
Happy reading ❤️😍
Sesuai janjinya kemarin, Aruna mendandani Harmony dengan sangat lihai. Semakin hari kemampuan merias Aruna semakin mahir, walau tanpa zanna dia bisa merias seseorang begitu cantik.
Harmony terlihat begitu cantik pagi ini. Rambutnya digelung asal dengan anak rambut dibiarkan terurai indah.
“You look Gorgeous !” Puji Aruna.
Harmony melihat penampilannya di cermin. Wajahnya yang memang cantik semakin terlihat cantik berkat riasan dari Aruna.
“Thanks Runa” kata Harmony sambil memeluk Aruna. Aruna sendiri tak kalah cantik. Rambutnya dia kepang dan makeup natural seperti biasa menghiasi wajahnya. Saat menemui ketiga temannya di ruang makan, Baron sampai tidak bisa berkedip melihat dua bidadari cantik menghampiri dirinya.
Yuanda seperti biasa akan bersiul sedangkan Arsenio melirik sekilas kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yaitu bermain dengan wizz kesayangannya. Sepertinya dia sedang chatingan dengan Davina. Rencananya mereka akan bertemu setelah mengantar Aruna pulang.
...
Mereka berlima sudah berada di dalam Ayglo milik Baron. Ayglo dengan harga fantastis yang hanya dimiliki segelintir orang. Keluarga Baron memang terkenal kaya raya walau bukan salah satu anggota kepemerintahan. Diduga kekayaan keluarganya berasal dari hasil berbagai sektor salah satunya mereka memiliki pabrik parfume terbesar di kota Galen. Salah satu produsen parfume yang Aruna pilih sebagai pemasuk jualannya. Baron tidak tau siapa saja yang mendistribusikan produknya karena dia memang tidak terjun langsung pada perusahaan.
Dalam hitungan menit saja mereka sudah sampai di tepi pantai. Tempat mereka menghabiskan hari libur.
Baron mengajak teman-temannya untuk naik ke Ayglo yang memang digunakan untuk berkeliling di lautan luas (kita menyebutnya kapal laut).
Aruna naik ke atas Ayglo dibantu Yuanda. Dia berdiri di pinggir Ayglo sambil bersandar didinding yang terbuat dari besi putih.
Dari tempatnya berdiri, Baron mengambil beberapa potret Aruna yang menurutnya berada di posisi yang pas.
Yuanda yang melihat itu langsung saja mendelik pada Baron.
Tapi sedetik kemudian dia ikut melihat hasil karya Baron di wizz milik Baron itu.
"Perfect" Yuanda berkomentar.
"Kamu benar" kata Baron menimpali.
Tak jauh dari tempat Aruna berdiri terlihat Arsenio baru saja menghubungi seseorang. Dia kemudian menghampiri Aruna yang sedang melihat pemandangan laut seorang diri karena mereka berlima memang berpencar dengan urusan masing-masing.
"Mana Harmony?" tanya Arsenio pada Aruna karena dia tidak melihat Harmony sejak mereka menaiki Ayglo.
Aruna pun celingak celinguk mencari Harmony. Tadi Aruna begitu bersemangat karena teringat dengan kenangannya bersama Ardiaz dulu. Mereka beberapa kali berkeliling pantai sambil memancing ikan. Jadinya dia tidak sadar kalau berjalan sendirian.
"Aku disini" Harmony melambai dari lantai 2. Rupanya dia dari tadi mengambil potret pemandangan dari atas sana. Dia juga mengambil foto Baron yang diam-diam mempotret Aruna, foto Yuanda yang terlihat sebal pada Baron, Foto Aruna yang melamun serta foto Arsenio yang sedang menghubungi seseorang.
Aruna ikut melambai dan tersenyum pada Harmony.
"Sepertinya kita harus kembali lebih cepat. Aku ada urusan dengan Davina" kata Arsenio pada Aruna. Aruna pun mengangguk mengerti. Baron dan Yuanda sudah duduk di salah satu kursi di pinggiran Ayglo, yang lain pun menyusul kesana.
"Aruna, apa kamu tidak kesepian tinggal sendiri?" tanya Baron penasaran.
Aruna tersenyum kemudian menggeleng.
"Tidak, aku punya banyak teman disana, salah satunya Davina." jawab Aruna.
