Magic

Magic
Ada Syaratnya



“Arsen… aku mohon. Dengarkan penjelasan ku dulu” Aruna sampai berlutut di depan Arsenio.


Aruna menangis tersedu-sedu karena Arsenio terlihat sangat marah padanya.


“Aku tidak pernah menginginkan memiliki ini Arsen” Aruna kembali bersuara.


Arsenio merasakan kepalanya mau pecah dan dadanya bergemuruh hebat. Tidak pernah dia merasa semarah ini. Selain marah dia juga kecewa karena Aruna menutupi fakta ini darinya.


"Maafkan aku Arsen" ulang Aruna. Wajahnya sudah sangat basah oleh air mata.


“Kenapa harus kamu Aruna? Kamu tau aku mendapatkan kepercayaan dari Usha untuk mengusut orang asing yang memiliki zanna. Dan kenapa harus kamu?” Arsenio mengungkapkan kekecewaannya. Dia pun pergi begitu saja meninggalkan Aruna.


Aruna langsung saja mengejar Arsenio. Dia bahkan melupakan anal kecil yang baru saja dia tolong hingga tanpa sadar menggunakan zanna yang dia miliki dan berakhir dengan bertambah lagi satu orang yang tau kalau dia memiliki zanna.


"Arsen... Tunggu" Aruna berlari sambil memanggil-manggil nama Arsenio.


"Dengarkan aku Arsen" mohon Aruna.


Arsenio dan Aruna kini berada di tanah lapang.


"Arsen...aku mohon dengarkan aku" Aruna berusaha mendekat pada Arsenio.


"Stop!" bentak Arsenio." Jangan mendekat!" bentaknya lagi.


Ini adalah kali pertama Aruna melihat Arsenio semarah ini. Wajah putih Arsenio pun terlihat memerah.


Aruna kembali berlutut.


"Arsen, aku tidak meminta untuk mempunyai zanna, aku tidak sengaja memilikinya Arsen. Saat itu Paman Mario sekarat karena Ibu memukul kepalanya dengan batu dan karena iba aku memegang tangan Mario dan zanna berpindah padaku, Aku bersumpah Arsen" Aruna kembali menangis dengan terisak.


"Ceritakan semua padaku" kata Arsenio dengan tatapan membunuh.


Aruna pun mulai bercerita persis seperti yang dia ceritakan dulu pada Ardiaz.


"Aku berbicara jujur Arsen, untuk apa aku berbohong. Aku bahkan kehilangan semua keluargaku karena kekuatan ini Arsen. Aku berkata sejujurnya. Aku mohon Arsen. Percayalah padaku" Aruna terus saja memohon.


"Sementara aku anggap ceritamu benar. Tapi tidak tidak semudah itu aku mempercayaimu. Aku ini abdi negara yang akan selalu melindungi Usha dan juga rakyatnya dari orang-orang yang berniat jahat" Arsenio sudah sedikit melunakkan ucapannya. Walau masih terdengar ketus ditelinga.


"Siapa saja yang tau kalau kamu memiliki zanna?" tanya Arsenio pula.


Aruna diam, tepatnya takut menjawab.


"Jawab!" bentak Arsenio.


"Hanya Ardiaz yang tau" jawab Aruna dengan menunduk.


Arsenio tersenyum muak.


"Secinta itu dia padamu sampai menutup semua ini dari Usha. Padahal dia seorang abdi negara sama seperti ku. Hebat sekali kalian" Arsenio semakin geram setelah mendengarkan kenyataan yang lain.


"Aku mohon Arsen, maafkan aku. Aku berani sumpah, aku tidak pernah bekerja sama dengan Paman Mario".


Aruna mengatupkan tangan di depan dada sebagai permohonan maaf.


"Aku tidak akan melaporkan ini pada Usha, tapi ada syaratnya." kata Ardiaz dengan menatap tajam mata Aruna.


"Apa itu Arsen, aku akan mengusahakannya" Aruna bertanya penuh mohon.


"Menikahlah dengan ku" jawab Arsenio dengan tatapn dingin.


Deg.


Rasanya jantung Aruna berhenti berdetak.


Syarat yang diberikan Arsenio terlalu berat, apalagi Aruna sangat tau siapa wanita yang Arsenio cintai.


"Kenapa tidak mau?" Arsenio mengatakan dengan tersenyum muak.


"Kenapa harus menikah Arsen, kamu kan tidak menyukaiku. Harusnya kamu menikah dengan orang yang kamu cintai".


"Ini bukan masalah cinta atau tidak, tapi aku harus memastikan apa yang kamu ucapkan itu benar" jawab Arsenio tegas.


"Tapi tidak harus dengan menikah" tolak Aruna.


"Kamu tinggal pilih saja, menikah dengan ku atau aku akan laporkan kalian pada Usha. Kira-kira hukuman apa yang akan Usha hadiahi untuk kalian berdua? Dan bagaimana kira-kira nasib keluarga Ardiaz?" Arsenio menunjukkan sisi berbedanya.


"Arsen, jangan lakukan itu. Aku mohon" Air mata Aruna rasanya sudah habis tak bersisa.


"Iya atau tidak. Hanya itu pilihanmu" geram Arsenio.


"Hu...hu..hu..." Aruna kembali menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak mungkin mengorbankan Ardiaz lagi, dia sudah terlalu banyak berkorban"batin Aruna sedih.


"Baiklah Arsen, aku bersedia" jawab Aruna pasrah.


"Bagus, aku harap kamu mengerti. Aku sudah memegang sumpah untuk melindungi Usha. Jadi apapun akan aku lakukan" kata Arsenio sambil membangunkan Aruna yang masih berlutut.


"Bangun, kita ke cacatan sipil sekarang. Pernikahan kita akan dilaksanakan hari ini juga" ucap Arsenio tak terbantahkan.


Jeduarrr..... Rasanya ada kembang api besar yang meledak di tubuh Aruna.


Arsenio tidak memberinya waktu sedikitpun.


Padahal dulu Aruna bermimpi untuk menikah dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya.


Bersambung...