Magic

Magic
Pengantin Baru



Aruna menyelesaikan merapikan bajunya dengan cepat. Setelahnya dia turun ke dapur untuk memasak makan malam. Aruna celingak celinguk mencari keberadaan Arsenio tapi tidak terlihat badang hidungnya.


"Kemana dia?" tanya Aruna pada diri sendiri.


Dia kemudia mulai memasak sesuai bahan-bahan yang tersedia di lemari pendingin.


Kebetulan di kulkas ada daging sapi dan kentang. Jadi Aruna akan memasak steak dan mashed potato. Tidak lupa dia juga merebus wortel dan buncis sebagai pelengkap. Selagi memanggang daging, aruna mulai membuat sausnya. Saus yang tidak terlalu pedas karena selain dia tidak bisa memakan pedas, Arsenio juga tidak suka makanan pedas. Tentu saja ia mengetahuinya sejak kenal dekat dengan Davina. Davina tau apapun tentang Arsenio, mengingat Davina kembali membuat Aruna bersedih.


"Ya Tuhan, aku tidak mau kehilangan teman sebaik Davina" doa Aruna dalam hati.


Tidak ingin larut dalam kesedihan, Aruna lalu menguatkan diri sendiri dan mulai memahami maksud Arsenio menikahinya.


Arsenio yang seorang kapten dan dipercaya untuk mengusut kasus pencurian zanna beberapa tahun silam harus dihadapkan dengan kenyataan orang itu adalah temannya sendiri. Arsenio harus memastikan kalau apa yang Aruna ceritakan kalau dia tidak terlibat harus terbukti kebenarannya. Menjadikan Aruna sebagai istri dengan tujuan mengikat agar Arsenio bisa memantau 24 jam memang lebih mudah bila mereka menjadi pasangan suami istri. Selain untuk melindungi Aruna, juga untuk menghindari kecurigaan bila tinggal bersama tanpa hubungan apapun.


Tentu saja Arsenio sudah memikirkannya denga baik. Tapi lagi-lagi teman baiknya harus berkorban hidup gara-gara zanna yang dia miliki. Padahal harusnya Arsenio dan Davina bisa naik kepelaminan karena saling mencintai.


Pikiran-pikiran seperti itulah yang memenuhi kepala Aruna.


Hampir satu jam Aruna berkutat di dapur. Setelah siap dia membawa steak yang masih panas itu ke meja makan.


Mungkin karena mencium aroma masakan. Arsenio tiba-tiba saja sudah ikut masuk ke ruang makan.


"Masak apa?" tanya Arsenio yang baru saja datang. Pertanyaan basa basi karena dia sudah melihat sendiri apa yang tersedia diatas meja.


Arsenio hanya mengangguk saja, dia pun menarik kursi dan duduk disana. Arsenio menghirup aroma steak yang terlihat menggugah selera itu.


"Ini tidak dibuat dengan zanna kan?" tanya Arsenio saat daging itu lolos masuk ke mulutnya.


"Tentu saja tidak, walau memiliki zanna aku tidak selalu menggunakannya" jawab Aruna.


"Baguslah, aku tidak suka mempunyai istri yang malas yang hanya menggunakan kekuatannya saja" jawab Arsenio sambil kembali memasukkan steak ke mulutnya. Rasanya masakan Aruna akan menjadi masakan favoritnya.


Aruna tidak membalas kata-kata Arsenio, tidak mau berdebat di awal pernikahan mereka.


Tapi Aruna memang berkata sesunghuhnya, dia tidak selalu menggunakan kekuatan itu, hanya ketika kepepet saja baru dia gunakan.


Selesai makan Aruna membersihkan peralatannya. Dia sedikit ragu untuk naik ke dalam kamar. Tapi melihat tubuh lengketnya dengan terpaksa dia pun harus masuk dan mandi.


Aruna sangat takut Arsenio menerkamnya. Tapi dia juga ragu. Mana mungkin orang yang tidak mencintainya akan menagih hak sebagai suami?.


Saat membuka pintu ternyata Arsenio sedang duduk di balkon sambil memainkan wizz miliknya. Melihat itu Aruna langsung saja mengambil peralatan mandi untuk di bawa ke kamar mandi.


Saat akan menutup pintu, tangan Arsenio menghalanginya. Dengan seringai nakal Arsenio mendorong pintu dan ikut masuk ke kamar mandi.


Bersambung...