Magic

Magic
Perayaan



Setelah acara sederhana yang penuh haru itu selesai. Usha pun langsung mengadakan acara penobatan secara resmi. Arsenio bukannya diliputi rasa senang karena dia sudah menjadi Usha yang baru dia malah memikirkan paket-paketnya yang belum terpacking.


“Kamu kenapa Nio?” tanya Aruna yang bisa membaca raut wajah suaminya. Saat ini mereka sedang berada di kamar yang telah didesain khusus untuk mereka.


“Bagaimana dengan nasib pelanggan parfum kita? Paket itu harusnya kita kirim hari ini” jawab Arsenio mengeluarkan isi kepalanya.


“Benar juga ya? Bagaimana kalau mereka menuntut? Mereka kan sudah membayar” ucap Aruna yang kini juga memikirkan tentang usaha mereka.


Davina yang tanpa sengaja menguping di luar kamar tidak bisa menahan tawanya.


“Mereka itu memang pasangan bodoh” ucap Davina tertawa.


“Padahal mereka bisa memerintahkan salah satu staff Usha untuk menghandle itu” ucap Davina pula.


Tanpa meminta ijin pada Arsenio, Davina langsung memerintahkan dua orang staff untuk membereskan kiriman paket.


“Data barang yang akan dikirim ada di buku yang berwarna kuning ya” jelas Davina yang memang pernah membantu pekerjaan kakaknya.


“Bereskan… mereka memang tidak suka merepotkan orang. Kan susah jadinya” dumel Davina pelan.


Davina kemudian mengetuk pintu kamar Arsenio.


“Tunggu sebentar” sahut Aruna dari dalam.


Caklek.


Pintu pun dibuka dari dalam.


“Davina?” ucap Aruna tersenyum.


“Boleh aku masuk?” tanya Davina.


“Ayo masuk” ucap Aruna sambil membukakan pintu dengan lebar.


“Kita berhias dulu ya, dua jam lagi kan pesta penyambutannya” ucap Davina yang memang sudah menenteng perlengkapan make up nya.


“Tapi tubuhku sudah gendut, apa tidak sebaiknya aku tinggal di kamar saja” ucap Aruna yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya.


“Tenang saja, aku sudah pilihkan pakaian yang sangat cocok untuk ibu hamil” ucap Davina penuh percaya diri. Dia yang memang sudah berpengalaman dalam rias-merias sangat yakin kalau Aruna akan tetap cantik.


Arsenio yang baru saja keluar dari kamar mandi mengernyitkan kening melihat adik kembarnya ada disana.


“Aku akan mendandani kakak ipar agar cantik saat pesta nanti malam” ucap Davina yang seolah paham arti tatapan Arsenio.


“Oh iya, itu baju untukmu” ucap Davina sambil menunjuk jas yang sudah dia sediakan.


“Terima kasih” sahut Arsenio datar.


Arsenio kemudian mendekati istrinya yang saat ini sedang duduk di depan meja rias.


“Aku akan meminta salah satu pengawal untuk mempersiapkan pesanan kita dulu ya” ucap Arsenio sambil mencuri kecup di pipi istrinya.


“Dasar lambat” umpatnya dalam hati.


Setelah Arsenio keluar, Davina mulai memainkan perannya. Dalam sekejap saja dia sudah merubah Aruna menjadi begitu cantik. Dress yang dia kenakan pun sangat terlihat cocok di tubuhnya.


“Duduk dulu ya, Aku akan poles sedikit lagi” titah Davina. Dia akan menambahkan sedikit highliter pada wajah Aruna agar lebih berkilau.


Saat itu juga Arsenio masuk ke kamar dengan menggerutu. Ternyata diam-diam Davina sudah mengirim orang untuk mengirim barang. Padahal ada catatan khusus yang harus ditambahkan dan mereka menjadi dua kali kerja karena Davina tidak memberi tahu Arsenio terlebih dulu.


“Davina…” teriak Arsenio cukup keras.


Tapi ketika melihat istrinya yang begitu cantik dia langsung membeku di tempatnya.


Arsenio bahkan tidak bisa berkedip karena  Aruna memang berkali lipat lebih cantik dari biasanya.



"Apa tidak ada baju yang lebih tertutup?" tanya Arsenio yang tidak rela kalau istri cantiknya ini di perhatikan pria-pria lain yang juga hadir di pesta nanti malam.


Seketika saja Davina tertawa keras.


"Tuan Nio, jangan terlalu berlebihan seperti itu. Ini tinggal dinaikkan saja." ucap Davina sambil menarik lengan dress Aruna yang berbentuk sabrina.


"Gampang kan?" ucap Davina kemudian.


Arsenio terpana sejenak dia hendak mencium istrinya tapi Davina melarangnya.


"Nanti dulu, nanti riasannya rusak. Daripada kamu merusak riasan istrimu lebih baik kamu pakai ini" ucap Davina sambil menyerahkan pakaian yang harus Arsenio kenakan.


Arsenio menurut dan segera mengganti pakaiannya di kamar mandi.



Tak berapa lama Arsenio keluar dengan pakaian serba hitamnya. Kini giliran Aruna yang tercengang melihat penampilan suaminya.


Senyum Arsenio langsung terbit ketika melihat istrinya begitu terpesona.


Dia mendekati Aruna dan mencium puncak kepala istrinya. Dia tidak mau dimarahi Davina bila berbuat lebih dan merusak riasan Aruna.


Saat telah selesai bersiap, mereka berdua berjalan menuju Aula. Disana sudah ada banyak undangan yang datang menghadiri pesta pelantikan yang baru sekaligus pesta penyambutan putra-putri usha yang selama ini di tutupi dari publik. Pesta ini juga menjadi ajang perkenalan Ushi yang baru yang tidak lain adalah Aruna.


Pesta yang berlangsung sangat meriah itu berjalan begitu lancar dan penuh keceriaan. Selama acara, Aruna selalu berada disebelah Arsenio. Arsenio tidak ingin istrinya jauh-jauh darinya. Selain karena Aruna sedang hamil dia juga masih cemburu bila tiba-tiba Ardiaz mendekat. Padahal sudah jelas-jelas saat acara, Davina dan Ardiaz selalu bersama.



Memang dasarnya saja Arsenio pencemburu. Tapi mungkin selain cemburu, Arsenio juga masih belum rela, adik satu-satunya kini sudah memiliki pasangan sendiri.


Bersambung...