
Langit sudah berubah warna menjadi gelap tapi Arsenio belum juga menemukan Aruna. Dalam keterpurukannya itu Davina sang adik menghubunginya. Untuk pertama kali dalam hidupnya Arsenio mengeluarkan air matanya, bila Davina melihatnya mungkin dia akan tertawa dengan keras. Bahkan dulu saat masih kecil dan harus berpisah dengan orang tua serta adiknya, Arsenio tidak menangis seperti ini. Sekarang karena dia kehilangan istri dan calon anaknya, Arsenio merasa sangat terpuruk.
Cukup lama wizz nya berdering tapi Arsenio masih enggan menerima panggilan tersebut. Dia masih sangat bersedih dengan kehilangan Aruna disisinya.
"Harusnya aku tidak meninggalkannya seorang diri" sesal Arsenio.
Dering wizz milik Arsenio kembali berbunyi. Dengan terpaksa Arsenio pun menganggat panggilan tersebut.
Davina langsung mengumpat karena panggilan itu baru diangkat Arsenio.
"Kemana saja kamu? Aku dari tadi menghubungi mu? Aruna baik-baik saja kan?" tanya Davina beruntun. Saat mendengar kalau Mario telah kabur, Davina khawatir bukan main. Dia langsung menghubungi Aruna tapi sayang panggilan itu tidak bisa terhubung.
Bukan mendengar jawaban tapi hanya isak tangis yang Davina dengar.
Deg.
Jantung Davina ingin berhenti berdetak.
Bukan tertawa karena pertama kali dia mendengar Arsenio menangis tapi dia malah ikut menangis.
"Aruna...." ucap Davina meronta ronta.
Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Aruna.
Saat itu juga dia menutup panggilannya dan berlari menghampiri sang Ayah.
"Ayah...aku mohon. Bantu Nio menemukan istrinya. Baru kali ini aku mendengar Nio menangis. Kasihan Nio ayah" Davina sudah memohon-mohon. Sekarang hanya Ayahnya lah satu-satunya yang bisa membantu menemukan Aruna. Yang belum tau keberadaannya dimana.
Usha bergeming tanpa mengucapkan sepatah katapun dia pergi meninggalkan Davina.
Davina meluruhkan tubuhnya di lantai. Dia tutup wajahnya dengan kedua tangan dan dia menangis tersedu sedu.
Ushi yang melihat itu langsung saja memeluk putrinya.
"Tenanglah, semua pasti baik-baik saja" ucap Ushi menenangkan.
"Ibu, Aruna sedang mengandung. Dia cucu Ibu dan Ayah. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada cucu kalian?" kata Davina dengan terbata-bata karena sambil menangis.
Ushi mengelus-elus punggung putrinya.
"Arsenio menangis bu. Apa ibu pernah melihat dia menangis seumur hidupnya? Dia sekarang menangis dengan terisak bu, Aku ingin memeluknya dan menguatkannya. Ijinkan aku menemui Nio bu" mohon Davina.
Sama seperti Usha, Ushi pun tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
Dia melerai pelukannya dan meninggalkan Davina yang masih terduduk di lantai.
"Hu...hu...hu..." Davina masih terus menangis. Untung saja diruangan itu sekarang hanya ada dirinya. Jadi tidak akan ada yang menertawakan Davina yang menangis seperti anak kecil.
"Bagaimana keadaan mu Aruna? Bagaimana dengan calon keponakan ku?" ucap Davina.
Davina masih terus menangis dan menggerak-gerakkan kakinya seperti anak kecil. Saat menangis dan bersedih Davina memang seperti ini.
Ushi yang sebenarnya masih berdiri di depan pintu mendengar jelas apa saja yang diucapkan putrinya.
Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan semuanya ada pada suaminya.
Bila Usha bilang tidak maka dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi tadi Usha langsung pergi begitu saja, Ushi tentu tidak bisa melakukan apapun lagi.
Usha pasti sudah memikirkan baik buruknya dan sudah tau apa yang paling baik untuk semuanya walau kadang harus ada yang berkorban untuk itu.
Bersambung...