"Ya aku tau Davina dari desa itu, aku beberapa kali pernah bertemu dengannya" sahut Yuanda.
"Dimana?" tanya Arsenio penasaran.
Harmony yang melihat itu sangat yakin kalau Arsenio sedang cemburu karena ada yang pernah berhubungan dengan Davina selain dirinya.
"Di kediaman Usha. Dia kan salah satu perias Ushi dan perancang busanyanya juga" jawab Yuanda yang diangguki paham oleh Arsenio.
Kini Aruna yang terkejut. Ternyata orang-orang terdekatnya berhubungan dengan Usha. Aruna semakin takut saja. Semoga rahasianya bisa tersimpan selamanya.
...
Pukul 3 sore Aruna dan Arsenio sudah sampai dirumah Davina. Arsenio tidak langsung mengantar Aruna pulang tapi sengaja mengajak Aruna mampir karena Davina berpesan untuk mengakak Aruna sekalian ke rumahnya.
Aruna pernah bertanya pada Davina dimana mengenal Arsenio hingga bisa sedekat sekarang dan jawaban Davina hanya dengan kekehan saja sehingga membuat Aruna bingung.
"Selamat datang" sapa Davina Riang saat Aruna dan Arsenio masuk ke rumahnya. Dia langsung menarik tangan Aruna menuju ke ruang santai.
"Aku membuat brownies kesukaan Nio. Kamu harus coba juga" setelah mengatakan itu Davina kemudian pergi ke dapur untuk mengambil kue yang dia maksud.
Aruna duduk di sofa single, di depannya Arsenio duduk dengan nyaman sambil memainkan wizz miliknya. Tidak ada obrolan diantara keduanya, tapi tidak juga canggung seperti dulu-dulu.
Tak lama Davina datang dan meletakkan brownies di atas meja.
"Ayo dimakan Aruna" kata Davina riang sekali. Raut wajahnya terlihat begitu bersinar.
"Terima kasih Davina" kata Aruna lalu mencoba brownies buatan Davina.
"Bagaimana?" tanya Davina yang menunggu oe dapat Aruna.
"Enak" jawab aruna sambil memperlihatkan jempolnya.
"Syukurlah. Ini brownies kesukaan Arsenio. Semoga kamu juga suka" kata Davina.
"Oh iya, aku punya kamera baru. Tolong fotoin ya Nio" .
Tanpa menunggu jawaban Arsenio, Davina langsung saja mengambil kamera di kamarnya.
Sedikit berlari dia memasuki kamarnya hendak mengambil Kamera yang dia maksud. Secepat kilat dia sudah kembali dan meminta Arsenio untuk mengambil potret dirinya.
"Sweet banget sih " batin Aruna.
"Gini banget nasibku, selalu jadi obat nyamuk" Aruna kembali berguman dalam hati.
Mungkin ini yang namanya cinta. Arsenio bisa berubah 180 derajat ketika bersama Davina.
"Mana hasilnya" pinta Davina. Arsenio pun memperlihatkan hasil potretnya.
"Hebat " ucap Davina sambil menghadiahi kecupan di pipi Arsenio.
Glek. Aruna menelan ludah paksa.
"Ya ampun, mereka lupa kalau disini ada aku" batin Aruna ngenes.
"Sekarang giliran Aruna, foto dia Nio" pinta Davina.
Aruna yang masih bengong tidak menyadari kalau Arsenio sedang mengambil gambarnya.
"Cantik sekali... Tidak siap saja dia secantik ini" puji Davina saat melihat hasil jepretan Arsenio.
Arsenio kembali mengambil foto Aruna.
"Senyum" pinta Arsenio pada Aruna.
Tentu saja Aruna menjadi gugup di begitukan oleh Arsenio apalagi tatapan matanya seperti biasa sangat membunuh. Seperti ingin menguliti musuhnya hidup-hidup. Sangat berbeda ketika dia berhadapan dengan Davina.
Aruna memaksakan tersenyum saat Arsenio mengambil gambar dirinya.
"Yang ikhlas" kata Arsenio memerintah.
Aruna menghela nafas berkali-kali kemudian menampilkan senyum termanisnya.
Cekrek.
Arsenio tersenyum tipis melihat hasil karyanya.
Bersambung.