Magic

Magic
Ushi



"Lain kali tolong lihat tempat jika ingin berbicara, akan ada yang salah paham bila kalian berdua saja. Apalagi status Aruna adalah istriku"ujar Arsenio dengan tatapan tajam.


Ardiaz tidak marah sama sekali, dia malah tersenyum.


"Maaf, aku hanya ingin bicara saja tadi karena melihat Aruna sendiri disini" jawab Ardiaz.


Aruna yang melihat tatapan tajam Arsenio kemudian merangkul lengannya.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Aruna mengalihkan pertanyaan.


"Belum, sebentar lagi. Kamu tunggu dulu ya. Davina juga belum selesai" jawab Arsenio yang sepertinya sudah sedikit menurunkan kadar emosinya.


Aruna pun mengangguk.


Tapi anehnya Ardiaz malah masih berdiri disana. Arsenio bingung sepertinya apa mau Ardiaz.


"Arsen, bisa aku lihat tangan kirimu" ucap Ardiaz tiba-tiba.


Dengan reflek Arsenio menyembunyikan tangan kirinya.


Ardiaz pun menjadi curiga. Bukan tanpa alasan Ardiaz ingin melihat tangan Arsenio. Dia melihat sesuatu disana. Ada sesuatu di tangan kiri Arsenio dan untuk membuktikan kecurigaannya dia ingin melihat secara langsung. Tapi ternyata Arsenio malah menyembunyikan tangannya.


"Maaf aku masih ada kerjaan, kalau kamu sudah tidak ada kerjaan kamu bisa pulang lebih dulu" ucap Arsenio sambil merangkul Aruna menuju tempat lain sambil menunggu.


Ardiaz semakin curiga dengan sikap Arsenio.


"Jangan...jangan..." ucapan Ardiaz dalam hati terpotong saat Davina dengan riangnya menghampiri Aruna dan Arsenio.


"Aku sudah selesai, ayo kita pulang" ajak Davina.


"Tunggu aku sebentar lagi" titah Arsenio.


"Kalian tunggulah disana" Imbuhnya.


Davina dan Aruna pun menuju tempat yang ditunjuk Arsenio tadi.


Ardiaz dengan kecurigaannya mengikuti Aruna dan Davina dengan menekan urat malunya walau Arsenio dari tadi sudah melayangkan tatapan membunuh.


"Kenapa kamu masih disini?" tanya Arsenio kesal.


Ardiaz menggunakan otak cerdasnya untuk mencari alasan yang tepat, tapi melihat tatapan mata Arsenio membuat Ardiaz tidak bisa berpikir jernih.


"Lebih baik kabur dan mengintai dari jarak jauh" putus Ardiaz kemudian.


"Ya sudah, sana..." usir Arsenio.


Ardiaz menurut dan pergi dari sana. Tapi dia tidak benar-benar pergi, dia mengamati dari jauh.


Aruna dan Davina menunggu disebuah gazebo dengan dahi berkerut bingung.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka?" tanya Davina pada Aruna. Dia penasaran kenapa Arsenio seketus itu. Walau memang sudah biasa dia seperti itu. Dan Ardiaz juga bersikap aneh. Ini kali ketiga Davina bertemu dengan Ardiaz. Dia belum bisa menyimpulkan bagaiama Ardiaz itu.


Baru satu kata saja yang dia bisa simpulkan.


Tampan.


"Tadi saat menunggumu di taman, Ardiaz datang dan mengajak ku berbicara, Arsenio melihat itu. Arsenio hanya tidak ingin ada yang salah paham" jelas Aruna.


Davina pun menganggukkan kepala mengerti.


"Kakak ku itu memang pencemburu" ucap Davina terkekeh.


"Benarkah? Apa mungkin dia cemburu? Dia bahkan tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku" kata Aruna tidak percaya.


"Ck.. Kalau ini. Masak tidak bisa merasakannya? Aku yang tidak berpengalaman dengan cinta saja paham kalau kakak ku itu mencintaimu" Davina berdecak sebal saat mengatakannya. Pasalnya baik Arsenio maupun Aruna sama-sama meragukan perasaan pasangan masing-masing. Padahal sudah jelas mereka berdua saling mencintai.


Menurut Davina tidak mungkin seseorang tanpa cinta bisa melakukan hubungan suami istri.


Titik no debat ! Itu lah Davina.


Tanpa mereka sadari Ushi sudah ada diantara mereka. Ushi memperhatikan dua gadia di depannya.


"Siapa gadis manis ini Davina?" pertanyaan Ushi membuay Davina dan Aruna terkejut.


Mereka berdua kompak berdiri dan memberi hormat.


Sungguh tidak sopan mereka bisa tidak menyadari Ushi ada disana.


Bersambung...