Magic

Magic
Mencari Mario



Keesokan harinya di tepi pantai di kota Galen, Aruna dan Arsenio berjalan beriringan menikmati udara pagi yang segar dan bersih itu. Hari ini mereka akan mencari keberadaan Mario. Dalang dari masalah yang terjadi. Tapi sungguh mereka tidak tau harus mencari kemana. Nenek satu-satunya saksi kunci telah meninggal.


“Aku tidak kenal paman Mario dan tidak tau keluarganya. Aku hanya dengar dari nenek kalau dia dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi aku tidak tau dimana tempatnya” ucap Aruna.


“Kalau kita berusaha, pasti ada jalan” Arsenio menguatkan istrinya.


“Sebenarnya walau kita tidak berhasil menemukan nya. Kita bisa hidup berdua tanpa restu kedua orang tuaku. Aku sudah terbiasa hidup tanpa mereka. Jadi tidak masalah walau mereka tidak merestui kita” ucap Arsenio terkesan cuek.


“Sebenarnya bukan pengakuan Usha yang aku inginkan Nio. Aku hanya tidak ingin beliau menganggap aku orang yang telah mencuri zanna. Aku ingin hidup tenang” ucap Aruna. Aruna memang tidak berharap orang tua Arsenio menerima dirinya karena sangat mustahil. Dia sadar akan statusnya yang hanya orang kelas bawah. Dia tidak pernah bermimpi menjadi anggota keluarga Usha.


Arsenio merangkul pundak Aruna.


“Iya sayang, mari kita buktikan kalau kamu tidak bersalah” ucap Arsenio kemudian menghadiahi kecupan dipelipis istrinya itu.



Setelah sarapan, Aruna dan Arsenio mengunjungi rumah sakit jiwa yang paling dekat yang ada di kota Galen. Di Galen hanya terdapat 2 rumah sakit jiwa, jadi bila di kedua rumah sakit jiwa itu nihil, maka mereka akan melanjutkan pencarian ke kota Laiz.


Rumah sakit jiwa pertama yang mereka kunjungi terletak kurang lebih 30 km dari rumah. Memerlukan hampir 1 jam untuk menuju lokasi tersebut. Dengan Ayglo yang baru saja mereka sewa, Aruna merasa sedikit gugup. Aruna tidak tau Mario orangnya seperti apa dan apakah dia mau berkata dengan jujur bila ditanya nanti.


“Tidak usah cemas, semua akan baik-baik saja” hibur Arsenio.


Aruna pun menganggukkan kepalanya. Berulang kali dia menarik dan mengeluarkan nafas saking gugupnya.


Saat tiba di Rumah Sakit jiwa, tanpa diduga mereka menangkap sosok yang mereka kenal. Andrea datang bersama seorang pria entah untuk menemui siapa. Aruna dan Arsenio sengaja menunggu di dalam Ayglo hingga sosok Andrea tak terlihat lagi.


“Siapa yang dia kunjungi disini?” guman Arsenio pelan.


Aruna menggeleng sebagai jawaban.


“Kita ikuti dia bagaimana?” tanya Arsenio menawarkan ide.


Arsenio menggunakan kekuatan zannanya untuk membuat orang melihat mereka sebagai orang lain. Jadi saat Andrea melihat mereka, Andrea tidak akan mengenalinya.


Arsenio dan Aruna turun dari Ayglo dan mengikuti Andrea secara natural. Mereka tidak mengobrol karena takut Andrea mengenali suara mereka. Andrea ternyata masuk ke salah satu ruangan khusus yang tidak bisa dimasuki sembarang orang.


“Bagaimana ini?” Tanya Aruna setengah berbisik.


Arsenio berpikir sebentar, kembali dia gunakan zanna untuk membuat penjaga ruangan itu pikirannya menjadi kosong. Setelah berhasil, Arsenio dan Aruna masuk ke dalam ruangan itu. Disana ternyata ada Andrea, Pria asing dan seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti kehilangan akal sehat.


“Siapa kalian?” Tanya Andrea sinis.


Rupanya salah satu kerabat Andrea ada yang kehilangan kewarasannya dan ditutupi dari public.


“Maaf kami salah masuk ruangan” ucap Arsenio seraya menundukkan kepala. Suaranya dia buat seaneh mungkin. Dia langsung menarik Aruna untuk keluar dari ruangan itu agar Andrea tidak curiga.


Tapi tentu saja Andrea tidak percaya begitu saja, dia mengejar kedua orang asing yang berani masuk keruangan khusus dimana ibu kandungnya dirawat. Ternyata Ibu kandung Andrea menjadi gila karena Ayah Andrea berselingkuh dengan istrinya yang sekarang. Hal itu terjadi sebelum Ayah Andrea menjadi orang Qabil. Tidak ada yang tau kalau Qabil mempunyai 2 istri. Hal ini ditutup rapat agar reputasi qabil galen tidak rusak.


Hal ini tentu mengundang amarah Andrea karena ada orang asing yang berani masuk ke ruangan ibunya. Dengan cepat Arsenio dan Aruna bersembunyi dari kejaran Andrea. Arsenio kembali menggunakan zannanya untuk merubah wajah dan penampilan mereka menjadi orang yang berbeda lagi.


“Kemana perginya mereka? Dan kenapa mereka bisa masuk?” Tanya Andrea kesal.


“Sayang…” panggil seseorang yang tadi ikut di dalam bersama Andrea.


Aruna dan Arsenio berpandangan.


“Sayang?” guman mereka pelan.


Mereka jadi tau kalau selama ini Andrea telah menduakan Ardiaz.


Bersambung...