
“Kamu tidak bekerja?” tanya Aruna pada Arsenio karena matahari sudah naik tapi Arsenio masih betah dirumah. Aruna sendiri baru mulai bekerja besok.
Arsenio melirik sekilas pada Aruna kemudian kembali memainkan wizz miliknya.
“Tidak” jawab Arsenio singkat.
“Ishh menyebalkan sekali” gerutu Aruna dalam hati tentu saja. Malas meladeni Arsenio, Aruna pun memilih bersih-bersih kamar. Ternyata rumah sebesar ini tidak memiliki asisten rumah tangga.
“Jadi bagaimana caranya dia membersihkan rumah? Apa mencari orang panggilan?” tanya Aruna pada dirinya sendiri. Aruna memulai pekerjaannya dengan membersihkan dapur. Dapur Arsenio yang sangat besar itu Aruna bersihkan hingga kinclong. Peluh sudah bercucuran di dahinya. Dapur Arsenio lebih besar dari rumahnya di desa dulu.
Arsenio yang melihat tubuh kurus itu membersihkan dapurnya hingga bercucuran keringat hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Aruna, aku punya asisten rumah tangga yang akan membersihkan rumah. Kamu tidak perlu membersihkannya. Yang kamu perlu lakukan adalah melayani ku saja” bisik Arsenio pada terlinga Aruna. Seketika bulu kuduk Aruna merinding mendengarnya.
Dan semakin merinding saat Arsenio mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi untuk mandi bersama.
…
Aruna dan Arsenio duduk di balkon dengan pikiran masing-masing. Aruna yang kelelahan sehabis bersih-bersih dan juga include melayani suami di kamar mandi, sedangkan Arsenio entah memikirkan apa.
Wizz milik Arsenio berbunyi. Panggilan dari Davina. Arsenio langsung saja mengangkatnya.
Mereka berdua terlibat obrolan entah apa, karena Aruna hanya mendengar jawaban Arsenio. Intinya Davina meminta Arsenio kesana sekarang juga. Dan ternyata Arsenio dengan mudah mengiyakannya. Aruna jadi sadar bagaimana posisinya saat ini. Dia hanya istri simpanan saja.
“Aku pergi sebentar ya” kata Arsenio berpamitan pada Aruna. Dia pun meninggalkan jejak di kening Aruna sebelum keluar dari kamarnya.
“Ya Tuhan… Siapa aku sebenarnya? Kenapa aku harus dihadapkan dengan hal seperti ini” batin Aruna sendu.
“Kenapa aku jadi kesal? Aku kan sudah tau kalau mereka memiliki hubungan? Dan akulah orang ketiganya. Kenapa aku kesal?” kata Aruna pula.
“Aku sendiri tidak tau apa yang aku rasakan. Entah apa namanya. Kesal, kecewa atau cemburu?”.
Aruna tersenyum muak.
“Apa hak ku untuk cemburu? Dia tidak melaporkan ku pada Usha saja harusnya aku sudah bersyukur”.
Aruna menghela nafas berat.
Aruna mengangkat kakinya di kursi dan menelungkupkan wajahnya disana. Dalam hitungan detik saja pundaknya sudah naik turun, pertanda dia sudah menangis tersedu-sedu.
“Kenapa kamu menangis bodoh?” Aruna memarahi dirinya sendiri.
“Apa seperti ini namanya menjadi istri simpanan?” tanya Aruna dalam tangisnya.
Hingga malam tiba, Arsenio belum juga pulang. Untuk menghubungi pun rasanya Aruna sangat takut. Dia takut Arsenio marah padanya. Aruna pun memutuskan untuk tidur lebih dahulu. Selama membaringkan tubuhnya Aruna kembali menangis hingga air matanya mengering.
Aruna membuka wizz nya karena dia tidak bisa tidur juga. Yang pertama dia lihat adalah kiriman foto dari Davina yang memperlihatkan kalau dia sedang sakit dan Arsenio yang membantu mengompres keningnya. Di foto kedua terlihat Davina sedang menyuapkan kue pada Arsenio. Entah apa maksud Davina mengirimkan foto itu padanya. Aruna sangat kesal tapi dia tidak bisa marah. Yang bisa dia lakukan hanya menangis saja.
"Aku hanya istri simpanan" batin Aruna sambil memperhatikan kembali foto yang Davina kirim.
Bersambung...