
Setelah menjelaskan yang sudah terjadi, Aruna meminta Ardiaz untuk mengantarnya ke villa.
"Apa kamu tidak rindu padaku?" tanya Ardiaz karena merasa belum puas berbicara dengan Aruna.
"Tentu saja aku rindu padamu. Tapi aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Apalagi kamu sudah bertunangan. Aku harus menjaga diriku agar tidak lagi mendapat masalah seperti kejadian setahun silam" jawab Aruna.
"Maafkan aku Aruna. Aku sangat menyesali apa yang sudah Andrea lakukan padamu" kata Ardiaz penuh sesal.
"Itu bukan salah mu Diaz, yang terpenting buatku adalah kamu bahagia dengan pilihanmu" kata Aruna sambil menepuk pundak Ardiaz pelan.
"Masalahnya aku tidak bahagia. Aku tertekan Aruna. Tapi untungnya kami jarang bertemu sehingga aku tidak semakin tersiksa" ujar Ardiaz penuh kejujuran. Dia ingin sekali mengakhiri hubungannya dengan Andrea tapi sekarang belum bisa. Akan banyak yang menjadi korbannya.
"Aku paham, tapi kalau kamu mencona menerima semua itu pasti tidak akan terlalu sulit, apalagi Andrea sebenarnya baik" Aruna menimpali.
Ardiaz malah tertawa mendengarnya.
"Kalau baik dia tidak akan bertindak sejauh ini" Ardiaz berkata dengan senyum muak.
"Aku capek Aruna, sangat capek" ardiaz membawa rambutnya kebelakang karena merasakan kepala yang berdenyut memikirkan sikap andrea yang sangat seenaknya.
"Selama setahun ini aku harus selalu memberi kabar minimal 3 kali sehari, seperti minum obat" imbuhnya.
"Apa yang dia harapkan pada hubungan penuh pemaksaan seperti ini? Tidak ada kenyamanan di dalamnya".
Ardiaz benar-benar mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Secara tidak langsung dia mengakui kalau selama ini pertunangannya dengan Andrea adalah atas dasar keterpaksaan.
"Aku selalu berdoa semoga dia jatuh cinta pada pria lain supaya aku bisa lepas dari nya".
Ardiaz langsung membawa Aruna dalam pelukannya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja Aruna, aku ingin mendapatkan ketenanganku kembali. Hanya kamu yang bisa memahami aku" mohon Ardiaz.
Aruna tidak membalas pelukan Ardiaz tapi dia tidak menolak ketika Ardiaz memeluknya begitu erat.
Punggung Ardiaz bergerak naik turun, pertanda dia sedang menangis. Entah siapa yang patut di salahkan, semua sudah terlanjur terjadi.
Inginnya Ardiaz memberontak tapi tentu dia tidak akan bisa menang. Ardiaz tipe orang yang memikirkan segala kemungkinan yang terjadi sehingga dia terlalu berhati-hati. Karena sifatnya itu dia yang harus mengalah seperti ini.
Tangan Aruna tergerak kemudian menepuk-nepuk punggung Ardiaz.
"Ingatlah selalu ada cahaya setelah badai" kata Aruna menghibur Ardiaz.
"Kamulah cahayu ku Aruna. Hanya kamu yang menjadi cahaya dihidupku" balas Ardiaz.
Aruna tidak menimpali lagi. Dia membiarkan Ardiaz meluapkan emosinya.
"Ayo aku antar kamu ke villa. aku juga harus kembali ke Laiz" kata Ardiaz saat dia sudah bisa menenangkan perasaannya.
"Kamu pasti bisa Diaz" lagi-lagi Aruna menyemangati Ardiaz.
Sebanarnya mudah saja bagi Ardiaz untuk terlepas dari andrea, tapi dia harus siap kehilangan semuanya. Tentu saja itu tidak mudah karena yang harus berkorban bukan hanya dia tapi seluruh keluarganya.
Dengan kekuasaannya Ayah Andrea akan membuat keluarga Ardiaz jatuh miskin. Semua unit bisnis yang dimiliki bisa di blacklist dan terancam gulung tikar. Satu-satunya cara hanya membuat Andrea sadar kalau perbuatannya selama ini salah. Tapi entah siapa yang bisa menyadarkannya.
Bersambung...