
Samar-samar Kania mendengar namanya disebut, ia membuka matanya perlahan. Kemudian berjalan menghampiri Davin yang terletak agak jauh dari tempat ia tertidur.
Kania terkejut melihat keadaan Davin, tubuhnya menggigil hebat. Ia menyentuh dahi, dan memperkirakan suhu tubuh Davin sudah mencapai lebih dari 38 derajat celcius.
"Di-iingin" ucap Davin dengan suara bergetar
Kania mengambil kompres air hangat dan meletakkan handuk kecil di atas dahi Davin. Badannya masih menggigil, Kania semakin bingung tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia meminumkan teh manis hangat, namun hanya sedikit yang diminum.
Teringat akan suatu yang pernah dibaca tentang keadaan menggigil, bahwa berpelukan bisa membuat orang yang sedang menggigil menjadi lebih baik. Kania menghampiri Davin dan memeluk tubuhnya dalam keadaan sedikit gemetar.
"Mas Davin jangan kaya gini, aku bingung" ucap Kania disertai air mata yang keluar dari pelupuk matanya
Ini adalah kali pertama baginya berada di posisi yang membuatnya bingung dan takut. Ia memikirkan bagaimana jika akan terjadi hal yang tidak mengenakkan karena kebodohannya tidak mengetahui hal yang mendasar seperti saat ini.
Setelah menunggu beberapa waktu, tubuh Davin tidak lagi gemetar. Kania lebih tenang saat ini, disisi lain ia sangat ketakutan namun disisi lain ia kesal karena Davin yang tidak mau pergi ke rumah sakit atau melakukan pengobatan.
Tanpa disadari, Kania tertidur di ranjang yang sama dengan Davin untuk yang kedua kalinya. Kali ini salahkan kebiasaan Kania yang sangat mudah tertidur.
Suara nada dering menggema di kamar, Kania mencari keberadaan ponselnya. Nama teman kelasnya menghiasi layar ponsel.
"Halo iya Ki"
"Lu ngga masuk tumben. Baru bangun yah?"
"Hah? Masuk"
"Masuk kemana?"
"Iya gue masuk bentar gue siap-siap dulu"
"Apasih Kaniaa, lu sadar dulu deh. Terus liat jam, inituh udah jam 10 bentar lagi kelas selesai lu mau masuk kemana?" Ucap Oki setengah tertawa
"Jam 10? Oh iya yah. Kepala gue pusing kayanya flu deh"
"Ooh lagi saakit. Gws ya"
"Iya makasih Ki, yaudah yah"
"Oke"
Sambungan telepon terputus. Kania merasakan pusing di kepalanya, tetapi ia harus ke dapur untuk mengambil sarapan untuk mereka berdua. Setelah mencuci muka dan gosok gigi, Kania berjalan ke dapur mencari keberadaan Bi Ijah.
Dalam setengah perjalanannya, Kania dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita yang tengah duduk di pantry dan terdengar sedang melakukan pembicaraan dengan Bi Ijah. Wanita itu tidak lain adalah Mamah Davin.
Kania segera bersembunyi di belakang gorden besar yang ada di dekat area pantry. Sesekali mengintip untuk memastikan keadaan. Ia ingin kembali ke kamar, namun takut terlihat dan keadaan akan menjadi runyam.
Bi Ijah berjalan ke arah Kania untuk mengambil sesuatu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Kania membuka sedikit gorden dan memanggil Bi Ijah.
"Bi Ijaah" panggil Kania
Bi Ijah kaget lalu berbisik "Non ngapain disitu?"
"Bi tolong ambilin handphone mas Davin di kantor takut mamah nelfon"
"Iya Non bibi ambilin"
Setelah menunggu beberapa saat, Bi Ijah kembali dan menyerahkan handphone milik Davin.
"Bi, saya mau ke kamar. Bibi alihin perhatian Mamah yah"
"Siap Non"
Bi Ijah menawarkan Mamah Davin untuk menunggu di ruang keluarga dan menonton siaran televisi. Dengan mengendap-endap Kania memasuki kamarnya dan mengunci pintu kamar.
"Mas Davin ada Mamah" ucap Kania
"Dimana?"
"Di depan"
"Oh"
Kania terheran melihat Davin yang merespon tanpa ekspresi apapun. Ponsel Kania berdering, Ia langsung menjawab panggilan tersebut dan membuka pengaturan untuk mengganti mode dering ke mode getar.
