Magic

Magic
Penolakan



Selesai berbincang dengan Ushi, Aruna dan Arsenio berpegangan tangan menuju ruang kerja Usha. Mereka akan meminta maaf atas apa yang sudah mereka perbuat.


Setelah dipersilahkan masuk oleh sekretaris Usha, Arsenio dan Aruna pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.


Saat masuk Usha sedang berdiri membelakangi mereka.


"Katakan cepat apa yang ingin kalian ucapkan" ucap Usha tanpa menoleh ke arah mereka.


Deg.


Rasanya baik Aruna dan Arsenio tidak bisa berkata apa-apa. Seperti ini saja mereka sudah paham kalau Usha tidak menerima permohonan maaf mereka.


Arsenio menghela nafas sebelum berbicara.


"Ayah, maaf kalau aku selama ini sudah mengecewakan Ayah. Hari ini aku ingin memperkenalkan istriku pada Ayah. Maaf kalau cara kami menikah tidak sesuai dengan keinginan Ayah" ucap Arsenio memulai pembicaraan.


Usha tetap tidak membalik tubuhnya.


"Maafkan kami Ayah. Tapi kami saling mencintai. Aku harap Ayah mau merestui hubungan kami" mohon Arsenio.


Aruna yang disebelahnya hanya bisa menggenggam erat tangan Arsenio. Dia sama sekali tidak berani berucap satu patah katapun.


"Silahkan keluar" tegas Usha sambil menunjuk pintu. Usha masih enggan menatap wajah anak dan menantunya.


"Maafkan kami Ayah" ucap lagi Arsenio sebelum meninggalkan ruangan Usha.


Dia menuntun istrinya keluar dari sana. Penolakan Usha membuat Aruna syok. Rasanya ada ketakutan yang luar biasa dalam dirinya.


"Jangan dipikirkan. Yang penting kita sudah meminta maaf" ucap Arsenio menghibur istrinya. Mereka berdua pun kembali ke kota Galen dan melanjutkan hidup mereka disana.


...


Di kediaman Usha, Ardiaz dan rekan yang lain sedang berlatih senjata api. Mereka memang secara rutin melakukan itu. Selama ini team yang dipimpin oleh Arsenio tidak memiliki kapten. Jadi terpaksa untuk sementara waktu mereka bekerja secara otodidak karena kapten mereka meninggalkan tugas dalam kurun waktu yang belum bisa dipastikan.


Dari tempatnya duduk, dia melihat ada seorang gadis cantik sedang mencium bunga mawar kuning yang ada di taman itu. Gadis itu mengenakan baju kuning gading dan sangat serasi dengan bunga mawar yang sedang diciuminya itu. Pandangan Ardiaz tidak bisa lepas dari gadis cantik yang mampu membius hatinya karena dia begitu terpesona.


Gadis itu bagaikan bidadari yang turun dari khayangan. Ardiaz terus pandangi gadis itu hingga dia tersadar siapa sebenarnya gadis cantik itu.


Dia adalah saudara kembar dari Arsenio, siapa lagi kalau bukan Davina. Putri satu-satunya dari Usha dan Ushi di Pulau Osmond.


Davina yang merasa diperhatikan langsung menatap ke arah Ardiaz.


Davina dan Ardiaz bertatapan cukup lama. Dada keduanya tanpa sadar berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya.


"Ada apa denganku?" batin mereka kompak.


Baik Davina maupun Ardiaz masih terus saling berpandangan tanpa ada yang berniat untuk memutuskan pandangan terlebih dahulu.


Lama-lama Davina sadar siapa pemuda yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan itu.


"Ardiaz?" batin Davina.


Dia memang sudah 2 atau 3 kali pernah bertemu Ardiaz tapi dia tidak pernah melihat dengan jelas seperti sekarang.


"Ternyata Ardiaz manis juga" ucap Davina terkekeh dalam hati.


Acara pandang-pandangan harus berakhir karena ada seseorang yang mencari keberadaan Ardiaz.


Ardiaz melengkungkan senyumnya sebelum meninggalkan taman.


Senyum itu pun dibalas dengan sangat manis oleh Davina.


Bersambung...