyaannya adalah


"Apa yang aku lakukan benar?"


"Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan?"


"Sampai sejauh mana kamu akan membohongi banyak orang Kania?"


Namun diantara kegundahan hatinya, ia tetap membuat suasana menjadi menyenangkan dan berbincang dengan keluarga Davin. Begitupun dengan Davin yang terlihat tengah mengobrol dengan salah seorang paman Kania. Ia membuang jauh segala kegundahan hatinya dan menikmati setiap momen yang terjadi saat ini atau yang akan terjadi di masa yang mendatang.