Magic

Magic
Hari Pertama



Aruna merasakan ada sesuatu yang membelit tubuhnya. Pelan-pelan Aruna membuka mata dan melihat tangan kekar sang suami yang memeluk tubuhnya dari belakang. Aruna ingin sekali marah, sebagai istri dia berhak untuk marah karena Arsenio pergi untuk menemui perempuan lain. Walau mereka menikah bukan atas dasar cinta tapi tetap saja pernikahan mereka sah di mata hukum dan agama. Aruna sangat berhak untuk marah.


Ya… Aruna memakai alasan bahwa dia adalah istri yang sah dan berhak untuk marah bila sang suami berhubungan dengan wanita lain.


Pelan-pelan Aruna menyingkirkan tangan Arsenio yang memeluk dirinya dengan erat. Tangan itu sangat berat untuk dia angkat, tapi karena yang empunya masih terlelap tidur jadi dia tidak sadar kalau Aruna menyingkirkan tangannya.


Aruna bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Saat selesai mandi ternyata Arsenio masih tertidur. 


“Mungkin dia baru saja sampai” batin Aruna.


Aruna kembali melihat foto Arsenio dan Davina yang ada di atas nakas.


“Walau sudah menikah ternyata dia tetap memajang foto wanita lain?” guman Aruna sangat pelan.


Aruna kembali meletakkan foto itu dan hendak keluar tangan, tapi tangan kekar Arsenio dengan cepat menahannya dan menarik tangan Aruna hingga jatuh di atas dada bidang Arsenio yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


“Kenapa liatin foto itu?” bisik Arsenio dengan suara seraknya. Aruna yang gugup tidak bisa berkata-kata. Arsenio pasti bisa mendengar detak jantung Aruna yang berdegup kencang dengan jarak sedekat ini.


“Lepasin, aku mau masak” mohon Aruna pelan. Arsenio yang begitu dominan tidak mempedulikan permohonan Aruna. Dia malah mengikis jarak dan mulai me lu mat bibir yang semanis gula itu. Arsenio menjadi candu dan ingin lagi dan lagi. Arsenio baru melepas pa gu tan nya saat mereka mulai kehabisan nafas.


“Arsen, eh Nio” Aruna belum terbiasa memanggil Arsenio dengan sebutan Nio.


“Aku harus memasak karena hari ini hari pertamaku kerja” kata Aruna pelan sekali.


Arsenio kembali memejamkan matanya dengan tangan masih memeluk erat tubuh Aruna.


“Nio…nanti aku terlambat” ucap Aruna lagi.


“Hem…” Arsenio hanya berguman.


“Aku mohon, aku harus bekerja” mohon Aruna pula.


Arsenio membuka matanya. Dia pandangi wajah Aruna yang terlihat sembab.


“Kamu menangis?” bukannya melepas belitan tangannya, dia malah menanyakan tentang mata Aruna yang terlihat sembab itu.


Aruna menggeleng.


“Aku hanya kurang tidur” jawab Aruna berbohong.


Arsenio membelai pipi Aruna dan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantiknya.


Aruna pun hanya menganggukkan kepalanya.


Ingin sekali Aruna marah dan melarang Arsenio untuk berhubungan dengan Davina. Tapi apa boleh dia seegois itu? Aruna hanya orang ketiga yang masuk dalam hubungan antara Arsenio dan Davina yang sudah terjalin sejak lama.


“Kenapa diam saja?” tanya Arsenio sambil membelai wajah cantik istrinya.


Lagi dan lagi Aruna menggeleng sebagai jawaban.


Aruna sangat gatal ingin bertanya apakah Arsenio sudah mengatakan pada Davina kalau mereka sudah menikah tapi Aruna tidak berani.


“Aku antar bekerja ya” kata Arsenio yang tanpa pikir panjang langsung diangguki Aruna.



“Selamat pagi kak” Sapa Aruna pada rekan kerjanya di Urora.


“Selamat pagi , apa kamu Aruna?” tanya orang itu yang bernama Maira.


“Benar kak” jawab Aruna tersenyum ramah. Maira melihat pada tangan Aruna yang digenggam oleh Arsenio. Dia melihat bergantian pada Aruna dan Arsenio seolah bertanya-tanya ada hubungan apa diantara mereka berdua.


Maira tau siapa Arsenio karena mereka bekerja dengan boss yang sama. Walau mereka tidak berteman akrab.


“Dia istriku”jawab Arsenio diluar dugaan.


Aruna mendelik mendengar jawaban Arsenio.


“Benarkah?” tanya Maira diantara keterkejutannya.


Arsenio pun mengangguk dan merangkul pundak Aruna.


“Waw, aku sangat terkejut” ujar Maira sampai menutup mulut tidak percaya.


“Kapan kamu menikah Arsenio?” tanyanya pula.


“Kami pengantin baru” jawab Arsenio. Maria pun mengangguk paham. Aruna membeku di tempatnya, pengakuan Arsenio sangat diluar dugaannya.


Bersambung...