Magic

Magic
Dijemput



Hari ini Aruna mendapat tugas merias anak dari sepupu Usha yang bernama Dania. Wajahnya sangat cantik dan sebenarnya tidak perlu lagi riasan tebal, tapi Dania sangat suka dengan bold make-up. Aruna tetap menuruti keinginan klien walau dia tau makeup itu tidak cocok untuk Dania.


Dania tersenyum puas dengan hasil riasan Aruna.


"Terima kasih Aruna, sempurna" puji Dania.


"Terima kasih Nona" jawab Aruna sungkan.


"Seterusnya aku mau kamu yang rias aku ya" pinta Dania.


Aruna pun menganggukkan kepala tanda setuju.


Tak Terasa sudah jam 3 sore, itu Artinya Davina sudah bisa pulang. Urora memiliki 3 shift, pagi , siang dan malam. Selama 1 bulan ini Aruna akan kebagian shift pagi dulu.


Saat sedang merapikan meja rias, Arsenio masuk dan langsunh memeluk dari belakang.


Hampir saya Aruna berteriak saking terkejutnya.


"Ya ampun Nio, bikin kaget saja" ujar Aruna pelan. Tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. Aruna melepaskan belitan tangan Aesenio dari pinggangnya.


"Malu diliatin orang" bisiknya lagi.


Arsenio hanya terkekeh saja.


Selagi Aruna membersihkan sisa pekerjaannya, Arsenio memilih duduk di sofa yang tersedia.


Selesai beres beres dan berpamitan, Aruna menghampiri Arsenio kemudian mereka pulang bersama.


Sepanjang perjalanan mereka berpegangan tangan dan saling bercerita. Aruna tidak tau kenapa dia malah merasa sangat nyaman ketika bersama Arsenio, padahal Aruna tau kalau Arsenio lebih mendahulukan kepentingan Davina daripada dirinya.



Mungkin bisa dikatakan Aruna mulai memiliki perasaan pada Arsenio tapi bagaimana dengan Arsenio sendiri? Arsenio menikah karena kewajibannya yang harus melindungi Usha, apalagi dia masih terikat hubungan dengan Davina.


Membayangkan pekerjaan Arsenio dan tanggung jawabnya membuat Aruna sangat cemas. Bagaimana nasib Arsenio bila Usha mengetahui kalau istri dari kapten kepercayaannya lah orang yang mereka cari. Pemilik Usha curian. Apalagi Arsenio bekerjasama menutupi itu dari Usha.


Aruna tidak ingin Arsenio juga berkorban untuknya. Terlalu banyak orang yang berkorban karena Zanna yang bersemayam di tubuh Aruna.


"Aku harus bagaimana ya Tuhan?" batin Aruna mendadak sendu.


...


Sesampai rumah Aruna tidak banyak kata, pikirannya melayang entah kemana. Dia masih memikirkan bagaimana nasib Arsenio bila Usha sampai tau kalau istri dari kapten kebanggaannya ternyata menyimpan rahasia besar.


Tapi bukannya Usha harusnya merasa lega karena Usha sudah berpindah ke orang yang tepat? Bukan lagi orang serakah seperti Mario?.


Tapi dia sendiri belum berani mengatakan fakta itu pada Usha. Selain akses bertemu yang sulit walau bekerja disana, bagaimana tanggapan Usha nanti? Bagaimana kalau Usha tidak percaya? Aruna belum siap kalau harua di hukum mati. Memikirkan itu membuat Aruna sangat murung.


"Kenapa?" tanya Arsenio yang menyadari perubahan expresi wajah istrinya. Padahal tadi masih baik-baik saja.


"Apa kamu punya rencana untuk memberitau Usha tentang kekuatan yang aku miliki?" Aruna memilih jujur tentang apa yang dia pikirkan.


Arsenio terdiam sejenak. Dia pun masih memikirkan langkah apa yang akan dia ambil. Tentu tidak mudah meyakinkan Usha kalau cerita yang nanti akan dia sampaikan bisa langsung diterima.


"Aku masih memikirkan cara yang tepat. Sekarang tugas mu hanya satu. Jangan pernah perlihatkan kekuatan itu pada siapapun. Walau dalam keadaan terdesak sekalipun" terang Arsenio.


Aruna pun menganggukkan kepalanya. Dia akan menuruti apapun saran dari Arsenio karena sekarang Arsenio adalah tempatnya bersandar.


Bersambung...