
Kini sudah satu bulan berlalu sejak insiden demo yang berakhir ricuh itu terjadi.
Aruna dan Arsenio masih melanjutkan hari seperti biasa, pagi-pagi Arsenio akan membantu Aruna membersihkan rumah sedangkan Aruna sendiri akan memasak dan mencuci pakaian.
Mereka membagi tugas agar pekerjaan bisa selesai tepat waktu.
Mengenai Andrea, kabarnya dia begitu syok atas apa yang terjadi pada keluarganya. Dia kini dirawat di rumah sakit jiwa karena tekanan mental yang dia alami.
Ternyata dia tidak sekuat Aruna, Aruna masih bida melanjutkan hidupnya walau dia hidup sebatang kara. Sedangkan Andrea dia sudah menjadi depresi padahal keluarganya masih utuh. Dia hanya kehilangan sebagian hartanya karena ada beberapa harta yang memang milik Ibu kandungnya masih tersisa.
Aruna tidak pernah membenci Andrea sedikitpun karena memang menurut Aruna Andrea tidak bersalah. Dia dan Ardiaz tidak memiliki hubungan apapun selain pertemanan. Jadi Ardiaz bisa bertunangan dengan siapa saja.
Tapi dengan Ardiaz tentu dia bersalah karena dia sudah memaksakan kehendaknya pada Ardiaz dengan kuasa Ayahnya saat itu.
"Aku tidak menyangka kalau Andrea bisa sampai depresi seperti itu" ucap Ardiaz yang saat ini sedang duduk berdua bersama Davina di taman bunga milik Ushi.
"Setiap orang memang memiliki batas kemampuan menghadapi masalah yang berbeda-beda. Semoga saja pelan-pelan dia bisa lebih menerima keadaan" ucap Davina menimpali.
Ardiaz pun mengangguk setuju.
"Walau dia sudah keterlaluan padaku dulu tapi tetap saja kasihan melihat dia seperti ini sekarang. Bagaimanapun dulu Aku, dia dan Aruna adalah teman baik" ucap Ardiaz ketika mengenang masa lalu.
"Aruna pun tidak pernah membicarakan tentang Andrea. Dia sudah memaafkan perlakuannya, walau dulu pernah ada berita kalau anak buah Ayah Andrea akan melakukan hal buruk pada Aruna tapi untung saja itu tidak pernah terjadi" ucap Davina pula.
Ardiaz menghela nafas berat.
"Semoga saja setelah ini Andrea benar-benar berubah" ucap Ardiaz sambil membawa Davina ke dalam pelukannya.
"Aku beruntung mendapatkan kamu disisiku. Mau menerima segala kekurangan yang aku miliki. Aku mencintaimu Davina" ucap Ardiaz sungguh-sungguh.
...
Arsenio dan Aruna sudah siap berangkat kerja. Semakin hari semakin banyak orderan yang mereka membuat keduanya benar-benar bersyukur. Walau hidup sederhana tapi mereka sangat bahagia. Satu hal saja yang masih kurang, yaitu diterimanya kata maaf mereka oleh Usha.
Arsenio tidak tau lagi bagaimana caranya meminta maaf. Yang dia lakukan sekarang hanya menunggu sampai rasa marah dan kecewa Usha mereda.
"Sayang apa kamu masih mencintaiku dengan perutku yang sudah semakin membesar ini?" tanya Aruna sambil mengelus perutnya yang kiaj membuncit.
Arsenio tersenyum, dia merapatkan diri dan mencium gemas perut istrinya.
"Bukankah kamu seperti ini karena ulahku?" Goda Arsenio dengan sambil menarik turunkan alisnya.
Aruna pun terkekeh geli melihat polah menggemaskan suaminya.
Pelan-pelan Arsenio semakin mendekat dan merapatkan wajahnya pada Aruna.
Mereka berdua kemudian berciuman dengqn begitu mesranya.
"Aku mencintai mu, istriku" ucap Arsenio tepat di atas bibir istrinya.
Aruna tidak menjawab. Dia malah mengalungkan tangannya pada leher Arsenio kemudian melabuhkan bibirnya di atas bibir Arsenio.
Dia mainkan lidahnya dan saling membelit satu sama lain. Ciuman yang lama-lama semakin menuntut dan menggebu.
..m