"Halo, sayang"
"Kamu lagi sama Davin ngga?"
"Ngga mah"
"Oh, nanti kalo Davin hubungin nomor kamu bilangin Mamah nyariin ya. Mamah ada di rumah nungguin"
"Iya mah. Aku kirim pesan juga belum dibales mah"
"Kemana yah, last seen di whatsapp nya juga hari sabtu. Apa dari kemaren ngga aktif?"
"Kurang tau ya mah, soalnya kemaren aku ngga hubungin mas Davin sih"
"Gitu ya, yaudah jangan lupa pesen Mamah yah. Ada hal penting soalnya"
"Iya siap Mah"
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Kania sudah merasakan lapar yang tak tertahankan. Karena tidak ada apapun di dalam kamarnya, Ia memilih untuk tidur di tengah pusing dan sakit tenggorokan yang dirasakan.
Sementara itu Davin masih tertidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia benar-benar memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Tak dilewatkannya sedikitpun untuk hal yang tidak bermanfaat.
Saat hendak terlelap, handle pintu kamarnya bergerak ke atas dan ke bawah. Terdengar suara mamah Davin yang menanyakan tentang kunci ruangan tersebut.
"Kuncinya dipegang Tuan Nyonya" ucap Bi Ijah
Syukurlah Kania tidak membuka pintu itu sejak pagi tadi. Ia tertidur dengan memegangi perutnya menahan lapar. Dan berharap semoga ketika bangun nanti, mamah Davin sudah kembali ke rumahnya.
Kania terbangun dan melihat ke arah jam dinding di kamarnya.
"Jam setengah 5" ucapnya
Setelah mandi, ia memainkan handphone miliknya. Tak ada sesuatu yang penting. Kania memiliki ide untuk memesan makanan online. Meskipun tahu Davin akan melarangnya, namun tetap ada kemungkinan diizinkan karena keadaan yang mendesak
"Mas Davin" panggil Kania
"Iyah" jawabnya
"Pesen makanan boleh ngga mas? aku laper banget. Mas Davin juga kan belum makan dari pagi"
"Emang Mamah belum pulang?"
"Belum Mas, tadi aku udah nanya Bi Ijah"
"Iya boleh, tapi ini karena mendesak ya"
"Oke. Mas Davin mau apa?" ucap Kania sumringah
"Samain aja"
"Okeee. Aku pesenin paket lengkap ya"
Setelah menunggu kurang lebih satu jam, paket makanan sudah sampai di depan gerbang. Kania menghubungi satpam dan memintanya untuk membawakan makanan tepat di pintu balkon kamar.
Mereka menikmati makanan yang dipesan, Kania sesekali menyuapi Davin yang seperti tidak berselera makan. Sangat berbanding terbalik dengannya yang selalu memiliki selera makan dalam segala kondisi.
Kania sangat senang karena bisa menikmati makanan kesukaannya setelah sekian lama tidak lagi mengkonsumsinya. Setelah makan selesai mereka menonton series yang ada di netflix yang menceritakan tentang serangan zombie di sebuah kota.
Keduanya terlihat fokus dan menikmati alur cerita yang disuguhkan. Kania berniat mengisi ulang daya handphonenya dan baru teringat handphone Davin yang telah selesai diisi ulang.
"Mas ini hp nya"' ucap Kania
Davin menatap heran ke arah Kania
"Ini ada hp saya?"
"Ya emang ada. Tadi pagi aku minta tolong Bi Ijah buat ambilin hp"
"Kenapa ngga bilang dari siang Kaniaa. Kan saya bisa langsung telepon Mamah, biar cepet pulang ke rumah"
"Iya juga yah" ucap Kania, Davin menggelengkan kepalanya
Setelah handphone menyala, Davin segera menelepon Mamahnya dan mengabari akan pulang besok pagi. Tak butuh waktu lama, sebuah mobil terparkir di depan rumah dan Mamah Davin masuk ke dalam mobil itu.
Kania bertanya kepada diri sendiri, mengapa hal itu tidak terfikirkan olehnya. Davin beranjak dari kasur dan kembali ke kamarnya. Kania menyenderkan tubuhnya di headboard dan melanjutkan film yang ditontonnya sejak tadi.